Kabar Gembira buat Anak Jaksel! Transjabodetabek Blok M-Soetta DItargetkan Hadir Sebelum Lebaran, DPRD DKI Ingatkan Hal Ini
JAKARTA - Bayangkan betapa melelahkannya perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dari kawasan Jakarta Selatan, khususnya Blok M.
Kamu harus berjibaku dengan kemacetan tol dalam kota yang tak kenal waktu, atau merogoh kocek cukup dalam untuk layanan taksi dan travel.
Namun, ada angin segar bagi para pelaju dan traveler. Rencana perluasan layanan Transjabodetabek rute Blok M–Bandara Soetta kini tengah dikebut dan ditargetkan beroperasi sebelum musim mudik Lebaran tahun ini.
Rencana strategis ini mendapat dukungan penuh dari DPRD DKI Jakarta, namun dengan catatan tebal, yaitu jangan sampai hanya sekadar menambah bus tanpa sistem yang jelas.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Pantas Nainggolan, menyuarakan dukungannya terhadap inisiatif ini.
Menurut politisi senior tersebut, kehadiran rute baru ini bukan hanya soal mempermudah akses ke bandara, melainkan langkah krusial untuk memecah kepadatan lalu lintas di jalur-jalur arteri ibu kota.
Namun, ia mengingatkan bahwa euforia pembukaan rute baru ini harus dibarengi dengan kesiapan teknis yang matang.
Pantas menilai bahwa sekadar memperbanyak armada bus tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan Jakarta secara permanen jika berjalan sendiri-sendiri.
Ia menekankan pentingnya integrasi antarmoda. Artinya, layanan Transjabodetabek rute Blok M-Soetta ini harus terhubung mulus dengan moda transportasi lain, seperti MRT Jakarta yang berpusat di Blok M, serta layanan feeder lainnya.
"Diperlukan kebijakan terpadu," tegas Pantas.
Ia melihat langkah ini sangat sejalan dengan visi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang berambisi memperkuat konektivitas transportasi lintas wilayah.
Jika integrasi ini sukses, kamu tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi ke titik keberangkatan, cukup beralih dari MRT atau TransJakarta reguler langsung menuju bus bandara dengan nyaman.
Salah satu tantangan terbesar dalam sistem transportasi di Jabodetabek adalah ego sektoral antar-operator.
Menanggapi hal ini, Pantas menegaskan bahwa keberhasilan program perluasan rute ini sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan payung hukum yang kuat.
Ia mengingatkan bahwa transportasi di Jakarta melibatkan banyak pemain, mulai dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seperti TransJakarta hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti KAI.
Tanpa regulasi yang mengikat semua pihak, integrasi hanya akan menjadi wacana di atas kertas.
“Ini menjadi bentuk dukungan terhadap keinginan dan harapan Pak Gubernur. Namun yang paling penting adalah konsistensi. Selain itu, harus ada landasan regulasi yang menjadi pedoman bersama, tidak hanya bagi BUMD, tetapi juga BUMN seperti KAI dan lainnya, sehingga solusi yang dihadirkan benar-benar integratif,” ujar Pantas di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kolaborasi antara Pemprov DKI dan pemerintah pusat sangat vital agar tiket, jadwal, dan stasiun/halte bisa saling terhubung tanpa membingungkan penumpang.
Isu transportasi tidak bisa dilihat hanya dari kacamata Jakarta saja.
Pantas mengungkapkan bahwa pihaknya baru saja menggelar Focus Group Discussion (FGD) Transportasi Umum dengan tema “Memperkuat Integrasi dan Kesetaraan Moda Transportasi Jakarta Menuju Kota Bangsa yang Humanis, Berkelanjutan, dan Berdaya Saing Global”.
Hasil FGD tersebut semakin mempertegas bahwa Jakarta membutuhkan kebijakan terpadu yang mengakomodasi konsep aglomerasi Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur).
Mobilitas warga yang tinggal di daerah penyangga namun bekerja di Jakarta atau yang hendak menuju Bandara Soetta membutuhkan penanganan lintas batas administrasi.
“Pada waktunya memang diperlukan kebijakan terpadu dalam konteks aglomerasi. Jabodetabekpunjur sudah menjadi sebuah kebutuhan,” jelasnya.
Integrasi lintas wilayah ini adalah sebuah keniscayaan untuk menjawab persoalan mobilitas perkotaan yang semakin kompleks setiap harinya.
Menutup pernyataannya, Pantas menyampaikan analogi menarik mengenai dua masalah klasik Jakarta.
Ia berharap, jika kebijakan transportasi terpadu ini benar-benar terwujud dan rute baru seperti Blok M-Soetta beroperasi optimal, Jakarta bisa "bernapas" lebih lega.
Pantas memimpikan ibu kota yang tidak hanya bebas dari banjir air yang kerap datang saat musim hujan, tetapi juga banjir kendaraan yang setiap hari menyumbat jalanan.
“Mudah-mudahan ke depan ada dua banjir yang tidak lagi terjadi, yakni banjir tahunan atau musiman berupa ancaman air, serta banjir harian berupa kendaraan bermotor di jalan,” tandasnya.
Bagi kamu yang sering bepergian via Bandara Soetta, kehadiran rute baru ini tentu sangat dinantikan.
Kini, bola ada di tangan Pemprov DKI dan para pemangku kepentingan untuk memastikan target operasi sebelum Lebaran ini bukan sekadar janji, melainkan solusi nyata yang bisa kamu nikmati segera.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta