Kamis, 08 JANUARI 2026 • 18:50 WIB

Rencana Induk Pengembangan Setu Babakan: Wagub Rano Karno Soroti Optimalisasi Fungsi dan Infrastruktur

Author

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno (Nugroho Sejati/Berita Jakarta)

JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, secara resmi mengusulkan inisiasi pembuatan sebuah grand design atau rencana induk komprehensif untuk pengembangan kawasan Pusat Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.

Kawasan yang berlokasi di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini dipandang perlu dirombak total agar dapat berfungsi secara lebih maksimal dan memainkan peran strategisnya dalam pelestarian budaya Betawi.

Usulan ini disampaikan Rano Karno usai melakukan kunjungan langsung ke lokasi pada hari Kamis (8/1/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari penugasan khusus yang diberikan oleh Gubernur Pramono Anung kepadanya, yang fokus pada revitalisasi tiga kawasan bersejarah utama di Ibu Kota.

"Ada penugasan yang diberikan Pak Gubernur kepada saya. Pertama Kota Tua, kemudian Pasar Baru dan Setu Babakan ini," ungkapnya, menegaskan bahwa pengembangan Setu Babakan adalah prioritas yang setara dengan proyek-proyek besar lainnya.

Baca juga: Wisata Religi di Jakarta Timur: Menelusuri Jejak Pangeran Jayakarta di Masjid Jami Assalafiyah yang Berusia 4 Abad!

Dari hasil peninjauan di lapangan, Rano Karno secara lugas mengidentifikasi berbagai persoalan mendasar yang selama ini menghambat potensi Setu Babakan.

Permasalahan-permasalahan tersebut akan segera ditindaklanjuti melalui serangkaian pembahasan dan rapat koordinasi dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di Balai Kota DKI Jakarta.

Optimalisasi Fungsi sebagai Basis Budaya dan Pendidikan

Dalam pembahasan awal, Rano Karno menekankan bahwa fungsi dan peran Setu Babakan harus dioptimalkan secara signifikan.

Kawasan ini nantinya tidak hanya menjadi ruang pameran budaya, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat aktivitas kebudayaan yang dinamis dan berakar kuat.

Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah menjadikan Setu Babakan sebagai base atau basis utama dari Lembaga Adat Betawi, sebuah institusi yang rencananya akan dibentuk dalam waktu dekat.

Kehadiran Lembaga Adat ini diharapkan dapat memberikan landasan kelembagaan yang kuat bagi pengembangan dan pelestarian nilai-nilai Betawi.

Selain itu, Rano Karno juga menyoroti kebutuhan mendesak akan adanya lembaga pendidikan formal di dalam kawasan tersebut.

Baca juga: Ratusan Warga Kelurahan Kartini Serbu Posyandu ILP, Menu Omelet Hingga Puding Jagung Jadi Rebutan!

Ia berpendapat bahwa Setu Babakan harus dilengkapi dengan sarana pendidikan yang spesifik, yang dapat menjadi pusat kajian dan pembelajaran mendalam tentang Jakarta dan kebudayaannya.

"Harus ada lembaga pendidikan di sini, dan kalau sanggar tempat latihan itu sudah ada. Bukan universitas, tapi misal seperti institut tentang Jakarta," jelasnya.

Institut tentang Jakarta ini diusulkan sebagai entitas pendidikan yang fokusnya bukan pada kurikulum umum, melainkan pada pengkajian mendalam, penelitian, dan penyebaran pengetahuan otentik terkait sejarah, tradisi, dan perkembangan Ibu Kota.

Hal ini bertujuan untuk mencetak generasi yang memahami dan mencintai warisan budaya lokal secara akademis dan praktis.

Solusi Infrastruktur dan Akses Monorel

Selain isu fungsi dan kelembagaan, Rano Karno juga menyoroti masalah infrastruktur yang perlu dibenahi secara serius.

Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh pengunjung Setu Babakan adalah aksesibilitas dan kemacetan parah menuju kawasan tersebut.

Untuk mengatasi persoalan ini, ia mengungkap rencana ambisius berupa pembangunan sarana transportasi publik modern.

Baca juga: Wisata Religi di Kepulauan Seribu: Menelusuri Jejak "Healing" Spiritual di Makam Habib Ali bin Ahmad bin Zein Al-Aidid

Rencana tersebut mencakup pembangunan jalur monorel yang direncanakan akan membentang hingga ke Setu Babakan.

Harapannya, proyek monorail ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan dan memudahkan masyarakat, baik warga Jakarta maupun wisatawan, untuk mengunjungi Perkampungan Budaya Betawi.

Peningkatan aksesibilitas ini dianggap krusial untuk meningkatkan kunjungan dan menghidupkan kegiatan ekonomi serta budaya di Setu Babakan.

Pentingnya Rencana Induk yang Terukur

Rano Karno menegaskan bahwa semua rencana besar ini harus didasarkan pada kerangka kerja yang jelas dan terarah.

"Harus dibikin grand design (rencana induk), karena di sini ternyata belum ada. Walau mungkin nanti pembangunannya bertahap, tapi grand design harus kita punya," tandasnya.

Rencana induk ini berfungsi sebagai peta jalan yang akan memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan dapat dilakukan secara bertahap, terukur, dan sesuai dengan konsep menyeluruh yang telah disepakati.

Seluruh hasil kunjungan dan pembahasan awal ini akan segera dilaporkan kepada Gubernur Pramono Anung, memastikan bahwa proses pembangunan yang melibatkan OPD akan berjalan sinergis dan mencapai target optimalisasi fungsi Setu Babakan sebagai pusat budaya kebanggaan Jakarta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU