Jumat, 06 MARET 2026 • 09:03 WIB

Gubernur Pramono Anung Resmikan Masjid Darul Jannah: Telan Dana Rp42 Miliar Tanpa APBD, Siap Tampung 1.200 Jamaah!

Author

Peresmian Masjid Darul Jannah di Jakarta Selatan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung (selatan.jakarta.go.id)

JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan sebuah rumah ibadah yang megah dan luas berdiri tegak di tengah kompleks pusat pemerintahan, namun pembangunannya sama sekali tidak menyedot uang negara?

Di tengah hiruk-pikuk ibu kota dan padatnya rutinitas warga Jakarta Selatan, sebuah oase spiritual baru saja resmi dibuka.

Pada hari Kamis (5/3/2026), Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi meresmikan Masjid Darul Jannah yang berlokasi strategis di dalam kompleks Kantor Walikota Administrasi Jakarta Selatan, Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru.

Peresmian ini bukan sekadar seremoni pemotongan pita biasa, melainkan tonggak sejarah berdirinya sebuah pusat peradaban umat yang dibangun sepenuhnya dari kekuatan gotong royong dan amal jariyah warga Jakarta.

Sebagai warga ibu kota, kamu mungkin sering melihat fasilitas pemerintah yang terkesan kaku dan eksklusif.

Baca juga: Sudinhub Jakarta Selatan Verifikasi 519 Peserta Mudik Gratis Pemprov DKI 2026, Cek Daftar Tujuan Terbanyak!

Namun, kehadiran Masjid Darul Jannah mendobrak stigma tersebut.

Artikel ini akan mengajak kamu menyelami kemegahan arsitektur, keunikan tata letak, hingga kisah inspiratif di balik pendanaan triliunan rupiah yang menyokong berdirinya "Rumah Surga" di jantung Jakarta Selatan ini.

Prosesi peresmian Masjid Darul Jannah ditandai dengan penandatanganan prasasti secara simbolis oleh Gubernur Pramono Anung.

Dalam momen yang penuh khidmat tersebut, sang Gubernur tidak dapat menyembunyikan rasa takjub dan harunya.

Ia mengungkapkan bahwa mendapatkan kesempatan untuk meresmikan rumah ibadah ini adalah sebuah anugerah yang tidak ternilai harganya.

“Ketika saya diminta meresmikan Masjid Darul Jannah ini, yang dalam bahasa Arab berarti ‘Rumah Surga’, saya berkali-kali bertanya dalam hati, mengapa saya mendapatkan keberuntungan yang luar biasa ini. Ini benar-benar sebuah kehormatan,” tutur Mas Pram, sapaan akrab orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peresmian ini memiliki makna yang jauh melampaui sekadar penyelesaian sebuah proyek konstruksi fisik.

Menurutnya, berdirinya Masjid Darul Jannah harus menjadi momentum kebangkitan aktivitas umat. 

Ia menaruh harapan besar agar bangunan megah ini dapat menjadi ruang yang menenteramkan jiwa, mempererat tali ukhuwah islamiyah antarwarga, serta menjadi wadah untuk membangun karakter masyarakat Jakarta yang berakhlak mulia melalui berbagai kegiatan silaturahmi, pembelajaran, dan pembinaan.

Salah satu keunggulan paling menonjol dari Masjid Darul Jannah adalah tata letak bangunannya.

Berbeda dengan mushola atau masjid instansi pada umumnya yang kerap menyatu atau tersembunyi di dalam gedung perkantoran, masjid ini sengaja dibangun terpisah dari bangunan utama Kantor Walikota Jakarta Selatan.

Keputusan arsitektural ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat.

Gubernur Pramono menjelaskan bahwa desain mandiri ini bertujuan untuk memberikan akses yang jauh lebih luas dan inklusif bagi masyarakat umum.

Baca juga: Momen Kebersamaan dalam Safari Ramadhan di Petamburan: Wali Kota Jakpus "Spill" Info Lengkap Mudik Gratis dan Promo Lebaran Bagi Warga!

Dengan posisinya yang terpisah, warga sekitar Kelurahan Petogogan, para pekerja kantoran di kawasan Kebayoran Baru, maupun para musafir yang sedang melintas dapat dengan mudah singgah untuk menunaikan ibadah tanpa harus melewati prosedur keamanan berlapis khas gedung pemerintahan.

Aksesibilitas yang tinggi ini dinilai sangat krusial, terutama untuk memfasilitasi dan menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan berskala besar.

Saat bulan suci Ramadhan tiba, masjid ini diproyeksikan akan menjadi pusat keramaian positif bagi warga yang ingin melaksanakan shalat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur'an, mengikuti kajian keislaman, hingga menyelenggarakan acara buka puasa bersama yang hangat.

Jika kamu berkesempatan mengunjungi Masjid Darul Jannah, kamu akan langsung disambut oleh kemegahan arsitektur yang dirancang dengan sangat matang.

Membawa konsep modern yang tetap mempertahankan nilai-nilai estetika Islami, masjid ini berdiri kokoh dengan struktur dua lantai di atas lahan yang memiliki luas keseluruhan mencapai 2.607 meter persegi.

Pembagian tata ruangnya pun dilakukan secara cerdas untuk memaksimalkan fungsionalitas.

Lantai dasar sepenuhnya didedikasikan sebagai area pendukung yang sangat esensial.

Di lantai ini, kamu akan menemukan ruang serbaguna yang luas, tempat wudu yang nyaman dan bersih dengan kapasitas air yang mumpuni, serta berbagai ruang layanan operasional lainnya.

Sementara itu, lantai atas dikhususkan sebagai ruang salat utama. Ruangan ini dirancang sedemikian rupa agar sirkulasi udara dan pencahayaan alami dapat masuk dengan optimal, memberikan kenyamanan ekstra bagi para jamaah.

Dengan luasan yang ada, lantai utama ini diklaim mampu menampung lebih dari 1.200 jamaah sekaligus.

Kapasitas masif ini tentu menjadi angin segar bagi warga Jakarta Selatan yang kerap kesulitan mencari tempat salat Jumat yang memadai di sekitar area perkantoran.

Melihat keindahan dan fungsionalitas bangunan tersebut, Gubernur Pramono secara khusus berpesan agar pengelola dan jamaah bersinergi dalam merawat kebersihannya.

“Saya mengagumi arsitektur masjid ini. Tanda tangan saya akan ada di masjid ini sampai kapan pun, dan itu sebuah kehormatan. Saya berharap masjid ini dirawat sebaik-baiknya serta benar-benar menjadi rumah bagi siapa pun yang ingin memuliakan dan memakmurkannya,” tegasnya.

Di balik kemegahan dan kapasitasnya yang besar, fakta paling mengejutkan sekaligus menginspirasi dari Masjid Darul Jannah adalah sumber pendanaannya.

Baca juga: Sudinhub Jakarta Barat Babat Habis Terminal Bayangan, 5 Bus AKAP Langsung Ditilang

Kamu mungkin berasumsi bahwa proyek raksasa di kompleks pemerintahan ini dibiayai oleh pajak daerah.

Nyatanya, pembangunan konstruksi masjid ini sama sekali tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Seluruh biaya pembangunan bersumber murni dari kekuatan filantropi umat.

Dana utama dikucurkan dari bantuan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) BAZIS DKI Jakarta, yang dikumpulkan dari zakat, infak, dan sedekah warga, serta dukungan dari berbagai donatur pihak ketiga yang bersifat tidak mengikat.

Data pendukung menunjukkan betapa besarnya skala proyek ini. Rincian Anggaran Biaya (RAB) pembangunan masjid yang telah dihitung sejak tahun 2017 menembus angka fantastis, yakni Rp42.061.417.771.

Perjalanan pembangunannya pun membutuhkan kesabaran dan konsistensi tinggi.

Dimulai secara resmi sejak 27 November 2017, proyek ini akhirnya mencapai progres konstruksi 100 persen setelah melewati 31 tahapan kontrak pekerjaan, ditambah dengan empat tahapan pekerjaan teknis yang dieksekusi langsung oleh para donatur.

Berdirinya Masjid Darul Jannah menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan transparansi pengelolaan dana umat di Jakarta mampu mewujudkan infrastruktur publik yang berkualitas tinggi.

Kini, bangunan senilai puluhan miliar tersebut telah berdiri tegak, siap menyambut siapa saja yang ingin bersujud dan mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk ibu kota.

Apakah kamu tertarik untuk merasakan langsung suasana ibadah di Masjid Darul Jannah yang baru diresmikan ini saat shalat Jumat nanti?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Selatan.jakarta.go.id

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU