Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 08:00 WIB

Dukung Penuh Perluasan Rute MRT Kembangan-Balaraja, Komisi B DPRD DKI: Solusi untuk Mengurangi Kemacetan di Jakarta dan Banten

Author

Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh (Fakhrizal Fahri/Berita Jakarta)

JAKARTA - Pernahkah kamu merasa frustrasi saat terjebak kemacetan panjang di tol arah Jakarta setiap pagi?

Bagi para pekerja yang tinggal di kawasan penyangga ibu kota, situasi ini adalah makanan sehari-hari yang melelahkan fisik dan mental. 

Namun, secercah harapan baru kini muncul bagi kamu yang mendambakan perjalanan yang lebih cepat dan nyaman.

Rencana perluasan jaringan transportasi massal modern terus digenjot, dan kali ini fokus utamanya adalah menghubungkan wilayah barat hingga ke jantung kota Jakarta melalui moda MRT.

Kabar baik ini datang menyusul adanya langkah konkret dari para pemangku kebijakan. Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, memberikan apresiasi tinggi dan menyambut baik penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang baru saja dilakukan.

Baca juga: Bendung Katulampa Berstatus Siaga 3, Gubernur Pramono Anung: Air Harus Segera Dibuang ke Laut

Kesepakatan penting ini melibatkan Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, dengan para pengembang properti terkait studi potensi kontribusi pembangunan MRT Lintas Timur–Barat Fase 2.

Rute yang menjadi sorotan utama dalam kajian ini adalah jalur Kembangan hingga Balaraja.

Nova menilai inisiatif ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan sebuah strategi vital untuk menyelamatkan Jakarta dan sekitarnya dari kelumpuhan akibat kemacetan.

Strategi Baru Mengurai Benang Kusut Kemacetan

Rencana perluasan jalur MRT hingga ke Balaraja ini dinilai sebagai langkah yang sangat strategis dalam meningkatkan konektivitas antar wilayah.

Nova Harivan Paloh menegaskan bahwa pengembangan ini adalah jawaban yang dinanti-nanti untuk menekan angka kemacetan yang kian mengkhawatirkan.

Dalam pandangannya, kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta atau pengembang merupakan kunci percepatan pembangunan infrastruktur yang efisien.

Nova tidak menyembunyikan antusiasmenya terhadap proyek ambisius ini.

Ia mengungkapkan bahwa rencana pembangunan lintasan sepanjang kurang lebih 30 kilometer tersebut akan mengubah wajah transportasi publik di kawasan barat Jakarta dan Banten. 

Proyek ini rencananya akan mencakup pembangunan 21 stasiun yang melibatkan kontribusi aktif dari para pengembang kawasan.

Menurutnya, keterlibatan pengembang ini akan memperkuat konektivitas menuju Jakarta secara signifikan.

Dengan adanya akses yang lebih mudah dan cepat, MRT rute Kembangan-Balaraja ini diproyeksikan menjadi salah satu solusi paling ampuh untuk mengurangi volume kendaraan pribadi yang masuk ke ibu kota setiap harinya.

Pentingnya Interkoneksi dengan Wilayah Penyangga

Dalam perspektif yang lebih luas, Nova menekankan bahwa pengembangan transportasi massal di Jakarta tidak bisa lagi dilihat secara parsial.

Jakarta tidak dapat berdiri sendiri dan sangat membutuhkan dukungan dari wilayah tetangga atau kota penyangga.

Baca juga: Ditpolairud Tertibkan Pelabuhan Muara Angke: Jalur Kapal Overload Kini Jadi Fokus Utama Demi Keselamatan Pelayaran

Interkoneksi antar daerah menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem transportasi yang benar-benar terintegrasi dan efisien. 

Tanpa adanya sambungan yang mulus antara Jakarta dengan wilayah seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, kemacetan akan sulit terurai.

Nova mengambil contoh keberhasilan integrasi yang telah dilakukan oleh moda transportasi lain.

Saat ini, Transjakarta sudah berhasil terkoneksi dengan wilayah Bogor, Depok, dan sejumlah kawasan penyangga lainnya melalui enam rute yang tersedia.

Kehadiran MRT rute baru ini nantinya diharapkan dapat memperkuat skema interkoneksi transportasi yang sudah ada tersebut.

Tujuannya sangat jelas, yaitu mempermudah akses masyarakat, khususnya para pekerja yang berdomisili di Bogor dan Banten namun mencari nafkah di Jakarta.

Dengan opsi transportasi yang nyaman dan tepat waktu, perpindahan moda dari kendaraan pribadi ke transportasi umum akan terjadi secara alami.

Konsep TOD dan Harapan Masa Depan Transportasi 

Meskipun potensi pengurangan kemacetan melalui pengembangan rute MRT hingga Balaraja ini masih dalam tahap kajian mendalam, optimisme tinggi tetap terpancar.

Nova meyakini dampak positifnya akan segera terlihat seiring dengan pengembangan kawasan yang berbasis Transit Oriented Development (TOD).

Konsep ini memungkinkan mobilitas masyarakat dari wilayah Banten maupun Jakarta menjadi lebih tersebar dan tidak terpusat di satu titik kemacetan saja.

Lebih jauh lagi, Nova menyoroti bahwa meskipun saat ini masih dalam tahap kesepahaman dan kajian, potensi bisnis serta pengembangan TOD di masa depan sangatlah menjanjikan.

Di kawasan-kawasan stasiun berkonsep TOD nantinya, fasilitas penunjang seperti area parkir yang luas akan disiapkan.

Hal ini memungkinkan masyarakat untuk menerapkan skema park and ride, di mana kamu bisa memarkir kendaraan pribadi di stasiun terdekat dengan aman, lalu melanjutkan perjalanan ke pusat kota menggunakan MRT.

Dengan cara ini, beban jalan raya di dalam kota Jakarta dapat ditekan secara bertahap, memberikan napas lega bagi lalu lintas ibu kota.

Baca juga: Dukung Program AKSI Pemprov DKI Jakarta x YouTube, Farah Savira: Jadikan Muatan Lokal di Sekolah!

Bagaimana menurut kamu? Apakah rute MRT sampai ke Balaraja ini akan menjadi solusi yang efektif untuk mobilitas harianmu?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU