JAKARTA - Dominasi total tanpa cela, itulah kalimat yang paling pas untuk menggambarkan performa mengerikan Jakarta LavAni Livin' Transmedia di ajang Proliga musim ini.
Bayangkan saja, tim kebangaan Cikeas milik mantan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono ini menyapu bersih kemenangan tanpa ampun, seolah menegaskan bahwa level mereka berada satu tingkat di atas para pesaingnya.
Kemenangan terbaru mereka atas tuan rumah Surabaya Samator bukan hanya tambahan poin, tetapi sebuah pernyataan tegas bahwa trofi juara seolah sudah ada di depan mata.
Jika kamu adalah penggemar voli Tanah Air yang mengikuti perkembangan liga musim ini, apa yang ditampilkan LavAni malam tadi di Bojonegoro adalah definisi sesungguhnya dari mentalitas calon juara.
Bermain di bawah tekanan pendukung lawan di GOR Utama, Bojonegoro, pada Kamis (12/2/2026) malam, LavAni tidak menunjukkan tanda-tanda gentar sedikit pun.
Mereka sukses membungkam perlawanan tuan rumah Surabaya Samator tiga set langsung dengan skor yang cukup meyakinkan, yakni 3-0 (25-13, 30-28, 25-20).
Hasil manis ini secara resmi mengukuhkan posisi mereka sebagai juara putaran kedua Proliga 2026 dengan catatan rekor yang sangat mentereng, yakni delapan kemenangan beruntun sejak putaran pertama hingga kedua.
Ya, kamu tidak salah baca, tim ini belum tersentuh satu kekalahan pun sepanjang musim bergulir. What a moment!
Satu hal yang patut diacungi jempol dari skuad asuhan David Lee adalah profesionalisme dan rasa lapar akan kemenangan yang mereka tunjukkan.
Meskipun tiket menuju babak final four sebenarnya sudah aman di genggaman, Taylor Sanders dan kawan-kawan menolak untuk “ngepur” atau mengendurkan serangan pada laga terakhir fase reguler ini.
Intensitas permainan tetap digeber di level tertinggi sejak set pertama dimulai. Pelatih LavAni tampaknya ingin menjaga momentum kemenangan agar mentalitas pemain tetap terjaga hingga babak krusial nanti.
Menurunkan komposisi pemain terbaiknya sejak peluit pertama berbunyi, LavAni tampil full power.
Nama-nama bintang seperti middle blocker andalan Hendra Kurniawan, spiker tajam Boy Arnez, hingga legiun asing berkualitas dunia Taylor Sander dan setter cerdas Jasen Kilanta, langsung menjadi tumpuan serangan untuk memborbardir pertahanan lawan.
Mereka bermain taktis dan disiplin, seolah tidak memberikan napas bagi Surabaya Samator untuk mengembangkan permainan sedikit pun di awal laga.
Jalannya pertandingan sendiri menyajikan dinamika yang cukup variatif dan menghibur penonton.
Pada set pertama, LavAni seolah sedang memberikan coaching clinic kepada lawannya dengan menutup game lewat skor telak 25-13.
Keunggulan ini didapat melalui strategi yang matang dan eksekusi serangan yang sangat efektif sejak servis pertama dilakukan.
Blok-blok rapat yang dibangun Hendra Kurniawan dkk membuat spiker Samator frustrasi.
Namun, drama sesungguhnya baru terjadi di set kedua. Tuan rumah yang tidak ingin menanggung malu di kandang sendiri mencoba bangkit dengan meningkatkan intensitas permainan.
Surabaya Samator memberikan perlawanan sengit yang memaksa pertandingan berjalan sangat ketat.
Kejar-mengejar angka terjadi hingga memaksa terjadinya deuce sebanyak lima kali.
Di momen krusial inilah mental juara berbicara. LavAni tetap tenang di bawah tekanan riuh penonton tuan rumah dan akhirnya berhasil mencuri set kedua dengan skor dramatis 30-28.
Kemenangan di set kedua ini menjadi pukulan psikologis telak bagi kubu tuan rumah.
Memasuki set ketiga, momentum yang sempat dibangun Samator di set sebelumnya seolah runtuh.
LavAni kembali memegang kendali penuh permainan melalui koordinasi tim yang solid dan pertahanan yang sulit ditembus.
Surabaya Samator terlihat kehilangan akal untuk mengejar ketertinggalan, sehingga laga pun ditutup dengan skor 25-20 untuk kemenangan mutlak LavAni.
Kemenangan ini bukan hanya soal statistik angka di papan skor, tetapi soal intimidasi psikologis kepada lawan-lawan mereka di babak final four nanti.
Dengan performa seganas ini, pertanyaan besarnya di benak para pecinta voli bukan lagi "siapa yang bisa mengalahkan LavAni?", melainkan "mampukah mereka mempertahankan rekor sempurna ini hingga mengangkat trofi di akhir musim?"
Jika konsistensi ini berlanjut, istilah "Scudetto" atau gelar juara liga tampaknya hanya tinggal menunggu waktu untuk mampir ke lemari trofi Cikeas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber