Rabu, 27 AGUSTUS 2025 • 17:56 WIB

IHSG Menguat Meski Mayoritas Bursa Asia Melemah

Author

Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Fauzan)

JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada akhir perdagangan Rabu sore, meskipun sebagian besar bursa saham di kawasan Asia mengalami tekanan. IHSG menguat sebesar 30,42 poin atau 0,38 persen, berakhir di level 7.936,18.

Namun, berbeda dengan indeks utama, LQ45 justru melemah sebesar 0,51 persen ke posisi 813,47.

Menurut kajian dari Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pasar merespons positif laporan terbaru dari China yang menunjukkan pemulihan dalam sektor industrinya.

Data Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan bahwa laba industri China mengalami penyusutan sebesar 1,5 persen secara tahunan pada Juli 2025.

Meski masih negatif, angka ini menunjukkan perbaikan dari penurunan 4,3 persen pada bulan sebelumnya.

Pelaku pasar melihat sinyal ini sebagai dampak dari upaya pemerintah China yang terus menggulirkan stimulus demi memulihkan perekonomiannya.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, muncul kekhawatiran soal independensi The Federal Reserve setelah Presiden Donald Trump secara mengejutkan memberhentikan Gubernur The Fed, Lisa Cook.

Langkah ini memunculkan spekulasi negatif di pasar global, terutama terkait arah kebijakan moneter AS ke depan.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang mengungkapkan bahwa AS secara prinsip bersedia mengecualikan komoditas utama Indonesia — seperti kakao, minyak sawit, dan karet — dari bea masuk 19 persen yang sempat diberlakukan awal Agustus lalu. Kebijakan ini dinilai dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia ke pasar global.

IHSG sendiri dibuka menguat dan bertahan di wilayah positif sepanjang dua sesi perdagangan hari ini. Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor mengalami penguatan.

Sektor industri memimpin dengan kenaikan 2,20 persen, diikuti sektor barang baku dan properti yang masing-masing naik 2,17 persen dan 2,11 persen. Sebaliknya, lima sektor mengalami pelemahan.

Penurunan terdalam dialami sektor barang konsumen non-primer yang turun hampir 1 persen, disusul sektor teknologi dan barang konsumen primer.

Adapun saham-saham yang mencatat kenaikan tertinggi antara lain: MITI, HUMI, BSBK, KETR, dan PGUN. Di sisi lain, saham seperti JECC, RELI, RGAS, FITT, dan KRYA menjadi yang paling tertekan hari ini.

Dalam sehari, tercatat lebih dari 2,3 juta transaksi saham dengan volume perdagangan mencapai 41,21 miliar lembar saham senilai total Rp21,57 triliun.

Dari total emiten, 335 saham menguat, 327 saham melemah, dan 142 saham stagnan. Di regional Asia, indeks Nikkei di Jepang masih berhasil naik 0,20 persen, namun Hang Seng, Shanghai, dan Strait Times kompak mencatat pelemahan, menandai tekanan yang masih membayangi pasar global

Baca juga: BPOM Minta Pelaku Usaha Tegakkan Tanggung Jawab Lindungi Konsumen

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU