JAKARTA - Bagi kamu warga DKI Jakarta, khususnya mereka yang beraktivitas di wilayah Jakarta Barat, kini harus kembali mengatur strategi perjalanan.
Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta secara resmi mulai menerapkan skema rekayasa lalu lintas (lalin) di kawasan Grogol Petamburan.
Langkah taktis ini diambil seiring dengan dimulainya pengerjaan proyek infrastruktur vital, yakni Konstruksi Terintegrasi Rancang dan Bangun Flyover (FO) Latumeten.
Proyek besar ini dipastikan akan berdampak pada arus kendaraan di dua ruas jalan utama, yaitu Jalan Prof Dr Latumeten dan Jalan Makaliwe Raya, Kelurahan Jelambar.
Penerapan rekayasa lalu lintas ini bukanlah kebijakan jangka pendek yang hanya berlaku satu atau dua minggu.
Masyarakat perlu mencatat bahwa pekerjaan konstruksi ini dijadwalkan berlangsung secara bertahap selama satu tahun penuh, terhitung mulai Januari hingga Desember 2026.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai perubahan arus dan jalur alternatif menjadi sangat krusial agar aktivitas harian tidak terganggu oleh kemacetan yang mungkin timbul akibat penyempitan jalan di sekitar area proyek.
Strategi Dishub DKI Menjaga Kelancaran Arus Selama Konstruksi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyadari bahwa Jalan Prof. Dr. Latumeten merupakan salah satu nadi utama transportasi di Jakarta Barat yang volume kendaraannya selalu padat.
Menutup jalan sepenuhnya tentu bukan opsi yang bijak. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, pada hari Rabu (28/1/2026), menjelaskan strategi yang diterapkan pihaknya untuk meminimalisir dampak kemacetan.
Ia memaparkan bahwa pekerjaan konstruksi akan dibagi ke dalam lima zona pengerjaan dengan pengaturan waktu yang berbeda-beda di setiap zonanya.
Pendekatan zonasi ini dilakukan agar dampak lalu lintas dapat dikelola secara lebih terukur.
Syafrin menegaskan komitmennya untuk memastikan mobilitas warga tetap berjalan meskipun alat berat mulai bekerja.
Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah dengan memodifikasi ruang jalan yang ada.
Dishub DKI Jakarta tidak akan membiarkan penyempitan jalan mematikan arus lalu lintas secara total.
Sebagai solusinya, pihak kontraktor dan Dishub menyediakan lajur pengganti atau detour untuk kendaraan yang melintas.
Pemanfaatan Trotoar sebagai Lajur Pengganti Sementara
Dalam keterangannya, Syafrin Liputo menjamin ketersediaan akses bagi pengendara.
Ia menyatakan bahwa selama pekerjaan berlangsung, pihaknya memastikan ruas jalan tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Caranya adalah dengan menyediakan lajur pengganti berupa pelebaran jalan di sisi trotoar.
Baca juga: DPRD DKI Minta Pemprov Antisipasi Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadhan 2026 dan Dampak Program MBG
Sebanyak dua lajur akan disiapkan di sepanjang area pekerjaan untuk menampung volume kendaraan.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga kapasitas jalan agar tidak berkurang drastis meski sebagian badan jalan utama terpakai oleh aktivitas konstruksi.
Upaya menjaga kelancaran arus kendaraan ini terus dipantau secara intensif.
Meskipun rekayasa lalu lintas dan penyesuaian tahap detour maupun konstruksi dilakukan bergantian di masing-masing zona, Dinas Perhubungan DKI Jakarta tetap berupaya menjaga level of service jalan tersebut.
Petugas lapangan juga akan disiagakan untuk membantu mengurai kepadatan di titik-titik krusial pertemuan arus kendaraan dan area penyempitan.
Panduan Rute Alternatif untuk Menghindari Kemacetan Parah
Meskipun lajur pengganti telah disiapkan, kepadatan lalu lintas di sekitar Jalan Prof Dr Latumeten dan Jalan Makaliwe Raya diprediksi tidak dapat dihindari sepenuhnya, terutama pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari.
Oleh karena itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengeluarkan imbauan keras agar pengguna jalan sebisa mungkin menghindari ruas jalan tersebut jika tidak ada keperluan mendesak di sekitar lokasi proyek.
Memilih rute lain adalah langkah paling cerdas untuk menghemat waktu perjalanan kamu selama setahun ke depan.
Bagi pengendara yang biasanya melintas dari arah Barat atau kawasan Daan Mogot yang hendak menuju ke arah Utara atau kawasan Kota Tua, sangat disarankan untuk tidak memaksakan diri masuk ke Jalan Prof Dr Latumeten.
Sebagai gantinya, pengendara dapat menggunakan rute alternatif melalui Jalan Pangeran Tubagus Angke.
Jalur ini dinilai lebih kondusif untuk menampung limpahan kendaraan dari arah barat.
Selain itu, opsi lain yang dapat ditempuh adalah melalui Jalan KH Moch Mansyur.
Imbauan ini juga berlaku untuk arah sebaliknya. Pengendara dari arah Utara atau Kota yang hendak menuju ke arah Barat atau Daan Mogot juga diminta memanfaatkan kedua jalur alternatif tersebut.
Dengan memecah konsentrasi kendaraan ke Jalan Pangeran Tubagus Angke dan Jalan KH Moch Mansyur, beban lalu lintas di area konstruksi Flyover Latumeten dapat berkurang signifikan.
Kerja sama dari para pengguna jalan untuk mematuhi rambu-rambu petunjuk yang telah dipasang serta arahan petugas di lapangan sangat diharapkan demi kenyamanan bersama.
Pembangunan Flyover Latumeten ini pada akhirnya ditujukan untuk mengurai kemacetan jangka panjang di Jakarta Barat, namun untuk mencapainya, kesabaran dan ketaatan pada rekayasa lalu lintas selama tahun 2026 ini sangatlah diperlukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta