Sabtu, 07 MARET 2026 • 10:21 WIB

Pramono Anung Ngaduk Dodol Nyak Mai: Cara Seru Lestarikan Kuliner Tradisional DKI Jakarta

Author

Wali Kota Jakarta Selatan dan Gubernur DKI Jakarta Hadiri Acara Ngaduk Dodok di Jagakarsa (Fiqri Fahlapi/Kota Administrasi Jakarta Selatan)

JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan betapa sulitnya menjaga eksistensi kuliner tradisional di tengah gempuran makanan modern yang serba instan?

Bagi masyarakat ibu kota, mencicipi sepotong dodol mungkin terasa biasa, namun di balik legitnya sajian tersebut, tersimpan nilai sejarah dan budaya gotong royong yang luar biasa.

Artikel ini akan menelusuri secara mendalam bagaimana jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya keras merawat warisan leluhur tersebut dari gerusan zaman.

Pada hari Jumat (6/3/2026), sebuah momen istimewa dan penuh keakraban terekam di rumah produksi Dodol Nyak Mai yang berlokasi di Jalan Moch Kahfi II, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dengan didampingi oleh Walikota Administrasi Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, serta mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo yang akrab disapa Bang Foke, turun langsung menyapa warga sekaligus menjajal beratnya proses mengaduk dodol Betawi.

Baca juga: Safari Ramadhan Telah Usai, Pemkot Jaktim Sediakan Penitipan Kendaraan Gratis Bagi Warga saat Mudik

Kehadiran para tokoh penting ini bukan sekadar kunjungan formal, melainkan wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan sekaligus mendongkrak potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner lokal agar mampu bersaing.

Mengaduk dodol bukanlah pekerjaan yang bisa dipandang sebelah mata. Jika kamu pernah melihat proses pembuatannya secara langsung, kamu pasti tahu betapa menguras tenaga aktivitas yang satu ini.

Dalam kunjungannya, Gubernur Pramono Anung tidak hanya berdiam diri sebagai penonton atau sekadar menyapa perajin.

Ia dengan antusias mengambil alat pengaduk kayu berukuran besar dan ikut serta merasakan langsung beratnya beban mengolah adonan kental di atas kuali raksasa.

Pengalaman fisik tersebut rupanya meninggalkan kesan yang sangat mendalam baginya.

Menurut Pramono, proses mengaduk dodol yang membutuhkan tenaga ekstra tersebut pada dasarnya merepresentasikan filosofi hidup masyarakat Betawi yang selalu mengedepankan kebersamaan dan kerja keras.

Ia menyadari bahwa di balik rasa manis sepotong dodol, terdapat keringat dan dedikasi kolektif yang mencerminkan konsep gotong royong yang kental di masyarakat.

Untuk menghasilkan satu kuali dodol dengan tekstur kenyal yang sempurna, para perajin harus menghabiskan waktu sekitar delapan hingga sepuluh jam tanpa henti di depan perapian kayu bakar yang panas.

Adonan yang merupakan perpaduan harmonis antara tepung beras ketan, gula merah pilihan, santan kelapa kental, dan sejumput garam ini harus terus diputar secara konsisten agar tidak gosong di bagian bawahnya dan bumbu meresap merata.

Tempat yang menjadi lokasi kunjungan istimewa ini bukanlah sembarang rumah produksi biasa.

Dodol Nyak Mai adalah sebuah legenda hidup di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Usaha kuliner rumahan ini merupakan bisnis turun-temurun yang telah merintis jalannya sejak awal era 1990-an silam.

Sang pendiri, Nyak Mai, telah meletakkan fondasi resep rahasia yang tak lekang oleh waktu, yang kini diwariskan dengan setia dan diteruskan oleh generasi keduanya, yakni Mpok Djuanih dan Bang Udin.

Baca juga: Sidak Takjil Ramadhan Pasar Rawamangun, Pemkot Jaktim Pastikan Makanan Aman Dikonsumsi

Keaslian rasa dan proses pembuatannya yang masih sangat menjaga ketat pakem tradisi membuat Dodol Nyak Mai memiliki tempat tersendiri dan sangat dihormati di hati para penikmat kuliner ibu kota.

Gubernur Pramono sendiri secara terbuka mengakui kelezatan mahakarya kuliner keluarga ini.

Ia mengungkapkan kepada publik bahwa dirinya sudah sering menikmati legitnya dodol buatan Nyak Mai dalam berbagai kesempatan, dan bahkan kerap membawanya pulang sebagai buah tangan istimewa untuk dinikmati bersama keluarga tercinta di rumah. 

Baginya, tingkat kekenyalan dodol tersebut sangat pas saat dikunyah dan rasa manisnya sama sekali tidak berlebihan, menjadikannya camilan yang sempurna untuk mendampingi secangkir teh hangat di sore hari.

Pengakuan langsung dari orang nomor satu di Jakarta ini tentu menjadi bukti sahih bahwa kualitas rasa kuliner tradisional sekelas UMKM mampu bersaing di lidah semua kalangan.

Pelestarian budaya tentu tidak bisa hanya mengandalkan romantisme masa lalu semata; harus ada langkah konkret agar usaha kuliner ini bisa terus bertahan dan relevan dengan tuntutan zaman modern.

Memahami tantangan besar tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen penuh untuk memberikan intervensi positif yang membangun ekosistem bisnis lokal.

Gubernur Pramono Anung menegaskan perlunya dorongan modernisasi peralatan produksi bagi para perajin dodol di masa depan.

Namun, ia memberikan sebuah catatan kritis yang tidak boleh diabaikan, yaitu modernisasi tersebut tidak boleh sampai menghilangkan nilai-nilai tradisional yang menjadi roh utama dan kekhasan otentik dodol Betawi.

Penggunaan teknologi yang tepat guna diharapkan dapat membantu efisiensi tanpa merusak kualitas rasa.

Sebagai tindak lanjut dari kunjungan bersejarah tersebut, Pemprov DKI Jakarta telah bersiap untuk mengucurkan dukungan yang nyata dan terukur.

Gubernur telah menginstruksikan secara langsung kepada Kepala Dinas UMKM untuk segera melakukan kajian mendalam terkait kebutuhan mendesak para perajin di lapangan.

Dukungan dari pemerintah daerah ini nantinya akan diwujudkan dalam bentuk bantuan peralatan produksi yang lebih memadai, serta program penguatan kapasitas para pelaku usaha. 

Langkah proaktif ini diambil dengan satu harapan besar, yakni agar para pelaku UMKM tradisional bisa menjadi jauh lebih berdaya, mampu meningkatkan skala bisnis dan volume produksi mereka, dan pada akhirnya berdampak signifikan pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Baca juga: Keren! PMI Jaktim Bagikan Sembako dan Santunan untuk 2.000 Anggota PMR di Bulan Ramadhan

Tantangan terbesar yang sering kali menjadi batu sandungan bagi produk kuliner tradisional adalah pada aspek pengemasan visual dan penetrasi strategi pemasaran.

Hal krusial ini turut menjadi perhatian utama Gubernur dalam agenda kunjungan hari itu.

Menurut pengamatan tajam Pramono, banyak sekali kuliner khas Betawi yang memiliki cita rasa luar biasa lezat namun gagal menembus pasar ritel yang lebih luas karena bentuk pengemasannya yang dinilai kurang menarik oleh konsumen modern.

Oleh karena itu, ia mendorong dengan kuat para pelaku usaha lokal untuk mulai berinovasi menciptakan desain kemasan yang lebih estetis, higienis, dan berstandar masa kini.

Tidak tanggung-tanggung, Gubernur Pramono juga mencetuskan sebuah rencana strategis untuk mengangkat derajat kuliner kebanggaan lokal ini ke level yang lebih tinggi.

Ia berencana menjadikan Dodol Nyak Mai sebagai salah satu sajian wajib dalam berbagai acara resmi kenegaraan atau pertemuan penting yang diselenggarakan di Balai Kota Jakarta ke depannya.

Rencana mulia ini sejalan dengan apresiasi hangat yang disampaikan oleh Bang Foke, yang hadir mewakili suara kolektif masyarakat Betawi.

Bang Foke menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian besar yang diberikan oleh jajaran Pemprov saat ini terhadap akar budaya Jakarta.

Ia juga menyoroti progres positif dari perbaikan infrastruktur jalan di sekitar kawasan Setu Babakan yang saat ini sedang dikebut pengerjaannya.

Perbaikan akses vital ini diyakini akan semakin meningkatkan kenyamanan mobilitas para pengunjung, dan secara tidak langsung akan mendongkrak pamor Setu Babakan sebagai destinasi utama pariwisata budaya dan surga kuliner Betawi yang membanggakan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Selatan.jakarta.go.id

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU