Komisi E DPRD DKI Jakarta, KH M Subki (Fakhrizal Fahri/Berita Jakarta)
JAKARTA - Kawasan Manggarai di Jakarta Selatan seolah memiliki stigma yang sulit dilepaskan dari ingatan warga ibu kota.
Berita tentang tawuran antar kelompok di wilayah ini muncul silih berganti, seakan menjadi siklus kekerasan yang tak berujung.
Bagi sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda yang hanya melihat potongan video viral di media sosial, tawuran ini mungkin terlihat sebagai ajang pamer kekuatan atau sekadar kenakalan remaja biasa.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan realitas yang jauh lebih kelam dan rumit.
Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, KH M Subki, baru-baru ini membuka suara mengenai fenomena yang meresahkan ini.
Baca juga: Komisi E Pastikan Tidak Ada Gelombang Mutasi di SMAN 72 Jakarta
Dalam keterangannya pada hari Senin (5/1/2026), ia menegaskan bahwa menyelesaikan masalah tawuran di Manggarai bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan.
Persoalan ini tidak bisa disederhanakan hanya sebagai gangguan keamanan semata, melainkan sebuah manifestasi dari luka sosial yang lebih dalam.
Menurutnya, akar masalah dari konflik yang terus berulang ini melibatkan aspek psikologis yang rapuh serta himpitan kondisi ekonomi warga setempat.
Pernyataan ini menyoroti sudut pandang yang sering luput dari perhatian publik.
Tekanan hidup akibat kondisi ekonomi yang sulit seringkali memicu stres kolektif di lingkungan padat penduduk.
Tanpa adanya penyaluran emosi yang sehat atau ruang aktualisasi diri yang positif, tekanan psikologis ini mudah meledak menjadi agresi massal.
Tawuran akhirnya menjadi pelarian yang destruktif, sebuah cara yang salah untuk mencari eksistensi di tengah keterbatasan.
Subki juga menekankan bahwa penanganan masalah ini tidak bisa lagi dilakukan secara parsial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta