Senin, 26 JANUARI 2026 • 17:56 WIB

Gubernur Pramono Anung Tinjau Pengerukan Sedimen Kali Sepak, Pastikan Aliran ke Cengkareng Drain Lancar

Author

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, Tinjau Pengerukan Sedimen di Kali Sepak (Reza Pratama Putra/Berita Jakarta)

JAKARTA - Intensitas hujan yang tinggi mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir menuntut respons cepat dari pemerintah provinsi.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menunjukkan komitmennya dalam penanggulangan banjir dengan turun langsung ke lapangan.

Pada Senin (26/1/2026), Pramono meninjau proses pengerukan sedimen di Kali Sepak, tepatnya di kawasan Jembatan Jalan Pulau Bira, Kembangan, Jakarta Barat.

Langkah taktis ini diambil sebagai upaya preventif untuk memastikan sistem drainase ibu kota berfungsi optimal di tengah ancaman cuaca ekstrem.

Fokus Pengerukan Sedimen Demi Kelancaran Air 

Dalam kunjungannya, orang nomor satu di Provinsi DKI Jakarta ini menegaskan bahwa pengerukan ini sangat krusial untuk menjaga kapasitas tampung sungai.

Baca juga: Transaksi Digital Jakarta Melonjak! Gubernur Pramono Anung Ungkap Penggunaan QRIS di Pasar Tumbuh 47 Persen

Kali Sepak memiliki peran strategis sebagai salah satu saluran makro yang menampung debit air dari berbagai saluran mikro dan penghubung di Kecamatan Kembangan sebelum bermuara ke Kali Angke.

Tujuannya sangat jelas, yaitu memastikan aliran air menuju Cengkareng Drain tidak terhambat oleh endapan lumpur maupun sampah.

Di lokasi tersebut, sebanyak tiga unit alat berat ekskavator dikerahkan untuk mempercepat proses pengangkatan sedimen.

Pramono menjelaskan bahwa pengecekan rutin di lokasi ini sangat diperlukan karena Kali Sepak merupakan salah satu muara utama lintas provinsi, bersanding dengan sungai-sungai besar lainnya seperti Kali Pesanggrahan, Mookervaart, dan Angke.

Upaya pengerukan ini tidak hanya dilakukan secara sporadis, melainkan menjadi bagian dari strategi besar Dinas Sumber Daya Air (SDA) yang menyiagakan total 200 unit ekskavator di seluruh penjuru Jakarta untuk menjaga kedalaman sungai.

Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Keterbatasan Kapasitas

Langkah agresif Pemprov DKI Jakarta ini juga didasari oleh peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi curah hujan tinggi yang masih membayangi ibu kota.

Pramono Anung tidak ingin mengambil risiko, sehingga instruksi untuk melanjutkan penggalian terus digulirkan meskipun banjir di beberapa titik diklaim telah surut dan lalu lintas kembali normal.

Selain pengerukan fisik, strategi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga tetap dijalankan sebagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak curah hujan yang berlebihan.

Gubernur menyadari bahwa infrastruktur penampungan air di Jakarta memiliki keterbatasan.

Saat ini, daerah tangkapan air hujan di ibu kota hanya mampu menampung curah hujan hingga intensitas 150 milimeter per hari. 

Menyadari hal tersebut, Pramono telah merancang solusi jangka menengah dengan memprioritaskan normalisasi di tiga sungai utama yang sering menjadi langganan luapan air, yakni Sungai Ciliwung, Sungai Krukut, dan Kali Cakung Lama.

Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya tampung air secara signifikan di masa depan.

Sinergi Pemerintah dan Kesadaran Masyarakat

Penanganan banjir bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga perilaku masyarakat. Dalam tinjauan tersebut, Pramono Anung memberikan imbauan keras agar warga berhenti membuang sampah ke aliran sungai.

Baca juga: Investasi Jakarta Tahun 2025 Tembus Rp270 Triliun, Pramono Anung: Bukti Ekonomi Solid dan Izin Mudah

Sampah yang menumpuk di badan air menjadi penyebab utama terganggunya fungsi Cengkareng Drain dan pintu-pintu air yang dikelola pemerintah.

Ia bahkan meminta Wali Kota Jakarta Barat untuk mengkaji penerapan aturan yang lebih tegas guna memberikan efek jera bagi para pembuang sampah sembarangan.

Menanggapi instruksi tersebut, Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menyatakan bahwa pihaknya telah bergerak cepat.

Suku Dinas Lingkungan Hidup bersama masyarakat telah bahu-membahu membersihkan tumpukan sampah pasca banjir.

Hingga hari Minggu sebelumnya, tercatat sebanyak 20 truk sampah telah berhasil diangkut dan dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Sinergi antara pemerintah dan warga ini menjadi kunci agar upaya pengerukan yang memakan biaya besar tidak menjadi sia-sia hanya karena perilaku membuang sampah yang tidak disiplin.

Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, turut menambahkan informasi mengenai manajemen limbah hasil pengerukan.

Ia memastikan bahwa material lumpur yang diangkat dari dasar kali tidak dibuang sembarangan yang berpotensi mencemari lingkungan lain.

Seluruh limbah pengerukan dari wilayah Jakarta akan ditampung di lokasi pembuangan khusus atau dumping site yang berlokasi di CDF Ancol.

Baca juga: Kabar Gembira! Gubernur Pramono Anung Siapkan Rute Transjabodetabek Langsung Bandara-Blok M dan Cawang-Jababeka

Dengan pengelolaan yang terintegrasi dari hulu ke hilir ini, diharapkan Jakarta dapat lebih tangguh menghadapi puncak musim hujan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU