JAKARTA - Setiap masuk musim hujan, feed medsos kamu pasti sering seliweran info soal genangan air di Jakarta, kan?
Buat warga ibu kota yang jumlahnya nyaris mencapai 11 juta jiwa, banjir memang sering kali jadi 'tamu langganan' yang menguji kesabaran.
Tapi tenang aja, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta rupanya nggak tinggal diam melihat warganya repot.
Berbagai langkah nyata dan terpadu terus dikebut untuk mewujudkan Jakarta yang lebih tangguh, aman, dan nyaman untuk ditinggali.
Mulai dari pengerahan ratusan pompa air, pengerukan waduk, hingga kolaborasi normalisasi sungai yang menggandeng pemerintah pusat.
Baca juga: Banjir Rob Intai 12 Wilayah Pesisir Jakarta 27 Mei-5 Juni, Cek Info Lengkapnya Disini!
Yuk, intip apa aja strategi gercep yang disiapkan pemerintah buat menghadapi cuaca ekstrem di Jakarta!
Buat menangani debit air yang gila-gilaan saat hujan deras, kesiapan infrastruktur jelas jadi kunci utamanya.
Berdasarkan data hingga 13 Maret 2026, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta udah menyiagakan 668 unit pompa stasioner di 243 lokasi.
Selain itu, ada juga 537 pompa mobile yang disebar di lima wilayah administrasi buat mengeksekusi genangan air di titik-titik yang sulit dijangkau.
Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin, menegaskan kalau mitigasi ini butuh kerja tim yang solid.
Ia memastikan seluruh perangkat bakal berfungsi maksimal sebelum, saat, dan sesudah hujan deras turun.
Menariknya lagi, Pemprov DKI lagi menjalankan Proyek JakTirta 2025-2027. Proyek ambisius ini bakal menambah 20 rumah pompa dengan total 61 unit pompa baru yang bisa menyedot air hingga 148 meter kubik per detik!
Salah satu titik paling epik ada di Sistem Tata Air Rumah Pompa Ancol. Waktu Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau proyek ini pada Selasa (7/4/2026), beliau menyebut fasilitas ini mendapat tambahan lima pompa baru.
Efeknya, kapasitas pengaliran air melonjak drastis dari 15 jadi 40 meter kubik per detik, yang pastinya sangat ampuh untuk mencegah ancaman banjir rob di kawasan Ancol dan Pademangan.
Punya pompa canggih bakal percuma kalau jalur airnya mampet, setuju nggak? Makanya, Pemprov DKI gencar banget melakukan pengerukan sungai, waduk, situ, dan embung.
Bayangkan aja, sepanjang tahun 2025 lalu, volume lumpur yang berhasil dikeruk menembus 919.173 meter kubik dengan bantuan ratusan ekskavator dan dump truck.
Di awal tahun 2026 ini aja, volume pengerukannya udah mencapai lebih dari 123 ribu meter kubik.
Satu contoh nyata yang lagi dikerjakan adalah Kali Sepak Kembangan di Jakarta Barat.
Baca juga: Pemkot Jaksel Keruk 36 Ribu Kubik Lumpur Kali Pesanggrahan Demi Cegah Banjir di Bintaro
Sungai selebar sembilan meter ini dikeruk agar aliran air yang terhubung langsung ke Cengkareng Drain bisa berjalan mulus tanpa hambatan, sekaligus meminimalisir luapan air ke permukiman warga.
Masalah banjir Jakarta nggak bisa diselesaikan sendirian. Solusi jangka menengah yang lagi digenjot adalah normalisasi tiga sungai utama, yakni Sungai Ciliwung, Sungai Krukut, dan Kali Cakung Lama.
Khusus buat Ciliwung, Pemprov DKI turun tangan bareng pemerintah pusat.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (AHY), progres normalisasi Ciliwung udah tembus 52 persen, atau selesai 17 kilometer dari total target 33,69 kilometer.
Meski masalah pembebasan lahan sering jadi kendala, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, memberikan acungan jempol buat Pemprov DKI yang dinilai sangat kooperatif dalam memperlancar proyek krusial ini.
Terus, kenapa sih Jakarta rentan banget kebanjiran? Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santoso, menjelaskan ada tiga biang kerok utamanya.
Mulai dari penurunan muka tanah yang bisa mencapai 15 sentimeter per tahun, curah hujan yang ekstrem, sampai saluran air yang mendangkal karena penumpukan sampah.
Untuk memantaunya, BRIN bahkan mendorong pemakaian teknologi canggih seperti satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) 2D dan 3D.
Namun, secanggih apa pun infrastruktur dan teknologi dari pemerintah, semuanya bakal jadi kurang maksimal kalau warganya masih sering buang sampah ke sungai.
Penanganan banjir butuh komitmen lintas pihak. Jadi, buat kamu para generasi muda, yuk mulai dari hal kecil dengan menjaga kebersihan lingkungan di sekitar.
Kalau sistemnya udah keren dan kamu sadar lingkungan, pelan tapi pasti kita bisa bilang selamat tinggal pada genangan air di Jakarta!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Detik News