Jelang Ramadhan 2026, Gubernur Pramono Anung Siapkan Langkah Humanis Tertibkan Manusia Gerobak di Jakarta
JAKARTA - Pernahkah kamu memperhatikan perubahan suasana jalanan Ibu Kota setiap kali bulan suci Ramadhan semakin dekat?
Di antara hiruk-pikuk kendaraan dan gedung pencakar langit, sering kali muncul fenomena sosial yang seolah menjadi tradisi tahunan, yakni keberadaan manusia gerobak.
Mereka biasanya terlihat beristirahat di pinggir jalan protokol atau kawasan strategis lainnya dengan membawa seluruh harta benda di dalam gerobak kayu.
Pemandangan ini tidak hanya memicu rasa iba, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai ketertiban dan kenyamanan wajah kota Jakarta.
Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah mengambil ancang-ancang untuk memastikan Jakarta tetap rapi tanpa mengesampingkan sisi kemanusiaan.
Menjelang Ramadhan tahun ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan perhatian khusus terhadap potensi lonjakan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), termasuk fenomena manusia gerobak yang kerap datang dari luar daerah.
Gubernur Pramono Anung secara tegas namun empatik meminta jajarannya untuk melakukan langkah antisipasi dan penertiban.
Tujuannya jelas, menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan kota bagi seluruh warganya.
Dalam kunjungannya ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Serdang di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Selasa (10/2/2026), Pramono Anung menegaskan bahwa penertiban adalah langkah yang tidak bisa ditawar demi menjaga estetika kota.
Namun, ia menekankan bahwa pendekatan yang diambil haruslah manusiawi.
Penertiban ini bukan semata-mata untuk mengusir, melainkan untuk menata ulang ketertiban umum yang sering kali terganggu oleh okupasi trotoar atau bahu jalan.
"Kalau memang ada pendatang yang seperti itu, ya pasti kami tertibkan untuk kebersihan bersama Jakarta," tegas Pramono di sela-sela kegiatannya.
Pernyataan ini menjadi sinyal bagi Satpol PP dan Dinas Sosial DKI Jakarta untuk mulai bergerak melakukan pemetaan titik-titik rawan.
Pramono menyadari bahwa Jakarta adalah magnet bagi banyak orang, terutama saat momen-momen besar seperti Ramadan di mana arus sedekah dan kedermawanan warga kota meningkat tajam.
Namun, ia mengingatkan bahwa niat baik tersebut jangan sampai dimanfaatkan dengan cara yang melanggar aturan ketertiban umum.
Fokus utama dari instruksi Gubernur ini adalah menciptakan ekosistem kota yang kondusif.
Keberadaan manusia gerobak yang menjamur, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menciptakan kekumuhan dan bahkan masalah keamanan di lingkungan sekitar.
Pramono ingin memastikan bahwa Jakarta bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga rumah yang nyaman bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya.
"Sekali lagi tentunya kami menginginkan bahwa Jakarta aman, nyaman, masyarakatnya bahagia," ujar Pramono menambahkan.
Kalimat "masyarakatnya bahagia" di sini memiliki makna ganda. Di satu sisi, warga Jakarta berhak atas fasilitas umum yang bersih dan tidak terokupasi.
Di sisi lain, mereka yang masuk dalam kategori PPKS juga perlu mendapatkan penanganan yang layak dari negara, bukan dibiarkan hidup menggelandang di jalanan yang justru membahayakan keselamatan mereka sendiri.
Penertiban yang dilakukan diharapkan dapat mengarahkan mereka ke panti-panti sosial untuk mendapatkan pembinaan, bukan sekadar tindakan represif.
Kamu mungkin sudah tidak asing lagi dengan pola tahunan ini. Biasanya, fenomena manusia gerobak mulai marak satu atau dua minggu sebelum puasa dimulai.
Mereka kerap memadati kawasan-kawasan elit seperti Menteng, atau pusat perniagaan seperti Tanah Abang dan Jatinegara.
Motivasi utamanya sering kali ekonomi; berharap belas kasih dari para dermawan yang ingin berbagi rezeki di bulan suci.
Namun, Gubernur Pramono Anung melihat ini sebagai tantangan manajemen kota yang serius.
Dengan adanya instruksi antisipasi sejak dini, Pemprov DKI berusaha memutus siklus tahunan ini agar tidak semakin parah.
Langkah antisipasi ini mencakup pengawasan di perbatasan masuk Jakarta hingga patroli rutin di jalan-jalan protokol.
Langkah yang diambil oleh Pramono Anung ini menunjukkan komitmen Pemprov DKI untuk menegakkan Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum, namun dengan tetap memanusiakan manusia.
Harapannya, Ramadhan tahun 2026 di Jakarta dapat dilalui dengan suasana yang lebih khidmat, tertib, dan bersih, sehingga kamu dan seluruh warga Jakarta dapat menjalankan aktivitas ibadah dengan lebih tenang tanpa terganggu oleh ketidaktertiban di ruang publik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta