Strategi Jitu Gubernur Pramono Anung Jaga Ekonomi Jakarta Tumbuh Cepat Tanpa APBD, Ini Buktinya!
JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jadinya jika roda ekonomi di ibu kota tiba-tiba melambat di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini?
Sebagai pusat bisnis dan perputaran uang terbesar di Indonesia, stabilitas Jakarta adalah kunci utama bagi napas perekonomian nasional.
Kekhawatiran tersebut seolah berhasil ditepis oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Memasuki usia satu tahun lebih satu bulan masa pemerintahannya, Pramono baru saja membeberkan berbagai terobosan berani yang sukses menjaga resiliensi dan tren positif pertumbuhan ekonomi Jakarta.
Artikel ini akan mengupas tuntas rahasia di balik gemilangnya angka makro ekonomi DKI Jakarta dan bagaimana strategi inovatif tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah berhasil direalisasikan.
Kunjungan dari lembaga negara yang mencetak para calon pemimpin masa depan ini membuktikan bahwa strategi kepemimpinan di ibu kota layak dijadikan rujukan nasional.
Penegasan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ini disampaikan langsung oleh Pramono Anung saat menerima kunjungan kehormatan dari peserta Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVII Tahun Anggaran 2026.
Acara yang berlangsung hangat dan penuh diskusi strategis tersebut digelar di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, pada Rabu (1/4/2026).
Di hadapan para calon pemimpin nasional bentukan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Pramono membagikan pengalaman kepemimpinannya dalam menakhodai kota metropolitan yang penuh dinamika.
"Kebetulan ini adalah satu tahun lebih satu bulan pemerintahan yang saya pimpin di Jakarta. Kami melakukan berbagai terobosan untuk menjaga momentum agar pertumbuhan ekonomi di Jakarta itu terjaga dengan baik," ungkap Pramono dengan penuh optimisme.
Baginya, mempertahankan tren positif di tengah tantangan global bukanlah sebuah perkara yang bisa diselesaikan dengan cara konvensional.
Jika kamu masih ragu seberapa besar pengaruh Jakarta terhadap Indonesia, data makro ekonomi tahun 2025 yang dipaparkan oleh Pramono bisa menjadi jawaban pasti.
Jakarta berhasil mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,21 persen.
Angka ini patut diapresiasi karena sukses melampaui rata-rata pertumbuhan nasional di level 5,11 persen.
Lebih mencengangkan lagi, meski secara luas wilayah tergolong kecil, Jakarta mampu menyumbang 16,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Keberhasilan ini semakin lengkap dengan kemampuan Pemprov DKI dalam mengendalikan laju inflasi yang tetap stabil di angka 2,5 persen.
"Jadi Jakarta ini walaupun kecil tapi memberikan kontribusi 16,61 persen GDP nasional. Sehingga dengan demikian, apapun Jakarta harus dimanage secara baik," tegasnya.
Manajemen yang baik ini memastikan daya beli masyarakat kota tetap terjaga.
Baca juga: Cegah Vandalisme, PPSU Kamal Mutiara Sulap Tembok Kumuh Jadi Mural Bertema Pesisir yang Estetik!
Salah satu strategi paling cerdik yang diterapkan Pramono Anung adalah menjadikan keberagaman budaya dan agama di Jakarta sebagai penggerak ekonomi.
Pemprov DKI mengemasnya menjadi berbagai festival megah yang memikat masyarakat.
Mulai dari acara Christmas Carol, perayaan Imlek, pawai Ogoh-ogoh, hingga program Jakarta Festive Wonder selama bulan suci Ramadhan hingga lebaran.
Melalui rangkaian program kreatif tersebut, Pemprov DKI Jakarta sukses mencatatkan nilai transaksi yang menembus Rp67,57 triliun.
Dampak positif dari perputaran uang ini bermuara pada realisasi penerimaan pajak yang tercatat mencapai Rp7,3 triliun.
Hal ini membuktikan bahwa merawat toleransi dapat menjadi pendorong roda ekonomi daerah.
"Ini pasti menjadi hal yang utama buat Lemhannas. Keberagaman yang selama ini menjadi isu paling sensitif di Jakarta, itu bisa dilewati dengan sangat baik," ucap Pramono, menekankan bahwa keamanan adalah syarat mutlak bagi kelancaran ekonomi.
Menyadari bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah memiliki keterbatasan ruang gerak, Pramono Anung memutar otak dengan memaksimalkan berbagai sumber pendanaan alternatif yang sah secara hukum.
Pemprov DKI secara cerdas memanfaatkan kucuran dana non-APBD yang berasal dari kewajiban kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dari pihak pengembang swasta.
Dana segar dari skema KLB ini kemudian disalurkan secara transparan untuk proyek-proyek fisik yang vital, seperti pembangunan dan perluasan ruang terbuka di Taman Bendera Pusaka, serta membenahi sistem infrastruktur pengendalian banjir yang selama ini menjadi momok bagi warga kota.
"Memang terobosan inilah yang harus dilakukan biaya untuk membangun itu dan pengaturan banjir kurang lebih 100 miliar rupiah, tidak ada menggunakan dana APBD," jelas Pramono.
Langkah ini membuktikan komitmen pemerintah daerah untuk terus membangun tanpa membebani pos anggaran prioritas rakyat.
Keterbukaan Pemprov DKI menuai pujian dari Gubernur Lemhannas RI, TB Ace Hasan Syadzily.
Ace memberikan apresiasi kepada Pramono karena menjadikan Jakarta sebagai lokus studi inspiratif.
Baca juga: Dukcapil DKI Jakarta Mencatat Sebanyak 225 Pendatang Baru Serbu Jakarta Selatan, Mayoritas Pelajar
Tema pendidikan ini, yang berfokus pada kebijakan ekonomi nasional guna meningkatkan kedaulatan ekonomi rakyat, sangat relevan diterapkan.
Ace menilai Jakarta memiliki peran strategis menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah situasi global.
Melalui pendidikan P3N, Ace berharap peserta menjadi pemimpin bermoral, beretika, dan berkarakter negarawan.
"Ini penting ditanamkan karena bangsa kita membutuhkan pemimpin nasional saat dihadapkan pada situasi yang tidak mudah," tandas Ace di penghujung acara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta