Tiang Monorel "Abadi" Jalan HR Rasuna Said Dibongkar Total, Pramono Anung Siapkan Trotoar Cantik Bebas PKL dan Parkir Liar Ojol pada Juni 2026
JAKARTA - Pernahkah kamu merasa jengah saat melintasi kawasan Kuningan dan melihat deretan tiang beton raksasa yang terbengkalai begitu saja?
Selama bertahun-tahun, sisa-sisa proyek monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, seakan menjadi monumen kegagalan tata kota yang merusak pemandangan ibu kota.
Namun, penantian panjang warga Jakarta untuk melihat jalanan yang lebih rapi kini akhirnya membuahkan hasil.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru saja membawa angin segar dengan mengumumkan bahwa seluruh tiang monorel yang mangkrak tersebut telah resmi dibongkar secara total.
Tidak berhenti sampai di situ, area bekas tiang ini akan segera disulap menjadi jalur pedestrian yang modern, asri, dan pastinya ditargetkan bersih dari kesemrawutan Pedagang Kaki Lima (PKL) serta parkir liar ojek online (ojol).
Sebagai warga yang kerap beraktivitas di Jakarta, pembaruan ini tentu menjadi kabar gembira yang patut dikawal bersama.
Mari kita simak rincian rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam mengubah wajah Jalan HR Rasuna Said menjadi lebih ramah bagi pejalan kaki.
Kawasan HR Rasuna Said dikenal sebagai salah satu urat nadi perekonomian Jakarta yang dipenuhi oleh gedung perkantoran elit, kedutaan besar, hingga pusat perbelanjaan.
Sayangnya, keberadaan tiang-tiang monorel yang tak kunjung dilanjutkan pembangunannya sempat membuat kawasan ini terasa sesak dan kurang tertata. Kini, pemandangan tersebut telah menjadi sejarah.
Dalam keterangannya usai memimpin rapat terbatas di Balai Kota DKI Jakarta pada Selasa (24/2/2026), Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan kabar baik terkait progres penataan kawasan tersebut.
Ia mengonfirmasi bahwa pekerjaan berat untuk memotong struktur beton raksasa itu telah tuntas dilaksanakan.
"Saya juga bersyukur, mengucapkan terima kasih kepada Bina Marga bahwa tiang monorel yang berjumlah 109, sekarang ini per hari Sabtu kemarin semuanya sudah terpotong dan dirapikan," ujar Pramono.
Kolaborasi yang sigap dari Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta patut diapresiasi, mengingat proses pemotongan 109 tiang beton di tengah jalur protokol yang padat bukanlah pekerjaan yang mudah.
Proses ini membutuhkan rekayasa lalu lintas yang presisi agar tidak semakin memperparah kemacetan di kawasan Kuningan.
Setelah beton-beton raksasa tersebut dieksekusi, pertanyaan selanjutnya adalah: akan dijadikan apa lahan bekas tiang tersebut?
Pemprov DKI Jakarta rupanya telah menyiapkan cetak biru (blueprint) penataan ulang yang berfokus pada kenyamanan warga, khususnya para pejalan kaki.
Pembongkaran tiang monorel ini sebenarnya merupakan langkah awal atau milestone dari megaproyek penataan pedestrian di Jalan HR Rasuna Said.
Ke depannya, area yang sudah diratakan ini tidak akan dibiarkan kosong, melainkan akan dibangun fasilitas publik terpadu.
Fokus utama pembangunannya mencakup pembuatan trotoar atau jalur pedestrian yang lebar, perbaikan sistem drainase (selokan) untuk mencegah genangan air saat musim hujan, serta penambahan ruang terbuka hijau berupa taman-taman kecil di sepanjang jalur.
Pramono Anung menetapkan tenggat waktu yang cukup ambisius untuk proyek ini.
Ia menargetkan seluruh rangkaian penataan pedestrian ini dapat dinikmati oleh warga pada pertengahan tahun ini.
"Kita akan memulai untuk pembangunan tadi, mulai untuk pedestrian, selokan, taman, dan sebagainya. Mudah-mudahan bulan Juni, saya sudah memberikan target, untuk (tiang) monorel ini bisa diselesaikan," jelas mantan Sekretaris Kabinet tersebut.
Sebagai contoh, jika kamu pernah berjalan kaki di kawasan Sudirman-Thamrin yang trotoarnya sudah tertata rapi, standar kenyamanan seperti itulah yang rencananya akan direplikasi di sepanjang jalur HR Rasuna Said.
Membangun fasilitas publik yang bagus adalah satu hal, tetapi merawat dan menjaga fungsinya adalah tantangan yang sama sekali berbeda di Jakarta.
Salah satu masalah klasik yang sering merampas hak pejalan kaki di ibu kota adalah okupasi trotoar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Sering kali, trotoar yang baru selesai dibangun dan diperlebar langsung beralih fungsi menjadi area parkir liar atau tempat berjualan.
Menyadari potensi masalah ini, Gubernur Pramono Anung tidak tinggal diam.
Seiring dengan berjalannya proses konstruksi, ia langsung menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk melakukan langkah antisipatif dan represif secara terukur.
Sasarannya jelas, yakni menertibkan area pedestrian dari okupan yang menyalahi aturan.
"Kami meminta kepada jajaran Satpol PP untuk melakukan penertiban kepada PKL-PKL, apakah itu PKL liar maupun binaan, termasuk ojol, untuk tidak sembarangan memarkir kendaraan ataupun dagangannya di tempat-tempat yang akan ditata oleh Pemerintah DKI Jakarta," tandas Pramono dengan tegas.
Instruksi ini menjadi peringatan keras. PKL liar sering kali memakan hampir separuh badan trotoar, sementara kerumunan pengemudi ojol yang menunggu penumpang atau pesanan makanan kerap memarkirkan motor mereka secara berlapis hingga memakan bahu jalan.
Jika tidak diawasi sejak dini, wajah baru HR Rasuna Said yang ditargetkan selesai pada Juni 2026 hanya akan menjadi sumber kemacetan baru.
Dengan dilakukannya revitalisasi besar-besaran ini, ada harapan besar bahwa budaya berjalan kaki dan penggunaan transportasi umum di Jakarta Selatan akan semakin meningkat.
Kawasan HR Rasuna Said sendiri telah dilewati oleh moda transportasi modern seperti LRT Jabodebek dan Transjakarta.
Jika jalur pedestriannya terhubung dengan baik, mulus, aman, dan teduh, para pekerja kantoran tentu tidak akan segan untuk beralih dari kendaraan pribadi dan berjalan kaki dari stasiun atau halte menuju kantor mereka.
Selain memperindah estetika kota, perbaikan selokan yang disebutkan oleh Gubernur juga diharapkan mampu menjawab keluhan warga terkait genangan air yang kerap muncul di jalur lambat Kuningan saat hujan lebat turun. Ini adalah langkah nyata menuju visi Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berkelanjutan.
Langkah Pemprov DKI Jakarta di bawah arahan Pramono Anung ini patut kita dukung dan awasi bersama. Bagaimana menurut kamu?
Apakah kamu optimis target bulan Juni 2026 ini bisa tercapai dan kawasan HR Rasuna Said akan benar-benar bebas dari parkir liar?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta