JAKARTA - Pernahkah kamu bangun pagi, membuka jendela, dan berharap menghirup udara segar, tapi malah disambut langit abu-abu yang pekat?
Jangan salah sangka, itu bukan kabut sisa hujan semalam atau embun pagi yang menyejukkan. Itu adalah polusi yang sedang mengepung kota kita tercinta.
Pemandangan muram ini menjadi realitas yang harus dihadapi warga Jakarta pada Rabu pagi ini (11/2/2026), di mana kualitas udara Ibu Kota sedang dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Data terbaru menunjukkan bahwa Jakarta kembali masuk dalam jajaran kota dengan kualitas udara terburuk secara global.
Situasi ini tentu menjadi "alarm" bagi kesehatan kamu dan jutaan warga lainnya yang beraktivitas di luar ruangan.
Lantas, seberapa parah kondisinya dan apa langkah konkret pemerintah untuk mengatasi masalah menahun ini?
Jakarta "Hampir Raih Podium" di Ranking Udara Terburuk Dunia
Berdasarkan pantauan langsung dari situs pemantau kualitas udara global, IQAir, pada pukul 06.15 WIB, kualitas udara di DKI Jakarta menyentuh angka yang bikin sesak napas.
Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta bertengger di angka 175 dengan konsentrasi partikel halus (PM 2.5) yang masuk dalam kategori tidak sehat.
Angka tersebut menempatkan Jakarta di peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pagi ini.
Posisi Jakarta hanya lebih baik sedikit dibandingkan tiga kota di Asia Selatan yang menempati posisi teratas, seperti New Delhi (India) dengan indeks AQI 317, Dhaka (Bangladesh) dengan indeks AQI 296, dan Kolkata (India) dengan indeks AQI 232.
Tingginya angka PM 2.5 ini sangat berisiko bagi kesehatan pernapasan, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma.
Transportasi Jadi Biang Kerok Utama
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak tinggal diam.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti fakta bahwa sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar polusi di Ibu Kota.
Dalam acara Townhall Meeting yang membahas solusi mengatasi polusi udara di M Bloc, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/2), Pramono mengungkapkan data krusial.
"Sektor transportasi saat ini menyumbang 50 persen emisi gas buang di Jakarta," ujar Pramono.
Oleh karena itu, strategi utama Pemprov DKI saat ini difokuskan pada reformasi sistem transportasi massal untuk menekan emisi tersebut secara signifikan.
Apa Strategi Besar Pemprov DKI Jakarta untuk Lawan Polusi?
Gubernur Pramono Anung telah menyiapkan tiga strategi "jurus jitu" yang tengah dan akan dijalankan untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta agar langit kembali biru.
Langkah pertama adalah "memaksa" pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum dengan cara menyediakan akses yang lebih mudah dan luas.
Pemprov DKI memperluas layanan bus Transjabodetabek, khususnya untuk rute-rute penyangga yang padat pelaju.
Beberapa rute yang menjadi fokus antara lain Blok M-Alam Sutera dan Blok M-PIK. Tak hanya itu, rencana pembukaan rute baru Blok M-Bandara Soekarno Hatta juga tengah dimatangkan.
Saat ini, konektivitas transportasi Jakarta telah mencapai 92 persen, sebuah pencapaian yang menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.
Gubernur Pramono juga mengajak kamu untuk memanfaatkan fasilitas ini.
Terlebih, Pemprov DKI telah menerbitkan aturan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat, termasuk lansia, penyandang disabilitas, hingga penerima KJP.
Strategi kedua adalah elektrifikasi. Mengurangi jumlah kendaraan pribadi saja tidak cukup jika angkutan umumnya masih ngebul.
Pramono menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada tahun 2030 mendatang.
"Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," tegas Pramono.
Transisi ke kendaraan listrik ini diharapkan dapat memangkas separuh dari total emisi yang dihasilkan sektor transportasi saat ini.
Selain asap knalpot, pengelolaan sampah juga menjadi fokus ketiga. Pembakaran sampah dan gas metana dari timbunan sampah turut memperburuk kualitas udara.
Untuk itu, Pemprov DKI mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF).
Proyek ITF ini akan dibangun di empat lokasi strategis, yakni Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Kabar baiknya, proyek ini ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini.
"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," tambah Pramono.
Jadi, sambil menunggu strategi jangka panjang ini membuahkan hasil, ada baiknya kamu tetap waspada.
Jangan lupa cek kualitas udara sebelum beraktivitas dan gunakan masker jika indeks polusi sedang tinggi.
Mari kita dukung upaya birukan langit Jakarta dengan mulai beralih ke transportasi publik!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara News