Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Resmikan Wajah Baru JPO Sarinah yang Penuh Sejarah dan Ramah Disabilitas
JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya menyeberang di salah satu jalan paling sibuk di jantung ibu kota dengan perasaan aman, nyaman, dan tanpa hambatan?
Bagi warga metropolitan yang setiap hari berpacu dengan waktu, fasilitas pejalan kaki yang memadai bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan mutlak.
Kabar gembira kini hadir menyapa kamu para warga Jakarta dan siapa saja yang kerap melintasi hiruk-pikuk kawasan bisnis Sudirman-Thamrin.
Tepat pada hari Senin (2/3/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dengan didampingi oleh Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun, secara resmi membuka hasil revitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah di Jalan M.H. Thamrin, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng.
Peresmian ini tidak hanya menjadi simbol pembaruan tata ruang kota yang lebih estetik, tetapi juga menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan infrastruktur yang memanusiakan warganya.
Proyek revitalisasi ini dirancang khusus untuk menyegarkan tampilan visual jembatan bersejarah tersebut agar lebih relevan dengan gaya kota global.
Namun, lebih dari sekadar urusan keindahan arsitektur yang memanjakan mata, fokus utama dari pembaruan ini adalah penambahan fasilitas modern yang menjamin kenyamanan dan inklusivitas bagi seluruh lapisan masyarakat, terkhusus bagi para penyandang disabilitas, kelompok lansia, dan ibu hamil yang selama ini memiliki keterbatasan aksesibilitas.
Menariknya, acara peresmian wajah baru infrastruktur ini ternyata mengalami sedikit pergeseran jadwal dari rencana awal pemerintah daerah.
Gubernur Pramono Anung dalam sambutannya di lokasi acara menjelaskan secara terbuka mengenai penundaan tersebut.
“Peresmian mundur dua hari. Pada waktu itu, saya menyampaikan akan diresmikan akhir Februari, tetapi sekarang tanggal 2 Maret baru kita resmikan revitalisasi JPO Sarinah,” ungkap Pramono.
Di balik desainnya yang kini tampak sangat kekinian, Pramono dengan tegas mengingatkan bahwa ada nilai heritage atau sejarah yang sangat tinggi melekat kuat pada struktur bangunan tersebut.
Bagi kamu yang mungkin belum menyadarinya, fasilitas publik ini tercatat dalam sejarah tata kota sebagai jembatan penyeberangan orang pertama di Jakarta.
Jembatan ini pertama kali dibangun dan diresmikan pada tahun 1968 silam oleh Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, Ali Sadikin.
Oleh karena itu, proses peremajaannya dilakukan dengan sangat hati-hati agar memori kolektif tentang Jakarta tempo dulu tetap berpadu harmonis dengan kebutuhan zaman sekarang.
Gebrakan paling vital dari hasil peremajaan JPO Sarinah ini adalah integrasi fasilitas yang sangat berpihak pada pejalan kaki berkebutuhan khusus.
Jika dahulu menaiki puluhan anak tangga adalah tantangan fisik yang berat, kini hal tersebut telah diatasi dengan hadirnya fasilitas lift atau elevator yang aman untuk diakses kursi roda.
Gubernur Pramono memaparkan bahwa dengan fasilitas baru ini, warga kini diberikan kebebasan penuh dalam memilih mode penyeberangan yang paling sesuai dengan kondisi fisik mereka.
“Apakah mau menggunakan lift atau pelican crossing yang tetap kita operasikan sehingga dengan demikian, masyarakat yang suka berjalan akan punya pilihan untuk menyeberang, tetapi bagi yang berkebutuhan khusus bisa memanfaatkan ini,” tutur Pramono menjelaskan fungsi kawasan tersebut.
Baca juga: Gubernur Pramono Anung Jamin Stok Pangan Aman Selama Ramadhan 1447 H Meski Ada Ancaman Global
Langkah mempertahankan pelican crossing (penyeberangan sebidang dengan lampu lalu lintas) di bawah jembatan menunjukkan bahwa pemerintah tetap mengakomodasi pejalan kaki yang ingin melintas dengan cepat, sembari menawarkan opsi jalur atas yang lebih steril dari lalu lintas kendaraan bermotor.
Transformasi di kawasan ring satu ini tentu tidak terlepas dari kolaborasi yang kuat antarberbagai pemangku kepentingan.
Pramono Anung mengungkapkan bahwa keberhasilan penyelesaian infrastruktur ini merupakan buah manis dari kerja sama lintas instansi yang solid.
"Proyek ini merupakan hasil sinergi lintas instansi, di mana pendanaannya bersumber dari anggaran korporasi PT Transportasi Jakarta," ujarnya.
Namun, kabar baik bagi mobilitas warga Jakarta rupanya tidak berhenti sampai di peresmian jembatan layang saja.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza, yang turut memberikan keterangannya, membocorkan rencana pengembangan kawasan lebih lanjut. Welfizon menegaskan bahwa peresmian hari ini masih berstatus pengerjaan tahap pertama. Rangkaian perbaikan infrastruktur di kawasan tersebut dipastikan akan terus berlanjut.
Pada tahap selanjutnya, PT Transjakarta akan menggandeng pihak pengembang PT MRT Jakarta untuk menata ulang dan memperluas area pejalan kaki di bagian bawah jembatan.
Fokus utamanya adalah memberikan ruang gerak yang jauh lebih proporsional bagi para pejalan kaki.
“Jadi, pada Mei nanti akan ada pelebaran trotoar lebih kurang 2,6 meter, sehingga nanti akses pedestrian akan menjadi punya ruang yang lebih lega,” tutup Welfizon dengan optimis.
Rencana penambahan ruang sebesar 2,6 meter ini merupakan bukti nyata dari pergeseran paradigma tata kota Jakarta, dari yang sebelumnya hanya berpusat pada kendaraan bermotor menjadi kota yang semakin ramah pejalan kaki.
Peresmian ini merupakan pencapaian penting dalam perjalanan Jakarta menjadi kota yang setara bagi semua warganya.
Bagi kamu yang kerap menghabiskan waktu atau bekerja di sekitar kawasan Thamrin, wajah baru JPO Sarinah ini wajib untuk kamu manfaatkan.
Selain berfungsi mumpuni untuk menyeberang dengan aman, arsitekturnya yang elegan juga bisa menjadi titik foto ikonik baru di ibu kota.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pusat.jakarta.go.id