Senin, 06 APRIL 2026 • 11:08 WIB

Gubernur Pramono Anung Kebut Revitalisasi Pasar Gardu Asem dan Kramat Jaya Makin Modern

Author

Gubernur Pramono Anung Lakukan Peletakan Batu Pertama di Pasar Gardu Asem dan Pasar Kramat Jaya (Reza Pratama Putra/Berita Jakarta)

JAKARTA - Pernahkah kamu merasa enggan berbelanja bahan kebutuhan pokok ke pasar tradisional karena alasan becek, pengap, atau tingkat keamanannya yang kurang terjamin?

Kini, bersiaplah untuk membuang jauh-jauh stigma usang tersebut! Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini tengah mengebut sebuah langkah revolusioner untuk menyulap wajah pasar tradisional menjadi lebih bersih, aman, dan berkelas layaknya pusat perbelanjaan modern.

Tepat pada Senin (6/4/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek revitalisasi dua lokasi strategis sekaligus, yakni Pasar Gardu Asem di kawasan Jakarta Pusat dan Pasar Kramat Jaya di Jakarta Utara.

Langkah penting yang dipusatkan di Kemayoran ini bukan sekadar perbaikan tata letak atau fisik bangunan, melainkan sebuah lompatan besar untuk memperkuat urat nadi ekonomi warga ibu kota.

Acara groundbreaking yang digelar di area Pasar Gardu Asem, Kemayoran, menjadi bukti nyata keseriusan Pemprov DKI dalam memajukan infrastruktur kerakyatan.

Baca juga: Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Wajibkan HORECA Kelola Limbah Mandiri Demi Menjaga Lingkungan

Revitalisasi tahap ini merupakan bagian krusial dari cetak biru besar pemerintah untuk memodernisasi total 153 pasar tradisional yang saat ini sepenuhnya berada di bawah kendali pengelolaan Perumda Pasar Jaya.

Dalam sambutannya, Pramono tidak bisa menyembunyikan rasa antusias dan apresiasinya terhadap kinerja BUMD tersebut.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada Perumda Pasar Jaya yang saat ini mengelola 153 pasar. Dan saya menyetujui untuk beberapa pasar dilakukan revitalisasi, perbaikan, termasuk hari ini di tempat ini," ujar sang Gubernur.

Bagi Pramono, eksistensi pasar tradisional jelas melampaui sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli komoditas harian.

Lebih dari itu, pasar memegang peran yang sangat vital sebagai pusat interaksi sosial masyarakat yang guyub sekaligus roda penggerak utama kemandirian ekonomi kerakyatan.

Oleh sebab itu, ia menaruh harapan besar agar program revitalisasi bangunan dan sistem manajemen ini nantinya bisa diwujudkan secara merata di seluruh wilayah Jakarta.

Satu hal yang paling menonjol dari visi pembaruan ini adalah transformasi yang menyentuh hingga ke sistem transaksinya. Pramono menargetkan bahwa perubahan pasar tradisional harus sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi. Di era yang serba instan dan praktis ini, kebiasaan menggunakan uang tunai didorong untuk perlahan beralih ke sistem pembayaran digital atau cashless.

Menurut sang Gubernur, penerapan transaksi non-tunai di lingkungan pasar tradisional bukan hanya soal mengikuti tren zaman semata.

Hal ini diyakini menjadi langkah preventif yang sangat efektif untuk meminimalisasi potensi tindak kriminal di ruang publik, seperti peredaran uang palsu atau risiko pencopetan akibat membawa terlalu banyak uang tunai.

Transaksi digital memudahkan warga dan pedagang karena tidak perlu lagi repot menyiapkan uang kembalian.

"Saya berharap betul cara pembayaran dengan digital yang telah kita lakukan dan kita lombakan dan alhamdulillah berhasil dengan baik pada waktu itu meningkat 47 persen transaksinya juga menjadi lebih baik," tegas Pramono.

Angka lonjakan 47 persen tersebut membuktikan bahwa para pedagang pasar dan masyarakat luas sebenarnya sangat adaptif terhadap ekosistem digital asalkan diberikan fasilitas yang mendukung.

Implementasi transaksi canggih dipadukan dengan revitalisasi ini diharapkan menjadi role model kolaborasi sukses antara pemerintah daerah dan BUMD dalam menghadirkan dampak positif pada putaran ekonomi rakyat.

Baca juga: Pemkot Jaksel Keruk 36 Ribu Kubik Lumpur Kali Pesanggrahan Demi Cegah Banjir di Bintaro

Untuk menyulap sebuah pasar tradisional menjadi modern dengan standar tinggi, tentu dibutuhkan investasi yang matang.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan, membeberkan bahwa pembangunan kedua fasilitas publik ini memanfaatkan kucuran dana dari Penyertaan Modal Daerah (PMD).

Secara spesifik, proyek Pasar Kramat Jaya dibangun dengan menyedot anggaran sebesar Rp10,2 miliar. Sementara itu, untuk merevitalisasi Pasar Gardu Asem, anggaran yang dialokasikan mencapai Rp10,6 miliar.

"Tadi karena banyak kendala teknis dan alhamdulillah kita selesaikan semua masalah-masalah tersebut, bisa kita lakukan groundbreaking pada hari ini," ungkap Agus.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa sentuhan modernisasi ini sangat dibutuhkan demi meningkatkan pelayanan maksimal bagi masyarakat luas, baik untuk kenyamanan penjual maupun pembeli.

Nantinya, kamu akan dimanjakan dengan sederet fasilitas yang tak kalah dari mal.

Kedua pasar ini akan dilengkapi dengan musala yang sejuk, toilet umum dan toilet khusus disabilitas yang bersih, kelancaran suplai jaringan air PAM, hingga ketersediaan ruang laktasi bagi ibu menyusui.

Terdapat pula area parkir mobil dan motor yang memadai, sistem hidran untuk mitigasi kebakaran, pengawasan keamanan via CCTV 24 jam, pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi ramah lingkungan, serta pengelolaan tempat pembuangan sampah sementara yang higienis.

Khusus untuk Pasar Kramat Jaya, pengelola bahkan menghadirkan sarana olahraga di lantai dua dengan tetap menjaga identitas kearifan lokal pasarnya.

Bagi kamu yang mengkhawatirkan nasib para pedagang selama masa pembongkaran, Agus Himawan memberikan jaminan tegas.

Roda ekonomi masyarakat kecil diupayakan agar tidak terhenti di tengah jalan.

"Kami juga memastikan bahwa selama masa pembangunan Pasar Gardu Asem, para pedagang tetap difasilitasi untuk tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya melalui tempat penampungan sementara yang saat ini kita tempatkan di Pasar Nangka Bungur," jelasnya.

Pasar Gardu Asem sendiri berdiri di atas lahan seluas 1.735 m² dengan total 79 pedagang eksisting yang kini tengah direlokasi sementara.

Ke depannya, setelah bangunan baru rampung yang ditargetkan pada akhir Maret 2027, kapasitas pasar akan melonjak dengan tersedianya 80 kios modern dan 128 los.

Baca juga: Wagub Rano Karno Optimistis Jakarta Youth Film Festival 2026 Jadi Role Model Sineas Nasional

Kondisi berbeda terjadi di Pasar Kramat Jaya yang terletak di kawasan Cilincing. Karena proyek prestisius ini dikerjakan di atas bidang tanah kosong seluas 2.617 m², maka tidak ada proses relokasi pedagang.

Pasar ini akan dikembangkan secara khusus untuk menampung 49 kios baru bersandingan dengan arena fasilitas olahraga.

Pembangunan Pasar Kramat Jaya diproyeksikan akan selesai lebih cepat, yakni pada akhir Januari 2027.

Dengan wajah barunya nanti, pasar-pasar ini dijamin akan kembali menjadi primadona belanja warga Jakarta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU