Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 09:37 WIB

Ekonomi DKI Jakarta Melesat 5,21 Persen Lampaui Nasional, Gubernur Pramono Anung Bongkar Strategi Jitu Ini

Author

Kondisi di kawasan Bundaran HI (Dessy Suciati/Berita Jakarta)

JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bahwa di tengah tantangan ekonomi global yang tak menentu, Jakarta justru berhasil mencatatkan prestasi yang membanggakan?

Kabar baik baru saja berhembus bagi warga ibu kota. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta secara resmi merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta sepanjang tahun 2025 berhasil menembus angka 5,21 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Angka ini bukan sekadar statistik biasa, melainkan sebuah bukti ketangguhan ekonomi Jakarta yang sukses melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,11 persen.

Prestasi ini tentu menjadi angin segar bagi iklim investasi dan kesejahteraan masyarakat di kota metropolitan ini.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tidak dapat menyembunyikan rasa gembiranya saat menanggapi rilis resmi BPS tersebut di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat (6/2/2026).

Baca juga: Rute MRT Jakarta Tembus ke Balaraja, Komisi D DPRD DKI: Langkah Strategis Perkuat Integrasi Dua Wilayah

Ia menyoroti bahwa performa positif ini sangat dipengaruhi oleh lonjakan ekonomi yang terjadi pada penghujung tahun.

Secara spesifik, pada triwulan keempat tahun 2025, ekonomi Jakarta melesat tajam hingga mencapai 5,71 persen.

Menurutnya, capaian ini menjadi sinyal yang semakin positif bagi masa depan Jakarta.

Ia menegaskan bahwa kemampuan Jakarta untuk tumbuh di atas rata-rata nasional adalah indikator bahwa roda perekonomian di tingkat daerah berjalan dengan sangat efektif dan dinamis.

Kamu mungkin bertanya-tanya, apa sebenarnya rahasia di balik lonjakan pertumbuhan ekonomi ini?

Ternyata, salah satu pendorong utamanya adalah kebijakan strategis pemerintah daerah dalam mendongkrak konsumsi masyarakat, terutama selama periode Natal dan Tahun Baru. 

Pemprov DKI Jakarta tidak tinggal diam, mereka memberikan berbagai insentif pajak serta membuka ruang yang luas bagi sektor perhotelan, pusat perbelanjaan, hingga UMKM untuk berkembang maksimal di momen liburan tersebut.

Hasil dari kebijakan pro-pertumbuhan ini sangat nyata. Tercatat, transaksi ekonomi selama periode Natal dan Tahun Baru di Jakarta mencapai angka fantastis sebesar Rp15,25 triliun.

Pramono menjelaskan bahwa tingginya aktivitas transaksi inilah yang secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan drastis di triwulan keempat.

Strategi ini membuktikan bahwa dengan stimulus yang tepat, daya beli masyarakat dapat dijaga dan bahkan ditingkatkan, yang pada akhirnya bermuara pada pertumbuhan ekonomi makro yang solid.

Tidak ingin kehilangan momentum, Pramono Anung memastikan bahwa strategi serupa akan terus diterapkan untuk menyambut perayaan besar lainnya.

Pemprov DKI berencana mengadopsi pendekatan yang sama dalam menghadapi momen Tahun Baru Imlek, bulan suci Ramadan, hingga Hari Raya Idulfitri.

Rencana tersebut meliputi penyelenggaraan berbagai kegiatan menarik, termasuk lomba diskon dan pemberian insentif pajak tambahan.

Baca juga: Bendung Katulampa Berstatus Siaga 3, Gubernur Pramono Anung: Air Harus Segera Dibuang ke Laut

Tujuannya sangat jelas, yaitu menjaga agar harga barang tetap kompetitif sehingga masyarakat seperti kamu bisa menikmati belanja dengan nyaman, sementara pusat perbelanjaan dan UMKM tetap hidup dan bergairah.

Pramono meyakini bahwa untuk menumbuhkan ekonomi Jakarta di tengah persaingan ketat, diperlukan inovasi dan pembiayaan kreatif atau creative financing.

Tanpa adanya terobosan kebijakan dari Pemprov DKI, pertumbuhan ekonomi Jakarta hanya akan stagnan dan sama rata dengan angka nasional.

Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui insentif dan event strategis menjadi kunci vital.

Meskipun pertumbuhan ekonomi melesat, orang nomor satu di DKI Jakarta ini menyadari bahwa pekerjaan rumah belum selesai, terutama terkait angka gini ratio atau ketimpangan pendapatan. 

Upaya mengatasi masalah kemiskinan dan ketimpangan tetap menjadi salah satu prioritas utama pemerintahannya.

Hal tersebut dibuktikan dengan komitmen anggaran yang kuat meskipun terdapat pemangkasan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta tahun ini.

Pramono menjamin bahwa efisiensi anggaran tidak akan mengganggu alokasi program pendidikan dan kesejahteraan masyarakat vital seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), hingga program pemutihan ijazah.

Pramono mengaku belum sepenuhnya puas terhadap capaian penurunan gini ratio saat ini, meskipun Pemprov DKI telah menggelontorkan anggaran hingga Rp2 triliun khusus untuk menangani masalah ketimpangan tersebut.

Baca juga: Resmikan Masjid As-Sakinah di Tebet, Pramono Anung: Bikin Hati Tenteram di Tengah Cuaca Ekstrem

Ia berharap hasil evaluasi tahun depan akan menunjukkan perbaikan yang lebih signifikan. 

Strategi jangka panjang telah disiapkan, mulai dari perbaikan infrastruktur kota hingga memberikan kemudahan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. 

Bagi Pramono, menekan angka ketimpangan adalah hal yang sangat krusial agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi juga dirasakan oleh seluruh lapisan warga Jakarta.

Jadi, bagaimana menurut kamu tentang strategi ekonomi Jakarta ini?

Apakah kamu sudah merasakan dampak positif dari pertumbuhan ekonomi dan kemudahan berbelanja di ibu kota?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU