Senin, 16 FEBRUARI 2026 • 19:27 WIB

Tembok Roboh Timpa SMPN 182 di Kalibata, Disdik DKI Jakarta Targetkan Perbaikan Rampung Pekan Depan

Author

SMP Negeri 182 di Kalibata, Jakarta Selatan (Luthfia Miranda Putri/ANTARA)

JAKARTA - Sebuah rekaman kamera pengawas mendadak viral dan memicu kekhawatiran warganet, khususnya warga Jakarta Selatan, pada akhir pekan kemarin.

Video yang diunggah oleh akun Instagram @jakartaselatan24jam tersebut memperlihatkan detik-detik mencekam saat tembok pembatas berukuran raksasa tiba-tiba ambruk dan menimpa area sekolah SMPN 182 Jakarta.

Debu tebal yang membumbung tinggi sesaat setelah reruntuhan menghantam tanah menjadi pemandangan yang mengerikan.

Insiden ini tentu membuat kamu bertanya-tanya, bagaimana nasib fasilitas pendidikan di kawasan Kalibata, Pancoran tersebut dan seberapa cepat penanganannya?

Beruntung, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta langsung bergerak cepat untuk memastikan keamanan dan kenyamanan proses belajar mengajar tidak terganggu terlalu lama.

Baca juga: Bukan Sekadar Tontonan, Puluhan Film Pendek Pelajar Jakarta Sukses Pukau Wali Kota Jakpus di Festival Bergengsi

Insiden tembok roboh ini terjadi tepat pada hari Minggu (15/2/2026) pukul 11.22 WIB.

Tembok yang menjadi pembatas antara area sekolah dengan pemukiman warga tersebut ambruk seketika, menimpa pagar sekolah dan sebagian bangunan ruang piket.

Namun, kabar baik datang dari Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta yang tidak mau berlama-lama membiarkan kondisi ini.

Kepala Unit Pengelola Prasarana dan Sarana Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Budiyono, memastikan bahwa proses perbaikan sedang dikebut.

Saat ditemui di Jakarta pada hari Senin (16/2), Budiyono menegaskan target penyelesaian yang sangat ketat.

"Ditargetkan tanggal 23 (Februari 2026) selesai," ujar Budiyono dengan optimis.

Artinya, hanya butuh waktu sekitar satu minggu bagi tim gabungan untuk memulihkan kondisi fisik di lokasi kejadian agar kembali normal seperti sedia kala.

Berdasarkan investigasi di lapangan, insiden ini bukan disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem semata, melainkan kombinasi kondisi struktur tanah dan bangunan tua.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyoroti bahwa struktur tanah di lokasi kejadian tergolong labil, yang menjadi salah satu pemicu utama pergeseran pondasi pagar.

Fakta menarik lainnya terungkap mengenai status tembok tersebut.

Tembok setinggi dan sepanjang 5,3 x 60 meter itu ternyata bukan milik sekolah, melainkan milik warga yang tinggal tepat di samping SMPN 182, yakni Ibu Soviana dan Bapak Suprayitno.

Budiyono menjelaskan bahwa kondisi tembok tersebut sebenarnya sudah diketahui miring sejak lama. Ironisnya, pemilik rumah sebenarnya sudah memiliki itikad untuk memperbaikinya.

"Tembok milik Ibu Sofiana dan Pak Suprayitno, berukuran 5,3 x 60 meter, roboh menimpa pagar tembok SMPN 182 dan sedikit gedung ruang piket SMPN 182. Pagar tembok itu sebenarnya sudah miring sejak lama. Pemilik berencana memperbaikinya setelah Imlek, namun roboh lebih awal," jelas Budiyono.

Baca juga: Siap Hadapi PPDB? Intip 8 SMP Negeri Unggulan di DKI Jakarta yang Jadi Incaran Para Juara!

Rencana renovasi yang sedianya dilakukan pasca-Imlek ternyata kalah cepat dengan takdir, di mana struktur tembok sudah tidak sanggup lagi menahan beban.

Dampak dari robohnya tembok ini tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga menyumbat saluran air di sekitarnya.

Material reruntuhan yang masif menutupi parit, yang jika dibiarkan, bisa memicu banjir di area sekolah dan pemukiman warga mengingat curah hujan di Jakarta yang masih fluktuatif.

Untuk mencegah hal tersebut, Dinas Pendidikan DKI langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Suku Dinas Wilayah, Polsek setempat, Babinsa, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kecamatan, Kelurahan Kalibata, hingga Satpol PP.

Tindakan paling krusial saat ini dilakukan oleh tim Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan.

"Pertama, langkahnya adalah pengerukan oleh SDA. Itu agar paritnya tidak mampet sehingga tidak terjadi banjir. Sekarang, sedang berproses, pembersihan," tambah Budiyono.

Pengerukan ini menjadi prioritas utama sembari puing-puing tembok dievakuasi dari lokasi.

Mungkin kamu penasaran, siapa yang akan menanggung biaya kerusakan fasilitas negara ini?

Budiyono menegaskan bahwa seluruh biaya perbaikan dan pemulihan prasarana menjadi tanggung jawab pemilik tembok, yakni pihak keluarga Soviana dan Suprayitno. 

Baca juga: Pasca Kebakaran Mampang, Pemkot Jakarta Selatan Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak di Jalan Bangka III

Hal ini karena sumber kerusakan berasal dari properti pribadi yang berdampak pada fasilitas umum.

Meskipun visual dari CCTV terlihat sangat dramatis dan mengerikan, patut disyukuri bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini, mengingat kejadian berlangsung pada hari Minggu saat aktivitas sekolah sedang libur.

Hingga saat ini, pihak terkait masih melakukan pendataan rinci mengenai total kerugian materiil akibat insiden tersebut.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi kamu yang memiliki bangunan atau tembok pembatas yang sudah tua dan miring, untuk segera melakukan perbaikan sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.

Bagi warga sekolah SMPN 182, diharapkan proses belajar mengajar dapat segera kembali kondusif seiring dengan target perbaikan yang rampung pekan depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU