Senin, 30 MARET 2026 • 15:41 WIB

Panen Raya 1,2 Ton di Jakarta Pusat, Bukti Urban Farming Jadi Solusi Ampuh Cegah Stunting

Author

Ketua TP PKK Jakarta Pusat Panen Berbagai Sayuran di Salah Satu Urban Farming (Folmer/Berita Jakarta)

JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan hutan beton seperti Jakarta Pusat bisa menghasilkan panen sayuran segar hingga lebih dari satu ton?

Mungkin terdengar mustahil, tetapi inilah kenyataan manis yang baru saja terjadi.

Di tengah padatnya gedung pencakar langit dan kemacetan ibu kota, semangat ketahanan pangan warga rupanya terus bersemi. 

Tepat pada Senin (30/3/2026), sebuah pencapaian luar biasa berhasil dicetak. Sekitar 1,2 ton hasil bumi yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, hingga palawija sukses dipanen dari 58 lokasi urban farming atau pertanian perkotaan yang tersebar di wilayah Jakarta Pusat.

Keberhasilan ini tidak hanya menjadi angin segar bagi pelestarian lingkungan kota, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam melawan masalah gizi kronis atau stunting yang masih membayangi sebagian warga DKI Jakarta.

Baca juga: Taman Margasatwa Ragunan Diserbu 421 Ribu Pengunjung Selama Libur Lebaran 2026, Target Resmi Dilampaui!

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jakarta Pusat, Witri Yenny Arifin, membagikan rincian menakjubkan dari hasil panen raya kali ini.

Angka 1,2 ton tersebut bukanlah sekadar klaim, melainkan hasil dari kerja keras kolektif warga yang secara konsisten merawat lahan terbatas mereka.

Witri membeberkan bahwa mayoritas hasil panen didominasi oleh sayur-mayur segar yang mencapai total berat 820,3 kilogram.

Varietas sayuran yang dipanen sangat beragam dan kaya gizi, mulai dari kangkung, bayam, sawi, kailan, selada, cabai, terong, tomat, hingga pare.

Tidak berhenti di komoditas sayuran saja, lahan sempit di ibu kota ini rupanya juga bersahabat bagi tanaman buah dan palawija.

Sebanyak 181,2 kilogram buah-buahan segar seperti mangga, sukun, timun suri, anggur, labu, dan jeruk berhasil dipetik dari kebun-kebun warga.

Sementara itu, untuk tanaman palawija, warga sukses mengumpulkan 19,4 kilogram hasil bumi yang terdiri dari singkong, ubi jalar, sorgum, dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menariknya, integrasi urban farming ini juga mencakup sektor perikanan. 

Sebanyak 19,4 kilogram ikan hasil budidaya turut menambah daftar panjang keberhasilan panen raya. Angka ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukanlah hambatan mutlak.

Lalu, ke mana perginya hasil panen melimpah ini? Inilah bagian yang paling inspiratif dari program pertanian perkotaan di Jakarta Pusat.

Seluruh hasil panen, tanpa terkecuali, akan didistribusikan kembali kepada warga sekitar. Namun, fokus utamanya bukan sekadar pembagian sembako biasa.

Witri Yenny Arifin menegaskan bahwa prioritas distribusi ini adalah untuk mendukung program penanganan dan pencegahan stunting di lingkungan Jakarta Pusat.

Nutrisi segar dari sayur organik, buah, dan protein ikan sangat krusial bagi pertumbuhan balita pada seribu hari pertama kehidupan mereka.

Baca juga: Demi Perjalanan Mudik Aman Terkendali, PMI Jakpus Buka 4 Posko Siaga Kesehatan di Stasiun Utama dan Terminal

Dengan mengonsumsi hasil panen lokal yang dirawat tanpa menggunakan pestisida kimia berbahaya, kualitas kesehatan anak-anak dan ibu hamil di kawasan padat penduduk Jakarta Pusat diharapkan dapat terus meningkat secara signifikan.

Di sisi lain, mengingat harga bahan pokok di pasar tradisional sering kali mengalami fluktuasi tajam, pasokan makanan mandiri dari kebun warga ini jelas sangat membantu meringankan beban pengeluaran dapur keluarga sehari-hari.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari kolaborasi apik antara pemerintah dan masyarakat.

Mengingat Jakarta Pusat adalah pusat bisnis dengan lahan terbuka hijau yang minim, inovasi menjadi kunci utama.

"Walau lahan di Jakarta Pusat terbatas, kami bersama Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) serta warga terus berupaya mengembangkan program urban farming dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan," tandas Witri.

Sinergi ini diwujudkan melalui pemanfaatan lahan tidur, atap gedung (rooftop), gang-gang sempit, hingga pekarangan rumah warga menjadi kebun produktif yang hijau.

Pendekatan hidroponik dan vertikultur adalah pemandangan yang kini lumrah ditemui. Ini tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga menyumbang suplai oksigen dan menurunkan suhu di area permukiman yang biasanya terasa sangat panas.

Program pertanian perkotaan ini membuktikan bahwa warga DKI Jakarta memiliki ketangguhan dan kreativitas tinggi dalam menghadapi tantangan pangan.

Apa yang dilakukan di 58 lokasi ini patut menjadi percontohan bagi wilayah lain. 

Transformasi ruang sempit menjadi sumber pangan bergizi bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup dan investasi kesehatan masa depan.

Selain itu, keberadaan kebun kota ini secara tidak langsung mempererat tali silaturahmi antar warga yang bergotong-royong.

Bagi kamu warga Jakarta, kisah sukses panen raya 1,2 ton ini seharusnya bisa menjadi pemantik semangat yang luar biasa.

Kamu tidak perlu menunggu memiliki sebidang tanah luas untuk mulai ikut menanam.

Cukup dengan memanfaatkan balkon apartemen, dinding pagar, atau sekadar bermodalkan pot barang bekas dan benih berkualitas, kamu sudah bisa berkontribusi menciptakan ketahanan pangan yang mandiri dari rumah sendiri.

Mari bersama-sama jadikan langkah kecil di pekarangan rumah sebagai bagian dari solusi besar penanganan stunting di ibu kota kita tercinta.

Jika 58 lokasi di Jakarta Pusat saja bisa menghasilkan lebih dari satu ton pangan segar, bayangkan betapa besarnya dampak yang bisa kita ciptakan jika seluruh warga DKI Jakarta ikut bergerak secara serentak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU