Kamis, 22 JANUARI 2026 • 08:51 WIB

Cuaca Ekstrem Mengintai Jakarta, Komisi D DPRD DKI Desak Pemprov Perkuat Mitigasi dan Hapus Ego Sektoral

Author

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike (Fakhrizal Fahri/Berita Jakarta)

JAKARTA - Ancaman cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan menyelimuti wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa bulan ke depan menuntut kewaspadaan tingkat tinggi dari semua pihak.

Isu banjir yang kerap menjadi momok tahunan bagi warga Ibu Kota kembali menjadi sorotan utama para pemangku kebijakan.

Menanggapi potensi bencana hidrometeorologi ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta memberikan peringatan keras sekaligus dorongan moral kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tidak lengah sedikit pun dalam memperkuat langkah mitigasi.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, secara tegas meminta agar kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir terus ditingkatkan.

Dalam keterangannya pada Kamis (22/1/2026), Yuke menyoroti bahwa keberhasilan penanganan banjir di Jakarta tidak bisa hanya bergantung pada satu instansi saja, melainkan membutuhkan orkestrasi yang rapi antara berbagai sektor pemerintahan.

Baca juga: Komisi D DPRD DKI Dorong Pembangunan Lebih Efisien dan Tepat Sasaran

Koordinasi Lintas Sektor Merupakan Kunci Mutlak

Poin utama yang ditekankan oleh Yuke Yurike adalah vitalnya koordinasi lintas sektor. Menurutnya, antisipasi bencana tidak akan berjalan efektif jika masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) berjalan sendiri-sendiri.

Ia mengingatkan bahwa kunci dari antisipasi yang sukses adalah koordinasi yang solid dan terstruktur.

Langkah mitigasi harus dipandang sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, dimulai dari pemantauan cuaca yang akurat secara berkala hingga eksekusi teknis di lapangan.

Yuke menjelaskan bahwa sinergi harus terjalin erat antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Bina Marga, hingga jajaran pemerintah kota administrasi.

Semua elemen ini harus bergerak dalam satu komando yang sama dan memiliki respons cepat ketika insiden terjadi di lapangan.

Legislator Kebon Sirih ini menegaskan bahwa dalam situasi darurat seperti banjir, ego sektoral harus dikesampingkan demi keselamatan warga Jakarta.

Kejelasan komando menjadi aspek krusial agar penanganan di lapangan tidak tumpang tindih dan bantuan dapat disalurkan dengan efisien.

Perlindungan Keselamatan Bagi Petugas Lapangan

Selain fokus pada manajemen birokrasi dan komando, Yuke juga memberikan perhatian khusus pada aspek keselamatan manusia, khususnya bagi para petugas yang menjadi garda terdepan penanganan banjir.

Ia mengingatkan Pemprov DKI Jakarta agar memastikan seluruh petugas di lapangan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai dan memenuhi standar keselamatan kerja (K3). 

Hal ini dinilai sangat penting agar niat mulia untuk menolong warga tidak berujung pada celaka bagi petugas itu sendiri.

Bagi Yuke, keselamatan petugas harus menjadi prioritas yang tidak boleh ditawar.

Ia tidak ingin mendengar adanya petugas yang berniat membantu penanganan bencana justru membahayakan diri sendiri karena peralatan yang mereka gunakan tidak lengkap atau tidak layak pakai.

Baca juga: Tembus 2,4 Juta Pengunjung, Ini Rahasia Kota Tua Jakarta Tetap Jadi Primadona Wisata Sepanjang Tahun 2025

Ketersediaan alat pelindung diri dan peralatan evakuasi yang mumpuni adalah investasi wajib dalam manajemen bencana.

Tantangan Teknis dan Pengerukan Sungai

Di sisi teknis infrastruktur, upaya pengerukan kali dan sungai guna meningkatkan kapasitas tampung air terus didorong untuk dilakukan secara berkala.

Yuke menyebut kegiatan ini sebagai upaya normatif yang harus rutin dikerjakan tanpa menunggu musim hujan tiba.

Kendati demikian, ia mengakui adanya kendala nyata di lapangan yang kerap menghambat proses ini, seperti lokasi sungai yang sulit dijangkau oleh alat berat atau adanya potensi longsor di sekitar tanggul yang labil.

Menyikapi kendala tersebut, Yuke menyarankan agar pengerukan tetap dilakukan selama kondisi masih memungkinkan dan dinilai aman.

Fleksibilitas dalam pengerjaan teknis diperlukan, namun tujuannya tetap satu, yaitu memastikan aliran air tidak terhambat oleh sedimentasi lumpur yang meninggi.

Secara umum, Yuke menilai langkah mitigasi yang dilakukan sejauh ini sudah diupayakan secara maksimal, namun kewaspadaan terhadap faktor alam yang sulit diprediksi harus tetap dijaga.

Warga Diminta Siapkan Tas Siaga Bencana

Mitigasi bencana bukan hanya tugas pemerintah semata. Yuke Yurike turut mengajak masyarakat Jakarta untuk mengambil peran aktif dalam menjaga keselamatan diri dan keluarga.

Edukasi dan sosialisasi kepada warga, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai atau wilayah cekungan yang rawan banjir, harus terus digencarkan.

Ia mendorong warga untuk mulai mempersiapkan langkah antisipasi mandiri sejak dini.

Salah satu langkah konkret yang disarankan adalah penyiapan tas siaga bencana, pengamanan dokumen-dokumen penting, serta penyelamatan kendaraan bermotor ke tempat yang lebih tinggi jika tanda-tanda air naik mulai terlihat.

Baca juga: Dramatis! 70 Personel Damkar Berjibaku Jinakkan Kobaran Api di Pabrik Tahu Petukangan Utara

Yuke menegaskan bahwa imbauan ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan sebagai bentuk edukasi agar warga lebih tangguh dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Kesiapsiagaan menjadi semakin krusial mengingat cuaca ekstrem adalah fenomena global yang dampaknya tidak hanya dirasakan di Jakarta.

Kolaborasi yang harmonis antara pemerintah yang sigap dan masyarakat yang waspada diharapkan dapat meminimalkan dampak kerugian materiil maupun non-materiil jika banjir melanda.

Yang terpenting saat ini adalah kesiapan mental dan fisik, saling mengingatkan antar warga, dan tetap menjaga kesehatan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU