Tunda Perbaikan Jalan Rusak di Jakarta, Pramono Anung: Percuma Jika Masih Hujan, Aspal Pasti Terkelupas Lagi
JAKARTA - Musim hujan yang melanda wilayah DKI Jakarta di awal tahun 2026 ini kembali membawa dampak klasik yang kerap dikeluhkan oleh warga ibu kota, yakni munculnya jalan berlubang di berbagai titik krusial.
Genangan air yang merendam aspal dalam waktu lama, ditambah dengan beban kendaraan yang melintas, mempercepat kerusakan infrastruktur jalan.
Kondisi ini tentu memicu pertanyaan publik mengenai kapan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan turun tangan untuk memuluskan kembali akses jalan yang membahayakan pengendara tersebut.
Menanggapi keresahan ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan penjelasan logis dan strategis terkait penanganan jalan rusak di tengah cuaca ekstrem.
Saat melakukan tinjauan lapangan di kawasan Kali Cakung Lama Rawa Indah, Cilincing, Jakarta Utara, pada Selasa (27/1/2026), Pramono Anung menekankan bahwa pemerintah tidak tinggal diam.
Namun, ia meminta masyarakat untuk memahami kendala teknis yang dihadapi di lapangan.
Menurutnya, melakukan perbaikan jalan secara masif saat curah hujan masih tinggi adalah langkah yang sia-sia dan justru merupakan pemborosan anggaran.
Ia menegaskan bahwa musuh utama aspal panas adalah air hujan, sehingga pengerjaan konstruksi jalan membutuhkan waktu yang tepat agar hasilnya maksimal dan tahan lama.
Dilema Cuaca Ekstrem dan Efektivitas Perbaikan
Gubernur Pramono menjelaskan bahwa Dinas Bina Marga DKI Jakarta sebenarnya telah siap siaga dengan peralatan dan material untuk melakukan penambalan atau perbaikan jalan-jalan yang berlubang.
Kesiapan ini merupakan bentuk respons cepat pemerintah terhadap laporan warga.
Akan tetapi, data meteorologi menunjukkan bahwa intensitas hujan di Jakarta diprediksi masih akan tinggi hingga tanggal 1 Februari 2026 mendatang.
Fakta inilah yang memaksa Pemprov DKI untuk menahan diri sejenak sebelum mengerahkan alat berat ke jalanan.
Pramono secara gamblang menyebutkan bahwa memaksakan perbaikan di tengah guyuran hujan hanya akan memberikan solusi semu yang berumur sangat pendek.
Ia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada warga dengan jalan yang terlihat mulus di pagi hari namun kembali hancur di sore hari.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa jika perbaikan dipaksakan sekarang, lapisan aspal tersebut pasti akan terkelupas kembali hanya dalam waktu satu atau dua hari.
Hal ini dikarenakan aspal tidak dapat merekat sempurna pada permukaan yang basah atau lembap, sehingga daya tahannya menjadi sangat lemah terhadap gesekan ban kendaraan.
Belajar dari Kegagalan Penambalan di Jalan Gatot Subroto
Keputusan untuk menunda perbaikan massal ini bukanlah tanpa alasan yang kuat. Pramono Anung menceritakan pengalaman nyata yang baru saja terjadi sebagai bukti ketidakefektifan perbaikan jalan di saat hujan.
Ia mencontohkan kasus penambalan jalan yang dilakukan di salah satu jalan protokol utama, yakni Jalan Gatot Subroto.
Sebelumnya, ia telah memerintahkan jajarannya untuk segera menambal lubang di kawasan tersebut demi kenyamanan pengguna jalan.
Namun, hasil yang didapatkan jauh dari harapan. Begitu hujan deras kembali mengguyur kawasan tersebut dengan intensitas tinggi, aspal yang baru saja ditambal tersebut kembali rusak dan terkelupas.
Insiden di Jalan Gatot Subroto ini menjadi pelajaran berharga bagi Pemprov DKI Jakarta untuk tidak gegabah.
Pramono menyadari bahwa niat baik untuk segera memperbaiki jalan harus dibarengi dengan perhitungan teknis yang matang mengenai kondisi cuaca.
Kejadian tersebut membuktikan bahwa melawan hukum alam dalam konstruksi jalan hanya akan membuang tenaga dan material tanpa memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Bukan Sekadar Tambal Sulam, Tapi Pengaspalan Ulang
Lebih jauh lagi, strategi yang disiapkan oleh Gubernur Pramono Anung setelah cuaca membaik nanti bukan sekadar menutup lubang.
Ia menginstruksikan Dinas Bina Marga untuk melakukan perbaikan yang lebih komprehensif.
Pramono menyadari bahwa metode tambal sulam sering kali menyisakan permukaan jalan yang tidak rata dan tetap berpotensi rusak kembali di bagian sambungannya.
Oleh karena itu, ia meminta agar dilakukan pengaspalan ulang atau overlay pada ruas-ruas jalan yang mengalami kerusakan parah.
Tentu saja, proses pengaspalan ulang ini membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama dibandingkan sekadar menambal lubang.
Namun, langkah ini dinilai jauh lebih efektif untuk menjamin kualitas jalan yang memiliki daya tahan lebih baik terhadap cuaca dan beban kendaraan di masa depan.
Pramono ingin memastikan bahwa ketika perbaikan dilakukan, hasilnya benar-benar bisa dinikmati oleh warga Jakarta dalam jangka waktu yang panjang, bukan solusi instan yang cepat rusak.
Anggaran Siap, Tinggal Menunggu Momen yang Tepat
Di sisi lain, Pramono Anung juga memberikan jaminan mengenai ketersediaan dana perbaikan.
Ia menegaskan kepada publik bahwa masalah anggaran sama sekali bukan menjadi kendala bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Baca juga: Investasi Jakarta Tahun 2025 Tembus Rp270 Triliun, Pramono Anung: Bukti Ekonomi Solid dan Izin Mudah
Alokasi dana untuk perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur jalan telah disiapkan dan sangat mencukupi untuk menangani kerusakan yang ada di seluruh wilayah ibu kota.
Kini, yang dibutuhkan hanyalah kesabaran menunggu hingga siklus cuaca ekstrem mereda.
Begitu intensitas hujan berkurang dan kondisi tanah serta jalanan dinilai cukup kering untuk dilakukan pengerjaan aspal, Dinas Bina Marga akan segera bergerak secara serentak.
Masyarakat diharapkan dapat bersabar sedikit lagi demi mendapatkan kualitas jalan yang prima dan aman, sembari tetap berhati-hati saat melintasi titik-titik genangan yang masih ada saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta