Baznas Jakarta Selatan Siap Bedah 180 Rumah Warga Tahun Ini, Wujudkan Hunian Sehat Bebas Penyakit
JAKARTA - Pernahkah kamu merasa was-was saat hujan deras turun karena takut atap rumah bocor, atau khawatir sirkulasi udara yang buruk di dalam tempat tinggal bisa memicu berbagai penyakit pernapasan?
Bagi sebagian warga Jakarta Selatan, kekhawatiran semacam ini masih menjadi realitas sehari-hari di tengah gemerlapnya ibu kota.
Namun, secercah harapan nyata kini hadir. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bazis Kota Administrasi Jakarta Selatan secara resmi menargetkan pembangunan 180 unit rumah tidak layak huni melalui program unggulan Bedah Rumah pada tahun ini.
Langkah strategis ini bukan sekadar merenovasi fisik bangunan semata, melainkan sebuah misi krusial untuk menyulap tempat tinggal para mustahik menjadi hunian yang sehat, layak, dan mampu memutus mata rantai penyakit menular di permukiman padat penduduk.
Sebagai media lokal kebanggaan warga DKI Jakarta, Indozone merangkum ulasan lengkap mengenai program Bedah Rumah Baznas (Bazis) Jakarta Selatan ini.
Baca juga: DPRD DKI Jakarta Apresiasi Program Mudik Gratis 2026, Ingatkan Warga Tak Asal Bawa Saudara Merantau
Mari kita bedah lebih dalam bagaimana program ini berjalan, apa saja syaratnya, dan dampak nyatanya bagi warga.
Tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta menuntut kualitas kesehatan yang prima.
Sayangnya, lingkungan tempat tinggal yang kumuh sering kali menjadi inkubator bagi berbagai masalah kesehatan.
Menyadari urgensi tersebut, Koordinator Baznas (Bazis) Jakarta Selatan, Ahmad Kahpi, menegaskan bahwa pembangunan rumah ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap masyarakat kelas bawah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas kesehatan para penghuninya.
“Jika rumahnya tidak sehat, penghuninya akan lebih mudah terserang penyakit. Untuk itu, kami membangun rumah sehat untuk mencegah penyakit seperti Tuberkulosis (TBC), stunting, dan penyakit lainnya,” ujar Kahpi pada Selasa (10/3/2026).
Konsep "rumah sehat" yang diusung oleh Baznas bukanlah isapan jempol belaka. Rumah yang dibangun telah dirancang agar memenuhi standar kesehatan hunian yang layak.
Setiap unit yang dibedah akan dilengkapi dengan fasilitas Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) yang memadai, ventilasi udara yang baik, serta akses sarana air bersih yang terjamin.
Bagi kamu yang paham betul betapa padatnya beberapa sudut di Jakarta Selatan, penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak adalah sebuah kemewahan yang sangat krusial untuk mencegah stunting pada anak-anak.
Tentu kamu bertanya-tanya, seberapa besar rumah yang akan dibangun dan berapa anggaran yang disiapkan?
Dalam pelaksanaannya, Baznas (Bazis) Jakarta Selatan mematok standar pembangunan rumah dengan luas maksimal 30 meter persegi.
Untuk merealisasikan bangunan yang kokoh dan sehat tersebut, Baznas mengalokasikan anggaran sekitar Rp 55 juta untuk setiap unitnya.
Angka dan ukuran tersebut merupakan standar baku, namun tim di lapangan sangat memahami bahwa kondisi permukiman warga di Jakarta sangat dinamis.
Rata-rata rumah warga yang didata sering kali memiliki luas tanah yang melebihi 30 meter persegi. Lantas, bagaimana menyiasatinya?
Baca juga: Jelang Lebaran 1447 H, Pulau Pramuka Bersolek Manjakan Wisatawan Kepulauan Seribu
“Apabila luas bangunan melebihi standar, kami biasanya akan merapikan bagian depan rumah sehingga sisa lahannya dapat dimanfaatkan sebagai halaman atau bahkan tempat usaha bagi pemilik rumah,” terang Kahpi.
Pendekatan ini sangat cerdas dan solutif. Sisa lahan yang dirapikan tidak dibiarkan terbengkalai.
Warga penerima bantuan bisa memanfaatkannya untuk membuka warung kecil, tempat laundry sederhana, atau usaha rumahan lainnya.
Dengan kata lain, program ini tidak hanya menyehatkan lingkungan tempat tinggal, tetapi juga berpotensi menggerakkan roda perekonomian keluarga (UMKM) dari rumah sendiri.
Bagi kamu yang mungkin memiliki tetangga, kerabat, atau mengetahui warga di sekitar Jakarta Selatan yang rumahnya sangat memprihatinkan dan butuh bantuan, penting untuk mengetahui alur pendaftarannya.
Pengajuan program Bedah Rumah ini tidak bisa dilakukan secara serampangan atau datang langsung ke kantor Baznas (Bazis).
Semua proses pengajuan wajib dilakukan melalui satu pintu, yaitu pihak kelurahan setempat. Mengapa demikian?
Hal ini diterapkan untuk memastikan bahwa proses verifikasi administrasi dan survei lapangan dapat berjalan secara tertib, tepat sasaran, dan akuntabel.
“Pengajuan harus melalui kelurahan karena kami perlu melakukan pengecekan berkas. Target 180 rumah itu merupakan jumlah maksimal dan rumah yang dibangun harus berstatus jelas, sudah menjadi hak milik, serta tidak memiliki permasalahan hukum,” tegas Kahpi.
Legalitas lahan adalah kunci utama. Baznas menghindari merenovasi lahan yang sedang bersengketa.
Namun, ada solusi bagi rumah yang diajukan tetapi belum memiliki sertifikat kepemilikan yang sah secara hukum negara (misalnya tanah girik yang belum dipecah).
Warga harus menyertakan surat rekomendasi resmi dari pihak kelurahan. Surat tersebut berfungsi sebagai jaminan yang menyatakan bahwa lahan tersebut aman untuk dibangun dan bebas dari konflik sengketa antarwarga maupun pihak luar.
Satu hal yang membuat langkah Baznas (Bazis) Jakarta Selatan patut diacungi jempol adalah fleksibilitas programnya di tengah krisis.
Program ini tidak hanya berjalan secara sporadis menyasar satu atau dua rumah tidak layak huni di gang-gang sempit, tetapi juga mampu bermanuver menjadi program skala besar.
Dalam kondisi kedaruratan tertentu, Baznas (Bazis) menginisiasi pembangunan dalam skala kawasan. Ini sangat terasa manfaatnya ketika musibah seperti kebakaran massal melanda permukiman padat penduduk.
“Ada juga program Bedah Kawasan, biasanya kami menangani lebih dari lima rumah sekaligus. Contohnya di wilayah Pela Mampang beberapa waktu lalu, ada 16 rumah yang kami kerjakan bersama pihak lainnya,” tandas Kahpi.
Kolaborasi dalam Bedah Kawasan ini membuktikan bahwa semangat gotong royong di ibu kota masih menyala terang.
Dengan menargetkan 180 rumah di tahun ini, wajah permukiman di Jakarta Selatan diharapkan perlahan-lahan berubah menjadi lebih manusiawi, tertata, dan pastinya jauh lebih sehat.
Langkah proaktif dari Baznas ini menjadi bukti bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang transparan dapat memberikan dampak langsung yang luar biasa bagi warga kota.
Jadi, jika kamu melihat ada warga di sekitarmu yang membutuhkan fasilitas ini, jangan ragu untuk mengarahkan mereka berkoordinasi dengan pihak RT, RW, dan kelurahan setempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta