Kemenangan di Depan Mata Buyar! Persija Ditahan Imbang Borneo FC di JIS, Ternyata Ini Penyebabnya
JAKARTA - “Sakit tapi nggak berdarah!” Itulah ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan perasaan ribuan pendukung setia yang memadati Jakarta International Stadium (JIS) pada Selasa (3/3/2026) malam.
Kemenangan yang sudah berada di depan mata harus terenggut secara dramatis pada detik-detik akhir pertandingan.
Persija Jakarta, tim kebanggaan ibu kota, terpaksa harus puas berbagi angka setelah ditahan imbang 2-2 oleh tim tamu, Borneo FC, dalam lanjutan laga pekan ke-24 Super League 2025/26.
Sebagai penggemar sepak bola, kamu pasti paham betul rasanya kebobolan di menit akhir.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada skuad Macan Kemayoran hingga gagal mempertahankan keunggulan di kandang sendiri? Siapa yang lengah?
Mari kita bedah tuntas jalannya laga dan evaluasi tajam dari sang pelatih, Mauricio Souza, yang secara blak-blakan menyoroti kelemahan krusial tim asuhannya.
Pertandingan pekan ke-24 Super League ini sejatinya berjalan sangat alot sejak peluit babak pertama dibunyikan.
Persija Jakarta yang bermain di hadapan publik sendiri langsung mengambil inisiatif serangan dan mendominasi penguasaan bola.
Namun, kebuntuan baru benar-benar pecah saat memasuki paruh kedua pertandingan.
Tepat pada menit ke-47, seisi JIS bergemuruh ketika striker andalan Macan Kemayoran, Gustavo Almeida, berhasil mengoyak gawang Borneo FC.
Gol pembuka ini seolah memberikan angin segar bagi tuan rumah untuk segera mengamankan tiga poin penuh.
Namun, kegembiraan tersebut ternyata tidak bertahan lama. Tim tamu yang berjuluk Pesut Etam tidak tinggal diam dan merespons dengan cepat.
Memasuki menit ke-62, Borneo FC berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui aksi mematikan dari Juan Villa.
Skor imbang membuat tempo pertandingan semakin meningkat. Persija kembali menunjukkan taringnya pada menit ke-75.
Lewat sebuah skema yang dibangun rapi, Fabio Calonego melepaskan tendangan jarak jauh yang spektakuler.
Bola meluncur deras tak terbendung, mengubah papan skor menjadi 2-1 untuk keunggulan tim ibu kota.
Kamu mungkin berpikir bahwa skor ini akan aman hingga akhir laga. Sayangnya, mimpi buruk datang pada masa injury time.
Kelengahan barisan belakang Persija harus dibayar sangat mahal ketika gol penyama kedudukan dari Borneo FC lahir secara dramatis pada menit ke-90+4.
Laga pun harus ditutup peluit panjang dengan skor imbang 2-2.
Hasil imbang yang terasa layaknya sebuah kekalahan ini jelas memantik reaksi keras dari pelatih Persija, Mauricio Souza.
Usai pertandingan, juru taktik tersebut tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap penyelesaian akhir timnya, terutama pada paruh pertama pertandingan.
“Saya rasa kami seharusnya bisa menang sejak babak pertama. Kami memiliki setidaknya empat peluang emas untuk mencetak gol di babak pertama,” tegas Mauricio Souza saat memberikan keterangan pers.
Bagi seorang pelatih, membuang empat peluang bersih dalam laga sekrusial ini adalah sebuah kesalahan fatal.
Pelatih asal Brasil itu menambahkan bahwa ketajaman di depan gawang adalah syarat mutlak jika tim ingin mengamankan posisi di klasemen.
“Kami seharusnya bisa mencetak gol karena dalam pertandingan besar seperti ini, kami tidak bisa menyia-nyiakan begitu banyak peluang,” keluhnya.
Jika peluang-peluang di babak pertama mampu dikonversi menjadi gol, beban mental para pemain tentu akan jauh lebih ringan di babak kedua.
Selain urusan finishing di babak pertama, Mauricio Souza juga menyoroti perubahan sikap mental para pemainnya setelah berhasil mencetak gol pembuka di awal babak kedua.
Alih-alih mempertahankan dominasi dan terus menekan pertahanan lawan untuk mencari gol pembunuh laga (killing goal), skuad Macan Kemayoran justru mengendurkan tempo.
“Di babak kedua, permainan lebih seimbang. Kami mencetak gol di awal, lalu entah mengapa tim saya berhenti bermain setelah gol tersebut,” ungkap Mauricio dengan nada heran.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi staf pelatih. Mengubah gaya permainan secara tiba-tiba justru memberikan ruang bagi lawan untuk berkembang.
“Setelah gol itu, kami mulai bertahan tidak seperti sebelumnya dan memainkan bola yang tidak bagus,” tambahnya.
Momentum yang seharusnya dikuasai Persija justru berpindah ke tangan Borneo FC yang tampil semakin ngotot.
Titik puncak kekecewaan Mauricio bermuara pada gol penyama kedudukan di menit ke-90+4.
Dalam pandangannya, gol tersebut lahir dari kesalahan mendasar yang dilakukan oleh barisan pertahanannya sendiri dalam membaca situasi.
“Ada kurangnya usaha, kurangnya komitmen defensif, kurangnya pemahaman momen pertandingan,” cecar Mauricio.
Pemahaman momen pertandingan atau game management adalah keahlian krusial.
Para pemain seharusnya tahu persis kapan harus menahan bola, menurunkan tempo, dan merapatkan barisan saat laga menyisakan hitungan detik.
Lebih lanjut, ia menyoroti transisi pemain yang tidak berjalan maksimal. “Bahwa saat tertentu ‘saya tidak perlu lagi menyerang dan harus mulai bertahan’,” jelasnya merujuk pada kealpaan taktis di lapangan.
Keputusan yang salah membuat pertahanan menjadi sangat rentan. Secara spesifik, Mauricio menunjuk area tengah sebagai kelemahan terbesar.
“Sisi tengah terbuka pada gol penyama kedudukan karena tidak terlindungi dengan baik,” pungkasnya.
Celah menganga di area sentral inilah yang dieksploitasi Borneo FC untuk mencuri poin dari Jakarta.
Kehilangan dua poin berharga di kandang sendiri jelas merupakan kerugian besar.
Skuad Macan Kemayoran tidak boleh terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama, terutama terkait konsentrasi di menit-menit kritis dan konversi peluang emas.
Hasil ini tentu menguras emosi, namun perjalanan Super League masih panjang.
Evaluasi tajam dari Mauricio Souza diharapkan mampu menjadi tamparan keras sekaligus motivasi agar skuad Persija bisa tampil lebih disiplin, solid, dan mematikan pada pertandingan berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Persija.id