Kamis, 05 MARET 2026 • 08:50 WIB

Waspada Takjil Berbahaya di Jaksel! BBPOM Temukan Formalin dan Boraks di Kebayoran Baru, Begini Ciri-Cirinya

Author

Penemuan Takjil Mengandung Bahan Berbahaya oleh BBPOM dan Pemkot Jakarta Selatan (Tiyo Surya Sakti/Berita Jakarta)

JAKARTA - Bulan suci Ramadhan selalu identik dengan tradisi berburu takjil jelang waktu berbuka puasa.

Pemandangan deretan pedagang yang menjajakan aneka jajanan pasar, es buah segar ceria, hingga gorengan renyah menjadi pemandangan wajib di berbagai sudut ibu kota, tak terkecuali di kawasan Jakarta Selatan.

Namun, di balik lezatnya hidangan berbuka yang menggugah selera tersebut, tahukah kamu bahwa ada bahaya tak kasat mata yang mungkin mengintai kesehatanmu dan keluarga?

Kenyataan pahit ini baru saja terungkap setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Jakarta melakukan inspeksi mendadak dan menemukan sejumlah takjil yang positif mengandung zat kimia berbahaya di kawasan Kebayoran Baru.

Temuan mengejutkan ini sontak menjadi peringatan keras bagi seluruh warga Jakarta agar lebih selektif dan tidak asal jajan sembarangan demi menjaga kesehatan selama berpuasa.

Baca juga: Sudinhub Jakarta Selatan Verifikasi 519 Peserta Mudik Gratis Pemprov DKI 2026, Cek Daftar Tujuan Terbanyak!

Langkah proaktif untuk melindungi warga Jakarta dari peredaran makanan berbahaya terus digencarkan.

Pada hari Kamis (5/3/2026), jajaran Pemkot Jakarta Selatan bersama tim ahli dari BBPOM menyasar sentra pedagang takjil yang berlokasi di Jalan Karya Utama, Kecamatan Kebayoran Baru.

Kawasan ini memang dikenal selalu ramai dipadati pembeli yang berburu aneka penganan berbuka puasa.

Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Ali Murthadho, yang turun langsung memantau jalannya pengawasan tersebut menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas.

Petugas di lapangan mengambil sebanyak 39 varian sampel makanan yang berbeda dari para pedagang di lokasi tersebut.

Sampel-sampel mulai dari mi kuning, tahu, kerupuk, hingga minuman berwarna cerah langsung diuji menggunakan mobil laboratorium keliling milik BBPOM yang disiagakan di tempat.

Hasil pengujian tersebut cukup membuat miris. Dari puluhan makanan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat, terbukti ada tiga sampel yang secara meyakinkan positif mengandung bahan tambahan pangan terlarang.

Zat mematikan yang ditemukan meliputi Formalin, Boraks, dan Pewarna Tekstil.

"Hasil pengawasan kemarin menjadi perhatian serius karena zat-zat sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang masih ditemukan," tegas Ali Murthadho.

Bukan tanpa alasan mengapa temuan ini dilabeli sebagai "perhatian serius" oleh pihak Pemkot Jakarta Selatan.

Zat-zat yang ditemukan dalam takjil di Kebayoran Baru tersebut sama sekali tidak diperuntukkan bagi sistem pencernaan manusia.

Sebagai contoh, formalin sejatinya adalah cairan bahan kimia yang digunakan sebagai desinfektan atau pengawet mayat.

Jika terakumulasi dalam tubuh manusia, formalin dapat memicu iritasi lambung akut, kerusakan hati, hingga memicu pertumbuhan sel kanker.

Baca juga: Bye-Bye Kabel Semrawut! DPRD DKI Jakarta Desak Pergub Utilitas Segera Terbit Demi Wujudkan Jakarta Kota Global

Sementara itu, boraks merupakan senyawa kimia yang umum digunakan dalam industri pembuatan detergen, pembersih lantai, dan antiseptik.

Mengonsumsi makanan yang mengandung boraks dapat menyebabkan mual, muntah, diare, kram perut, dan dalam dosis tinggi bisa merusak fungsi ginjal secara permanen.

Di sisi lain, pewarna tekstil seperti Rhodamin B (merah) dan Metanil Yellow (kuning) sering kali disalahgunakan oleh produsen nakal untuk memberikan warna yang sangat menarik pada sirup, kue, atau kerupuk demi menekan biaya produksi.

Padahal, pewarna pakaian ini sangat beracun dan efek jangka panjangnya dapat merusak fungsi organ hati secara fatal.

Menyikapi temuan berbahaya ini, Pemkot Jakarta Selatan tidak tinggal diam.

Ali Murthadho menjelaskan bahwa pendekatan pertama yang dilakukan di lapangan adalah memberikan teguran keras dan edukasi langsung kepada para pedagang yang kedapatan menjual takjil beracun tersebut.

Pedagang dilarang keras untuk kembali menjual makanan tersebut dan diminta untuk menghentikan pembelian bahan baku dari supplier atau produsen yang sama.

Lebih jauh lagi, penindakan tidak hanya berhenti pada pedagang kecil di pinggir jalan yang sering kali hanya menjadi korban ketidaktahuan.

Ali secara khusus telah meminta kepada pihak BBPOM di Jakarta untuk melakukan penelusuran mendalam guna membongkar jaringan produsen bahan makanan bermasalah tersebut.

Pihaknya bertekad untuk mengambil tindakan hukum lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku agar ada efek jera bagi para pembuat makanan beracun.

"Kami lakukan ini bertujuan menyosialisasikan sekaligus mengedukasi masyarakat dan pedagang mengenai risiko penggunaan zat berbahaya pada makanan," terang Wakil Wali Kota Jakarta Selatan tersebut, menekankan pentingnya kesadaran kolektif dari hulu ke hilir.

Di tengah maraknya ancaman makanan berbahaya, masyarakat tentu bertanya-tanya bagaimana cara membedakan takjil yang aman dan yang beracun tanpa harus membawanya ke laboratorium.

Menjawab keresahan ini, Ketua Tim Kerja Kelompok Substansi Informasi dan Komunikasi BBPOM di Jakarta, Evi Citraprianti, membagikan panduan praktis yang bisa langsung kamu terapkan saat berburu menu berbuka puasa.

Evi mengingatkan bahwa dengan semakin beragamnya jenis jajanan yang dijual di pasaran, kamu selaku konsumen dituntut untuk jauh lebih teliti.

Langkah pertama yang paling mudah dilakukan adalah mengecek warna makanan secara kasat mata. Jika kamu melihat warna makanan terlihat sangat terang, berpendar, atau mencolok secara tidak wajar, kamu patut curiga.

Kondisi visual seperti itu merupakan dugaan kuat adanya penambahan zat pewarna tekstil berbahaya seperti Rhodamin B atau Metanil Yellow.

Langkah kedua berfokus pada indera pengecap. Saat kamu mencicipi produk olahan seperti kerupuk atau gorengan, perhatikan aftertaste atau rasa yang tertinggal.

Jika makanan tersebut terasa getir atau meninggalkan sensasi pahit yang aneh di lidah, kemungkinan besar produk tersebut telah dicampur dengan boraks agar teksturnya lebih renyah.

Langkah ketiga berkaitan dengan tekstur makanan, yang sangat efektif untuk mendeteksi keberadaan formalin, terutama pada produk olahan seperti tahu atau mie kuning.

Evi membeberkan sebuah rahasia sederhana. Jika tahu yang kamu beli terasa sangat keras, kenyal layaknya karet, tidak mudah hancur saat ditekan, dan keawetannya bertahan hingga berhari-hari di suhu ruang tanpa basi, maka patut diduga kuat makanan tersebut direndam menggunakan formalin sebagai pengawet buatan.

"Kami minta masyarakat harus senantiasa meningkatkan kewaspadaannya dan peduli terhadap yang dikonsumsi agar kesehatan tetap terjaga selama menjalankan ibadah puasa," tandas Evi memberikan peringatan penutup.

Menjaga tradisi berburu takjil memang menyenangkan, namun kesehatan tubuhmu jauh lebih berharga.

Dengan berbekal informasi dari Pemkot Jaksel dan BBPOM ini, mari kita menjadi konsumen yang lebih cerdas.

Selalu perhatikan warna, rasa, dan tekstur makanan sebelum membelinya. 

Pastikan momen berbuka puasa bersama keluarga di rumah dipenuhi dengan hidangan yang tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga aman dan menyehatkan bagi tubuh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU