Dukung Program AKSI Pemprov DKI Jakarta x YouTube, Farah Savira: Jadikan Muatan Lokal di Sekolah!
JAKARTA - Pernahkah kamu merasa cemas dengan konten yang dikonsumsi oleh anak-anak atau adikmu di dunia maya saat ini?
Di tengah arus informasi yang tak terbendung, keamanan digital dan kesehatan mental generasi muda menjadi pertaruhan besar yang tidak bisa dianggap remeh.
Kekhawatiran inilah yang membuat langkah terbaru Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggandeng platform raksasa YouTube menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Ibu Kota.
Kolaborasi strategis ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk dukungan penuh dari Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Farah Savira.
Ia menilai inisiatif ini sebagai langkah konkret untuk membentengi pelajar Jakarta dari dampak negatif internet sekaligus memberdayakan mereka.
Baca juga: Wagub Rano Karno Tantang DPMPTSP DKI Jakarta Pakai AI Demi Wujudkan Kota Global: Siap Berubah?
Pentingnya Intervensi Berkala bagi Guru dan Siswa
Farah Savira menyambut baik peluncuran program Anak dan Keluarga Sigap Digital (AKSI) yang diinisiasi oleh Pemprov DKI bersama YouTube.
Menurutnya, program yang fokus pada penguatan sektor pendidikan, kesehatan mental, dan literasi media ini sangat relevan dengan tantangan zaman.
Namun, legislator muda ini memberikan catatan kritis agar program tersebut tidak hanya menjadi seremonial belaka.
Dalam keterangannya pada Sabtu (31/1/2026), Farah menekankan bahwa efektivitas program ini sangat bergantung pada bentuk intervensi yang diterapkan di lapangan.
Ia mengingatkan bahwa edukasi digital tidak bisa dilakukan sekali jalan. Farah menyoroti perlunya pembekalan yang bersifat kontinu dan menyeluruh.
Intervensi yang dilakukan harus memastikan bahwa target program benar-benar tercapai dengan indikator yang jelas.
Menurutnya, anak-anak harus mendapatkan pembekalan secara berkala agar pemahaman mereka tentang dunia digital terus terbarui.
Tidak hanya berhenti pada siswa, Farah juga menegaskan bahwa para guru sebagai garda terdepan pendidikan harus mendapatkan pelatihan serupa agar mampu membimbing anak didiknya dengan tepat.
Mendorong Literasi Digital Masuk Kurikulum DKI Jakarta
Lebih jauh lagi, Farah memiliki visi agar program AKSI ini tidak hanya menjadi kegiatan ekstrakurikuler atau pelatihan insidental.
Ia mendorong Pemprov DKI untuk mempertimbangkan materi literasi digital ini masuk sebagai muatan lokal atau materi khusus dalam kurikulum sekolah di Jakarta.
Farah menilai bahwa Jakarta memiliki posisi yang sangat strategis sebagai barometer pendidikan nasional.
Dengan menjadikan Jakarta sebagai pionir dalam kebijakan ini, diharapkan daerah lain dapat mencontoh langkah progresif dalam mengintegrasikan literasi digital ke dalam sistem pendidikan formal.
Meskipun kolaborasi dengan YouTube adalah langkah awal yang sangat baik, Farah berharap pemerintah tidak berhenti di sana.
Baca juga: Resmikan Masjid As-Sakinah di Tebet, Pramono Anung: Bikin Hati Tenteram di Tengah Cuaca Ekstrem
Ia menyarankan agar peluang kolaborasi dibuka lebar dengan berbagai platform digital lainnya yang kini mendominasi layar gawai remaja.
Farah menyebutkan platform seperti TikTok dan Instagram memiliki jangkauan yang sangat luas dan perputaran informasi yang jauh lebih cepat di kalangan anak-anak dan remaja.
Dengan merangkul lebih banyak platform, pesan edukasi dan kampanye kesehatan mental dapat tersampaikan secara lebih efektif kepada audiens yang lebih masif.
Sorotan pada Pengawasan Usia dan Konten Berbahaya
Di sisi lain, Farah juga memberikan tekanan pada tanggung jawab penyedia platform.
Ia menekankan pentingnya pengawasan yang jauh lebih ketat terhadap batasan usia pengguna.
Hal ini dinilai krusial untuk mencegah anak di bawah umur mengakses konten yang tidak layak, seperti tayangan yang mengandung unsur kekerasan, violence, maupun perilaku perundungan.
Farah mengingatkan bahwa kasus kekerasan dan perundungan (bullying) yang terjadi di lingkungan sekolah, baik yang melibatkan guru maupun antar sesama murid, sering kali dipicu oleh paparan konten negatif dari media sosial.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah menjelaskan bahwa kolaborasi ini mencakup pelatihan pembuatan konten edukatif yang dimulai di SMK Negeri 27 Jakarta.
Program ini juga menyasar pembekalan isu kesehatan mental bagi sekitar 2.500 guru dan remaja.
Tujuan besar dari program AKSI adalah memberdayakan ekosistem sekolah dan keluarga agar mampu menjelajahi dunia digital secara aman, produktif, dan bertanggung jawab.
Dukungan dan masukan dari legislatif seperti yang disampaikan Farah Savira diharapkan mampu menyempurnakan implementasi program ini, sehingga visi menciptakan karakter pelajar Jakarta yang cerdas digital dapat terwujud.
Bagaimana menurut kamu, apakah literasi digital sudah saatnya menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah Jakarta?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta