Gebrakan Pramono Anung Lantik Tim Pembina Posyandu DKI Jakarta, Fokus Berantas Stunting dan TBC Sampai ke Akarnya
JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bahwa di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit ibu kota, ancaman krisis kesehatan yang krusial seperti stunting dan Tuberkulosis (TBC) masih secara nyata mengintai lingkungan di sekitar kita?
Fakta ini mungkin terdengar kontras dengan kemajuan kota, namun inilah realitas lapangan yang tengah dihadapi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Menyadari urgensi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengambil langkah taktis pada Selasa (3/3/2026).
Bertempat di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, beliau secara resmi melantik Tim Pembina (TP) Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Tingkat Provinsi dan Kota/Kabupaten se-DKI Jakarta.
Momen pelantikan ini bukan sekadar seremonial birokrasi biasa, melainkan sebuah deklarasi komitmen untuk "turun gunung" memberantas stunting dan TBC langsung dari lapisan masyarakat paling bawah.
Acara pelantikan yang berlangsung khidmat ini menjadi titik tolak baru bagi sistem pertahanan kesehatan masyarakat di Jakarta.
Dalam agenda strategis tersebut, Gubernur Pramono Anung melantik sejumlah figur sentral yang akan menjadi motor penggerak transformasi Posyandu.
Dua sosok utama di antara yang dilantik adalah Hani Pramono, yang dipercaya memegang tongkat estafet sebagai
Ketua Pembina Posyandu Provinsi DKI Jakarta, serta Essie Feransie Munjirin yang mengemban amanah strategis sebagai Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Administrasi Jakarta Timur.
Tidak berhenti di situ, pelantikan ini juga secara serentak mengukuhkan para ketua pembina Posyandu untuk wilayah kota dan kabupaten lainnya di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Kehadiran tokoh-tokoh penting daerah, termasuk Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, semakin menebalkan pesan bahwa Pemprov DKI sangat serius dalam mengawal isu kesehatan warganya.
Formasi baru ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan yang lebih terstruktur dan masif.
Lalu, apa sebenarnya target utama dari perombakan dan penguatan struktur Posyandu ini?
Jawabannya bermuara pada dua pekerjaan rumah terbesar di sektor kesehatan ibu kota, yaitu percepatan penurunan angka stunting pada anak dan pemberantasan penyebaran penyakit menular TBC.
Gubernur Pramono Anung, dalam arahannya, memberikan penekanan khusus pada peran vital yang dimiliki oleh Posyandu.
Beliau menyadari betul bahwa Posyandu memiliki keistimewaan luar biasa karena kemampuannya menjangkau dan menyentuh denyut nadi masyarakat hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).
Sebagai contoh nyata di lapangan, penanganan stunting di kawasan padat penduduk seperti Jakarta Timur atau wilayah pesisir membutuhkan pendekatan yang jauh lebih personal.
Kasus kurang gizi atau sanitasi buruk sering kali tersembunyi di balik gang-gang sempit yang sulit dipantau setiap hari oleh puskesmas atau rumah sakit.
Baca juga: Dishub DKI Jakarta Raih Predikat Menuju Informatif KIP 2025, Ini Catatan Penting Komisi Informasi
Di sinilah kader Posyandu, yang notabene adalah tetangga atau bagian dari komunitas itu sendiri, dapat masuk dengan lebih mudah untuk mendeteksi dini dan memberikan edukasi.
"Posyandu mempunyai tugas yang sangat mulia," tegas Gubernur Pramono Anung.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan instruksi yang sangat jelas mengenai kolaborasi, "Kami ingin Posyandu ikut berperan aktif dalam penanganan stunting, TBC, dan persoalan kesehatan lainnya. Ini harus kita kerjakan bersama antara Pemprov DKI Jakarta dan Posyandu."
Pernyataan ini menjadi alarm pengingat bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian tanpa perpanjangan tangan kader di masyarakat.
Sejalan dengan visi besar Gubernur, Ketua TP Posyandu DKI Jakarta, Hani Pramono, turut memaparkan arah baru dari pergerakan Posyandu ke depannya.
Ia menegaskan kembali bahwa Posyandu adalah tulang punggung sekaligus bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan masyarakat di kota metropolitan ini.
Menurut Hani, ada misi fundamental yang harus dikawal ketat, yakni memastikan siklus kesehatan sebuah keluarga berjalan dengan optimal dan tanpa hambatan.
Misi tersebut mencakup banyak aspek krusial. Posyandu dituntut untuk mampu memastikan bahwa setiap ibu hamil di Jakarta mendapatkan layanan pemeriksaan yang memadai, memantau secara ketat bayi dan balita agar tumbuh kembangnya sehat sesuai standar kurva kesehatan, serta memastikan seluruh anggota keluarga memperoleh edukasi kesehatan yang berkelanjutan.
Transformasi fungsi Posyandu ini digambarkan secara apik dan visioner oleh Hani Pramono.
"Ke depan, Posyandu tidak hanya hadir sebagai tempat pelayanan, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran keluarga sehat, pusat pemantauan tumbuh kembang anak, dan pusat gerakan hidup sehat masyarakat perkotaan," ungkapnya dengan penuh optimisme.
Kutipan ini mengisyaratkan sebuah pergeseran paradigma yang masif.
Jika selama ini kamu mungkin menganggap Posyandu sekadar tempat untuk menimbang berat badan balita sebulan sekali dan mendapatkan makanan tambahan, maka pandangan itu harus segera diperbarui.
Posyandu era baru di Jakarta diproyeksikan menjadi pusat interaksi sosial yang mencerdaskan warganya mengenai gaya hidup sehat, deteksi dini penyakit menular seperti TBC, dan literasi gizi untuk mencegah stunting sejak masa kehamilan.
Transformasi Posyandu di bawah kepemimpinan Tim Pembina yang baru dilantik ini tentu membawa angin segar bagi warga Jakarta.
Namun, sehebat apa pun program yang dicanangkan oleh Pemprov DKI Jakarta, keberhasilannya pada akhirnya akan sangat bergantung pada partisipasi aktif dari kamu dan seluruh lapisan masyarakat.
Mari kita hilangkan stigma bahwa urusan kesehatan hanyalah tanggung jawab tenaga medis di rumah sakit.
Jangan ragu untuk proaktif mendatangi Posyandu terdekat di lingkungan tempat tinggalmu.
Manfaatkan setiap layanan gratis dan edukasi yang diberikan oleh para kader yang berdedikasi tinggi.
Dengan Posyandu yang semakin berdaya dan masyarakat yang peduli, cita-cita untuk mewujudkan generasi Jakarta yang sehat, cerdas, terbebas dari stunting, dan merdeka dari ancaman TBC bukanlah sekadar angan-angan belaka.
Semuanya dimulai dari kepedulian kecil di lingkungan terdekat kita sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta