Banjir Cuan Saat Ramadhan! Pedagang Timun Suri di Pasar Induk Kramat Jati Mampu Jual Tiga Ton Sehari
JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan betapa segarnya menikmati segelas es timun suri dingin setelah seharian penuh menahan haus di tengah teriknya cuaca ibu kota?
Ya, bagi sebagian besar warga Jakarta, bulan suci Ramadhan rasanya tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran buah berbentuk lonjong dengan tekstur lembut dan aroma khas yang menggugah selera ini.
Di balik kesegaran hidangan berbuka puasa yang selalu tersaji di meja makanmu, terdapat sebuah roda ekonomi yang berputar sangat kencang dan membawa berkah melimpah bagi para pedagang lokal.
Salah satu pusat perputaran ekonomi terbesar untuk komoditas ini dapat kamu temukan langsung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Sepanjang bulan puasa ini, pasar grosir tersebut seolah menjelma menjadi lautan timun suri yang ramai dikunjungi oleh ribuan pembeli setiap harinya.
Tak pelak, fenomena musiman yang rutin terjadi ini membuat omzet penjualan para pedagang meroket tajam, memberikan keuntungan berlipat ganda yang selalu dinantikan kehadirannya setiap tahun.
Tingginya antusiasme warga Jakarta dalam berburu menu takjil menjadi angin segar bagi para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.
Momentum ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh banyak pihak, salah satunya adalah Mara, seorang pria berusia 50 tahun yang telah hafal betul seluk-beluk berbisnis buah musiman ini.
Mara bukanlah pemain baru; ia mengatakan bahwa dirinya sudah hampir enam tahun konsisten berjualan timun suri setiap kali bulan Ramadhan tiba. Keputusannya untuk fokus pada satu komoditas ini bukanlah tanpa alasan yang kuat.
Menurut penuturannya pada Senin (23/2/2026), permintaan pasar terhadap timun suri sungguh luar biasa.
"Alhamdulillah, penjualannya sangat bagus karena pembeli selalu ramai setiap hari," ujarnya dengan wajah semringah di tengah kesibukannya melayani pelanggan.
Menariknya, berjualan timun suri sebenarnya bukanlah profesi utama Mara.
Pada bulan-bulan biasa di luar musim Ramadhan, ia sehari-hari menggantungkan hidupnya dengan berjualan berbagai macam sayur-mayur di pasar yang sama.
Namun, insting bisnisnya mengatakan bahwa buah berwarna kuning keputihan ini memiliki pangsa pasar yang jauh lebih masif dan menjanjikan selama bulan puasa.
"Selama berjualan timun suri, aktivitas jualan sayurnya dihentikan sementara," ungkapnya.
Pengorbanan untuk menutup lapak sayurnya terbayar lunas, mengingat dalam sehari saja, ia mampu menjual sekitar tiga hingga empat ton timun suri kepada para tengkulak dan pembeli eceran.
Untuk memenuhi permintaan pasar Jakarta yang seolah tidak ada habisnya, rantai pasokan yang kuat tentu sangat dibutuhkan.
Mara menjelaskan bahwa berton-ton timun suri yang menjulang di lapaknya dipasok langsung dari para petani di wilayah Pandeglang, Provinsi Banten.
Daerah tersebut memang sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung penghasil timun suri berkualitas tinggi dengan daging buah yang tebal dan pulen.
Di Pasar Induk Kramat Jati, komoditas primadona ini dijual dengan harga yang sangat bervariasi namun tetap ramah di kantong.
Para pembeli bisa membawa pulang buah segar ini dengan merogoh kocek sekitar Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram.
Tentu saja, patokan harga tersebut sangat bergantung pada ukuran, kemulusan kulit, dan kualitas buah itu sendiri.
Pembeli bebas memilah dan memilih sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka.
Faktor cuaca juga memegang peranan yang sangat krusial dalam menentukan laju penjualan setiap harinya. Sebagai hidangan pencuci mulut yang identik dengan minuman dingin, cuaca ibu kota yang terik menjadi katalisator utama meningkatnya angka penjualan.
"Kalau cuaca sedang cerah atau panas, biasanya penjualan juga semakin meningkat karena timun suri biasa dibuat menjadi es atau minuman segar," terang Mara.
Saat matahari bersinar terik, dahaga warga Jakarta seolah menjadi jaminan laris manisnya dagangan para penjual di pasar ini.
Berkah Ramadan dari timun suri nyatanya tidak hanya berhenti dan dinikmati di area Pasar Induk Kramat Jati saja.
Rantai ekonomi ini menjalar panjang hingga ke berbagai sudut perkampungan dan pasar tradisional lainnya di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Banyak pedagang kecil yang menggantungkan harapan dari melimpahnya pasokan di pasar induk untuk mengais rezeki di lingkungan tempat tinggal mereka.
Salah satu potret nyata dari rantai distribusi ini terlihat pada sosok Fariha, seorang ibu rumah tangga sekaligus pedagang berusia 52 tahun.
Setiap tahunnya, ia selalu menjadikan Pasar Induk Kramat Jati sebagai destinasi utama untuk berbelanja kebutuhan dagangannya.
Setelah memborong timun suri dengan harga grosir, Fariha akan membawanya membelah kemacetan Jakarta untuk dijual kembali di Pasar Lontar yang berlokasi di Kelurahan Lagoa, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Bagi Fariha, rela datang jauh-jauh dari pesisir utara ke timur Jakarta adalah sebuah keharusan demi mendapatkan margin keuntungan yang ideal.
"Setiap hari saya berbelanja di sini karena harganya relatif murah untuk dijual kembali. Saya biasa jual lagi Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu. Alhamdulillah, masih bisa dapat untung," tuturnya dengan penuh rasa syukur.
Selisih harga yang cukup lumayan tersebut menjadi penghasilan tambahan yang sangat berarti bagi keluarganya dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan menyambut Hari Raya Idul Fitri yang akan datang.
Pada akhirnya, geliat ekonomi yang terjadi di Pasar Induk Kramat Jati menjadi bukti nyata betapa tradisi dan budaya kuliner dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah.
Secangkir es timun suri manis yang kamu nikmati saat azan magrib berkumandang bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan hasil dari kerja keras para petani di Banten, ketekunan para agen seperti Mara, hingga kegigihan para pengecer seperti Fariha yang memastikan buah segar tersebut sampai ke tanganmu.
Apakah kamu sudah merencanakan menu berbuka puasa sore ini?
Mungkin, es timun suri segar bisa menjadi pilihan tepat untuk melengkapi momen kebersamaanmu bersama keluarga tercinta di rumah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta