Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 17:07 WIB

Kurangi Beban Bantargebang, Pemkot Jakpus Masifkan Pengelolaan Sampah di 100 RW ProKlim

Author

Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Eric PZ Lumbun (Folmer/Berita Jakarta)

JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan jika Jakarta tiba-tiba "tenggelam" dalam tumpukan limbah karena Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sudah tak sanggup lagi menampung beban?

Masalah klasik Ibu Kota ini bukan lagi sekadar isu kebersihan visual semata, melainkan bom waktu ekologis yang menuntut aksi nyata dari setiap warganya.

Menyadari urgensi tersebut, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat tidak tinggal diam.

Mereka kini bergerak agresif menggandeng masyarakat melalui program RW ProKlim (Program Kampung Iklim) untuk mengubah wajah pengelolaan sampah langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Langkah konkret ini terlihat jelas saat Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat menggelar sosialisasi pengelolaan sampah di lingkungan RW ProKlim, pada Kamis (12/2/2026).

Baca juga: Mencari Ketenangan di Tengah Kota: 3 Rekomendasi Masjid untuk Itikaf di Jakarta Pusat

Acara yang berlangsung di Jakarta Pusat ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Eric PZ Lumbun, yang membawa pesan penting bagi warga, perang melawan sampah adalah bagian vital dari mitigasi perubahan iklim.

Dalam kesempatan tersebut, Eric PZ Lumbun menekankan bahwa pola pikir atau mindset warga Jakarta mengenai sampah harus segera berevolusi.

Membuang sampah pada tempatnya saja tidak lagi cukup. Tantangannya adalah bagaimana mengelola sampah tersebut agar tidak membebani bumi.

“Pengelolaan sampah tidak sekadar masalah kebersihan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab bersama menjaga kelestarian lingkungan," ujar Eric di hadapan para pengurus RW dan pegiat lingkungan yang hadir.

Menurut Eric, kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu langkah nyata atau "bentuk komitmen pengelolaan sampah secara baik" untuk mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

Seperti yang kamu ketahui, tumpukan sampah organik yang tidak terkelola dapat menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memperparah pemanasan global.

Dengan mengelola sampah di level RW, warga Jakarta Pusat turut berkontribusi menurunkan emisi karbon kota.

Lantas, apa saja strategi yang didorong oleh Pemkot Jakarta Pusat?

Eric mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya optimal guna mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA Bantargebang.

Strategi ini melibatkan pendekatan sirkular ekonomi dan teknologi tepat guna yang bisa dilakukan siapa saja di halaman rumah.

Beberapa metode yang kini digencarkan antara lain pendirian Bank Sampah untuk mengubah sampah anorganik (plastik, kertas, logam) menjadi bernilai ekonomis bagi warga, pengomposan dan biopori untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk yang menyuburkan tanah sekaligus meningkatkan resapan air guna mencegah banjir, budidaya maggot BSF dengan menggunakan larva Black Soldier Fly untuk mengurai sampah sisa makanan dengan sangat cepat yang kemudian larvanya bisa menjadi pakan ternak/ikan, serta Pengurangan Plastik Sekali Pakai dengan mendorong gaya hidup minim sampah (zero waste) dalam aktivitas sehari-hari.

Keseriusan Jakarta Pusat dalam isu lingkungan ini terbukti dari data partisipasi wilayah yang cukup impresif.

Eric menjabarkan, hingga saat ini sudah ada 100 RW yang telah mengikuti program ProKlim dengan berbagai tingkatan prestasi.

Baca juga: Dukcapil Jakarta Pusat Gelar Sosialisasi di SMKN 44: Siapkan Generasi Muda Tertib Administrasi Sejak Dini

Rincian sebaran dari total 100 RW Proklim di Jakarta Pusat adalah sebagai berikut.

Sebanyak 2 lokasi merupakan ProKlim Lestari (tingkat tertinggi yang menjadi mentor bagi wilayah lain), 14 lokasi ProKlim Utama tingkat Nasional (wilayah yang telah diakui secara nasional dalam adaptasi dan mitigasi iklim), 32 lokasi ProKlim Madya tingkat Provinsi, dan 52 lokasi ProKlim Pratama tingkat Kota.

Angka ini menunjukkan bahwa kesadaran warga Jakarta Pusat semakin tumbuh.

RW-RW ini diharapkan menjadi role model atau percontohan bagi wilayah lain di DKI Jakarta dalam hal kemandirian pengelolaan lingkungan.

Menutup kegiatannya, Eric menegaskan kembali bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian.

Fasilitas dan sosialisasi yang diberikan oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup hanyalah pemantik, sementara kunci keberhasilannya ada di tangan kamu dan warga lainnya.

"Sosialisasi hari ini sebagai bentuk komitmen pengelolaan sampah secara baik. Pengelolaan sampah tidak sekadar program pemerintah, melainkan gerakan bersama," tegasnya.

Ia berharap, ilmu dan semangat yang didapat dari sosialisasi ini tidak berhenti di ruangan acara, tetapi diimplementasikan secara nyata di gang-gang sempit hingga perumahan di seluruh Jakarta Pusat. 

"Saya berharap sosialisasi ini dapat memberikan manfaat dan memperkuat komitmen bersama menjaga lingkungan," tandas Eric.

Jadi, sudah siapkah kamu mengambil peran untuk menjaga Jakarta tetap layak huni dimulai dari memilah sampah di rumah sendiri?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU