Senin, 23 FEBRUARI 2026 • 16:33 WIB

Hype Padel Bikin Warga Jakarta Susah Tidur? Gubernur Pramono Anung Siap Tindak Tegas Jam Operasionalnya!

Author

Ilustrasi Raket Padel (Freepik)

JAKARTA - Pernahkah kamu terbangun di tengah malam gara-gara suara pantulan bola yang keras disusul teriakan orang-orang yang sedang berolahraga?

Bagi sebagian warga Ibu Kota, hal ini bukan lagi sekadar bayangan, melainkan gangguan nyata yang merampas waktu istirahat mereka.

Di tengah melesatnya popularitas olahraga padel di kalangan urban Jakarta, sebuah masalah baru muncul ke permukaan, yakni polusi suara di kawasan permukiman warga.

Menyikapi polemik yang semakin memanas di masyarakat ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya turun tangan dan menegaskan akan segera mengambil langkah penertiban yang tegas terkait waktu operasional lapangan padel yang berada tepat di jantung kawasan padat penduduk.

Olahraga raket yang merupakan perpaduan antara tenis dan squash ini memang sedang menjadi primadona.

Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Tetapkan Aturan Hiburan Malam Selama Ramadhan 1447 H, Cek Jam Operasionalnya Disini!

Dari kalangan selebritas, pekerja kantoran, hingga anak muda, semuanya seakan terkena Fear of Missing Out (FOMO) untuk menjajal lapangan padel.

Sayangnya, euforia gaya hidup sehat ini tidak selalu berbanding lurus dengan kenyamanan lingkungan sekitarnya.

Antusiasme yang tinggi membuat banyak lapangan padel beroperasi hingga larut malam.

Masalahnya, tidak sedikit dari fasilitas olahraga baru ini yang dibangun berhimpitan langsung dengan tembok rumah warga.

Gubernur Pramono Anung mengungkapkan bahwa meja kerjanya telah menerima rentetan laporan dan keluhan dari masyarakat di berbagai wilayah administratif Jakarta.

Kawasan-kawasan langganan macet dan padat hunian seperti Haji Nawi dan Cilandak di Jakarta Selatan, hingga Rawamangun di Jakarta Timur, menjadi titik panas keluhan warga.

Mereka memprotes keras aktivitas permainan yang sering kali bablas hingga tengah malam, menembus jam malam yang seharusnya menjadi waktu tenang bagi warga untuk beristirahat setelah lelah beraktivitas seharian di Jakarta.

"Dan itu saya yakin kalau masyarakat di sekitar Padel itu keberatan, pasti sangat terganggu. Bahkan ada yang bayinya satu setengah tahun, enggak bisa tidur karena malam-malam orang masih berteriak-teriak main padel, menurut saya juga nggak fair," jelas Pramono dengan nada prihatin.

Bayangkan saja, suara dentuman bola yang menghantam raket karbon secara konstan, ditambah gema dari dinding kaca pembatas lapangan, serta euforia teriakan para pemain, tentu menciptakan tingkat kebisingan (desibel) yang tidak wajar untuk sebuah area permukiman di malam hari.

Kasus bayi yang kesulitan tidur tersebut menjadi bukti nyata betapa krusialnya masalah ini untuk segera ditangani.

Tidak ingin membiarkan warganya terus-menerus kehilangan waktu tidur yang berkualitas, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merespons dengan cepat.

Pramono Anung secara terbuka menyatakan komitmennya untuk membatasi aktivitas yang mengganggu ketertiban umum tersebut.

"Jadi, tempat-tempat yang padat penduduk akan kami tertibkan jam penggunaannya," tegas Pramono.

Baca juga: Satu Tahun Kepemimpinan Pramono Anung-Rano Karno: DPRD DKI Jakarta Beri 4 Catatan Kritis, Apa Itu?

Sebagai bentuk tindak lanjut konkret, Balai Kota langsung dijadwalkan untuk menggelar rapat koordinasi khusus pada keesokan harinya.

Rapat ini tidak hanya akan membahas batasan jam malam, tetapi juga menyentuh akar masalahnya: perizinan dan zonasi tata ruang.

"Besok secara khusus Balai Kota akan mengadakan rapat tentang padel. Saya sudah meminta untuk yang memberikan perizinan dan juga mengoordinasikan untuk padel itu mempersiapkan," paparnya lebih lanjut.

Langkah Pemprov DKI ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam menengahi benturan kepentingan antara roda bisnis fasilitas olahraga yang sedang naik daun dengan hak dasar warga negara untuk mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang tenang dan nyaman.

Sebagai pemimpin daerah, Pramono Anung tentu tidak anti terhadap perkembangan tren olahraga.

Ia sangat mendukung warga Jakarta yang ingin hidup lebih aktif dan sehat. 

Namun, ia memberikan catatan penting bahwa segala bentuk euforia tersebut harus dilandasi dengan empati dan kepatuhan terhadap aturan tata ruang lingkungan.

Menurut kacamata sang Gubernur, solusi dari polemik ini sebenarnya sangat bergantung pada lokasi berdirinya fasilitas tersebut.

Jika para pengusaha membangun lapangan padel di area komersial, pusat perbelanjaan, atau kompleks olahraga terpadu yang jauh dari rumah warga, operasional hingga larut malam pun rasanya tidak akan menjadi isu pelik.

"Tentunya mengharapkan aktivitas olahraga yang sekarang sedang jadi favorit banyak orang di Jakarta ini, tentunya juga harus toleransi kepada masyarakat yang ada di sekitar," pesan Pramono kepada para pengusaha dan pengelola lapangan.

Namun, aturan mainnya menjadi sangat berbeda jika fasilitas komersial tersebut "menyusup" ke dalam kawasan padat penduduk.

Pemprov DKI Jakarta memiliki kewajiban mutlak untuk melakukan intervensi dan penertiban jika operasional bisnis tersebut terbukti mengganggu hajat hidup orang banyak.

"Tetapi kalau di tempat padat penduduk dan mengganggu penduduk, pasti mereka mainnya juga nggak nyaman. Dan untuk itu kewajiban Pemerintah DKI Jakarta untuk menertibkan itu," tandasnya.

Fenomena menjamurnya lapangan padel di Jakarta menjadi studi kasus yang menarik tentang bagaimana sebuah tren lifestyle urban harus bisa beradaptasi dengan realitas tata ruang ibu kota yang sudah terlanjur padat.

Baca juga: Jaga Jakarta Adem Ayem, Gubernur Pramono Anung Tegas Larang Sahur On The Road dan Sweeping Selama Ramadhan

Data empiris menunjukkan bahwa polusi suara dapat meningkatkan tingkat stres masyarakat perkotaan.

Oleh karena itu, ketegasan Pemprov DKI Jakarta dalam mengatur zonasi dan jam operasional fasilitas hiburan maupun olahraga berbasis komunitas adalah langkah preventif yang sangat tepat.

Bagi kamu para pencinta olahraga padel, tentu ini menjadi pengingat untuk tetap menjaga ketertiban dan tidak berlebihan saat bermain, terutama di malam hari.

Sementara bagi para pengusaha, ini adalah lampu kuning untuk lebih cermat dalam memilih lokasi investasi dan mengurus Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), sekecil apa pun skalanya.

Pada akhirnya, Jakarta adalah rumah bersama. Euforia mencari keringat dan healing melalui olahraga tidak seharusnya dibayar mahal dengan hilangnya kedamaian warga di sekitarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU