JAKARTA - Tahukah kamu bahwa setiap harinya Jakarta menghasilkan ribuan ton sampah yang bermuara di satu titik akhir?
Jika kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak segera dihentikan, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Bekasi diprediksi akan segera penuh dan tidak mampu lagi menampung tumpukan limbah warga ibu kota.
Namun, di tengah ancaman krisis lingkungan tersebut, secercah harapan datang dari Timur Jakarta.
Warga Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, membuktikan bahwa langkah kecil bisa membawa dampak besar.
Mereka baru saja menggelar aksi nyata berupa sosialisasi dan penanganan sampah pilah yang tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial bagi warga setempat.
Baca juga: Ratusan Pendatang Baru Tiba di Jakarta Timur Pasca Lebaran, Ini Langkah Tegas Dukcapil DKI Jakarta
Pada Sabtu (11/4/2026) sore, suasana di Sekretariat RW 05, Jalan Nusa Indah III, Kelurahan Malaka Jaya tampak berbeda dari biasanya.
Ratusan warga, yang didominasi oleh kaum ibu alias emak-emak, terlihat antusias membawa berbagai macam barang bekas dari rumah mereka.
Bukan untuk dibuang sembarangan, melainkan untuk disetorkan kepada pengelola Bank Sampah RW 05.
Kegiatan penimbangan sampah ini difokuskan di area parkir Masjid Jami Khairul Anaam, menjadikannya pusat aktivitas lingkungan yang positif pada akhir pekan.
Acara sosialisasi dan aksi penimbangan sampah pilah ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Duren Sawit, Dede Syaipullah.
Kehadiran jajaran pemerintahan kecamatan ini menegaskan betapa seriusnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani permasalahan sampah dari tingkat akar rumput.
Antusiasme emak-emak yang ramai-ramai menyetorkan limbah non-organik seperti tumpukan kardus bekas, botol plastik minuman, gelas plastik, hingga tumpukan kertas bekas, menjadi pemandangan yang sangat menginspirasi.
Hal ini menunjukkan kesadaran lingkungan bisa ditumbuhkan jika ada dukungan yang tepat.
Bukan tanpa alasan aksi nyata ini digencarkan oleh pihak kecamatan dan kelurahan.
Dede Syaipullah menjelaskan bahwa pihaknya sengaja mengkampanyekan program pilah sampah dari sumbernya sebagai respons atas kondisi darurat pengelolaan limbah ibu kota.
"Sosialisasi program pilah sampah ini merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi pimpinan. Karena memang sudah saatnya kita memilah sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga, untuk mengurangi volume pembuangan akhir ke TPST Bantar Gebang, Bekasi," papar Dede.
Langkah preventif ini sangat krusial. Memilah sampah non-organik sejak dari dapur rumah berarti memotong rantai distribusi limbah yang seharusnya tidak perlu membebani tempat pembuangan akhir.
Jika setiap rumah tangga di Jakarta melakukan hal yang sama seperti di Malaka Jaya, beban volume sampah harian yang melintasi perbatasan Jakarta-Bekasi dapat ditekan secara signifikan.
Keberhasilan program Bank Sampah di tingkat RW tentu tidak lepas dari peran aktif tokoh masyarakat.
Lurah Malaka Jaya, Eko Purnomo Asih, menegaskan komitmennya untuk terus menggerakkan seluruh warga di wilayahnya agar konsisten menjalankan program pilah sampah.
Eko menyadari bahwa pemerintahan kelurahan tidak bisa berjalan sendirian tanpa bantuan para ketua rukun warga.
"Peran pengurus RT dan RW menjadi penentu utama dalam keberhasilan penanganan sampah melalui program pilah sampah ini," tegas Eko.
Ia berharap, para ketua RW dapat terus membantu menyosialisasikan gerakan ini ke tingkat RT masing-masing, sehingga pesan pelestarian lingkungan tersampaikan hingga menyentuh setiap individu di wilayah Malaka Jaya.
Lebih lanjut, Eko memaparkan visi ke depannya. Sosialisasi program pilah sampah tidak akan berhenti di lingkungan permukiman warga saja.
Pihak kelurahan menargetkan akan meneruskan kampanye ini ke semua fasilitas publik, termasuk tempat ibadah, pelaku usaha lokal, hingga institusi pendidikan yang ada di sekitarnya.
Daya tarik terbesar mengapa warga sangat mendukung program ini adalah adanya nilai ekonomi di balik sampah yang mereka kumpulkan.
Ketua RW 05 Malaka Jaya, Farid Rivai, membagikan kisah sukses warganya. Menurut Farid, inisiatif pilah sampah di wilayahnya sebenarnya sudah digulirkan secara konsisten sejak lima bulan yang lalu.
"Kita sudah berjalan sejak lima bulan lalu. Awalnya digagas dari pengurus RW, kemudian secara bertahap diikuti oleh para ketua RT, kader lingkungan, dan akhirnya meluas ke masyarakat umum lainnya," ungkap Farid.
Setiap bulannya, pengurus RW 05 menjadwalkan penimbangan sampah sebanyak dua kali.
Warga antusias karena sampah non-organik yang telah dipilah kemudian dijual kepada pihak pengepul.
Dari hasil penjualan tersebut, warga mendapatkan uang tambahan yang sangat bermanfaat untuk menopang kebutuhan dapur tangga.
Data pendukung yang disampaikan Farid pun sangat fantastis. Selama kurun lima bulan berjalan, total sampah non-organik yang berhasil terkumpul dari rumah warga mencapai angka 2.100 kilogram!
Baca juga: Pasar Tumbuh Ramaikan Bazar Pangan Ramadhan 2026 di Jakarta Timur, Omzet Tembus Rp42 Juta!
Keseluruhan uang hasil penjualan ribuan kilogram sampah tersebut dikembalikan sepenuhnya kepada warga yang telah gigih mengumpulkan dan memilah sampah dari rumah masing-masing.
Melihat antusiasme warga RW 05 Malaka Jaya, kamu tentu bisa menjadikan ini sebagai inspirasi. Mulailah memilah botol dan kardus di rumahmu.
Bersama-sama, kita bisa membuat kota Jakarta menjadi lebih bersih dan bebas ancaman krisis sampah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta