Transaksi Digital Jakarta Melonjak! Gubernur Pramono Anung Ungkap Penggunaan QRIS di Pasar Tumbuh 47 Persen
JAKARTA - Transformasi ekonomi digital di Jakarta menunjukkan percepatan yang luar biasa dalam beberapa waktu terakhir.
Kebiasaan masyarakat Ibu Kota untuk membawa uang tunai kini perlahan mulai ditinggalkan, tergantikan oleh kenyamanan pemindaian kode respon cepat atau yang lebih dikenal dengan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Fenomena pergeseran gaya hidup ini tidak hanya terjadi di pusat perbelanjaan mewah, melainkan telah merambah hingga ke pasar-pasar tradisional.
Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang memaparkan data mengejutkan mengenai adopsi pembayaran non-tunai di wilayahnya.
Dalam konferensi pers terkait pemaparan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025 yang digelar di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, pada Rabu (21/1/2026), Pramono Anung menyoroti tren positif ini.
Ia menyampaikan bahwa kenaikan aktivitas transaksi digital di Jakarta, terutama melalui kanal pembayaran QRIS, mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta semakin nyaman dan percaya diri menggunakan teknologi finansial dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Ledakan Digitalisasi di Pasar Tradisional
Salah satu sorotan utama yang disampaikan oleh Pramono adalah keberhasilan penetrasi digital di sektor ekonomi kerakyatan.
Ia mengungkapkan bahwa digitalisasi di pasar-pasar tradisional mencatatkan angka pertumbuhan yang impresif.
Berdasarkan pemantauan pemerintah provinsi, terutama saat momentum perlombaan pasar, tingkat penggunaan transaksi digital di lokasi tersebut meningkat hingga 47 persen.
Angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa pedagang kecil dan UMKM di Jakarta telah siap beradaptasi dengan ekosistem ekonomi modern.
Pramono menjelaskan bahwa kanal pembayaran QRIS menjadi primadona dalam perubahan perilaku transaksi ini.
Kemudahan yang ditawarkan QRIS membuat proses jual beli menjadi lebih efisien, aman, dan tercatat dengan baik.
Peningkatan drastis di sektor pasar tradisional ini menandakan bahwa literasi keuangan digital warga Jakarta sudah merata ke berbagai lapisan masyarakat, tidak lagi eksklusif bagi kalangan menengah ke atas saja.
Dominasi Jakarta dalam Peta Transaksi Nasional
Data statistik yang dibeberkan dalam pemaparan tersebut semakin mempertegas posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi digital Indonesia.
Volume transaksi yang menggunakan metode QRIS di Jakarta tercatat mencapai angka fantastis, yakni sebesar 5,02 miliar transaksi.
Capaian ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 177 persen, sebuah lonjakan yang sangat masif.
Kontribusi Jakarta terhadap volume transaksi QRIS nasional pun sangat dominan, menyumbang angka sebesar 36,78 persen dari total transaksi di seluruh Indonesia.
Tidak hanya dari sisi volume transaksi, ekosistem pendukungnya pun tumbuh subur.
Jumlah merchant atau pedagang yang menyediakan layanan QRIS di Jakarta kini telah mencapai 6,52 juta entitas.
Angka merchant ini mengalami pertumbuhan sebesar 14,45 persen dan memberikan kontribusi sebesar 15,54 persen terhadap jumlah merchant nasional.
Data tersebut mengindikasikan bahwa para pelaku usaha di Jakarta sangat responsif dalam menyediakan fasilitas pembayaran yang diminati oleh konsumen.
Di sisi konsumen, antusiasme warga Jakarta untuk beralih ke pembayaran digital juga terekam jelas dalam data statistik.
Tercatat terdapat 6,14 juta pengguna aktif QRIS di wilayah DKI Jakarta. Jumlah pengguna ini mengalami pertumbuhan sebesar 3,44 persen dan berkontribusi terhadap 10,42 persen dari total pengguna QRIS secara nasional.
Keseimbangan pertumbuhan antara jumlah merchant, volume transaksi, dan jumlah pengguna ini menciptakan ekosistem pembayaran digital yang sehat dan berkelanjutan di Ibu Kota.
Optimisme Ekonomi dan Daya Beli Warga
Lonjakan transaksi digital ini ternyata berkorelasi lurus dengan aktivitas konsumsi masyarakat yang kian membaik.
Pramono menegaskan bahwa peningkatan transaksi ini merupakan cerminan dari roda perekonomian Jakarta yang berputar kencang.
Dalam struktur ekonomi Jakarta, konsumsi rumah tangga memegang peranan yang sangat vital dengan kontribusi mencapai 63,43 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Artinya, daya beli masyarakat adalah tulang punggung utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Orang nomor satu di DKI Jakarta ini juga menyampaikan data mengenai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimistik.
Dengan angka mencapai 145,33 persen, indeks ini mencerminkan persepsi positif masyarakat terhadap stabilitas ekonomi Jakarta saat ini.
Tingginya keyakinan konsumen tersebut menjadi sinyal bahwa warga Jakarta merasa aman dan optimis dalam membelanjakan uang mereka, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan transaksi digital lebih tinggi lagi.
Stabilitas ekonomi yang terjaga, ditambah dengan kemudahan infrastruktur pembayaran digital, menjadi kombinasi kuat yang menjamin Jakarta tetap menjadi barometer ekonomi nasional di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta