Inovasi Penguatan Ketahanan Pangan: Warga Kelurahan Malaka Jaya Ubah Gang Sempit Jadi Kolam Gizi dan Taman Hijau
JAKARTA - Isu keterbatasan lahan sering kali menjadi hambatan utama bagi masyarakat perkotaan untuk bercocok tanam atau memelihara ikan.
Namun, paradigma tersebut berhasil dipatahkan dengan gemilang oleh warga Jakarta Timur.
Di tengah padatnya permukiman ibu kota, sebuah gang sempit di Jalan Nusa Indah IV, RT 08/04, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, kini telah berubah wajah sepenuhnya.
Kawasan yang dulunya hanya berfungsi sebagai akses jalan biasa, kini telah menjelma menjadi pusat penguatan ketahanan pangan berbasis masyarakat yang inspiratif dan penuh inovasi.
Transformasi menakjubkan ini dimotori oleh Kelompok Tani (Poktan) Bersama Tumbuh Maju.
Baca juga: Meski Genangan Telah Surut, PMI Jakarta Timur Sigap Salurkan Bantuan Logistik ke Pulo Gebang
Mereka berhasil menyulap akses jalan warga sepanjang 30 meter dengan lebar sekitar tiga meter di Gang 8 menjadi kawasan urban farming yang asri.
Saat memasuki kawasan ini, mata pengunjung akan langsung dimanjakan oleh deretan tanaman hias yang menyejukkan, tanaman obat keluarga (TOGA) yang bermanfaat, hingga berbagai jenis tanaman produktif yang siap panen.
Tidak hanya itu, suasana hidup semakin terasa dengan keberadaan empat kolam gizi berbentuk akuarium besar yang menghiasi lokasi tersebut.
Solusi Cerdas di Lahan Terbatas
Keunikan utama dari urban farming di Malaka Jaya ini terletak pada inovasi tata kelola air dan pemanfaatan ruang yang sangat cerdas.
Ketua Poktan Bersama Tumbuh Maju, Fadil, menjelaskan bahwa inovasi yang mereka terapkan mencakup berbagai aspek penting, mulai dari keanekaragaman hayati, pencegahan perubahan iklim, hingga pengendalian pencemaran lingkungan.
Upaya tersebut telah dimulai sejak tahun 2023 dengan dukungan kolaborasi dari sejumlah program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Salah satu terobosan teknologi tepat guna yang paling menarik perhatian adalah modifikasi saluran air.
Warga tidak membiarkan selokan hanya menjadi saluran pembuangan semata, melainkan mengubahnya menjadi aset produktif.
Fadil menerangkan bahwa mereka menerapkan konsep dua tingkat pada saluran air di Jalan Nusa Indah IV.
Di atas beton U-ditch berukuran 60 sentimeter, warga membangun kolam gizi sepanjang 14 meter.
Memodifikasi Saluran Air Menjadi Kolam Ikan Produktif
Sistem yang disebut sebagai double decker ini memisahkan fungsi saluran air dan budidaya ikan secara vertikal.
Bagian bawah beton tetap difungsikan sebagaimana mestinya, yaitu sebagai saluran air untuk mencegah genangan dan banjir.
Sementara itu, bagian atasnya dimanfaatkan secara maksimal sebagai kolam gizi. Inovasi ini membuktikan bahwa drainase perkotaan bisa memiliki nilai tambah jika dikelola dengan kreativitas tinggi.
Di dalam kolam inovatif tersebut, ribuan ikan hidup dan berkembang biak. Fadil menyebutkan terdapat sekitar 5.000 ekor ikan lele yang dibudidayakan di sana.
Selain lele, kolam-kolam akuarium lainnya juga diisi oleh berbagai jenis ikan air tawar seperti nila, mujair, mas, hingga ikan koi yang mempercantik pemandangan.
Produktivitas kawasan ini pun telah terbukti nyata. Pada tahun 2023 lalu, warga berhasil melakukan panen raya dengan hasil mencapai sekitar 40 kilogram ikan.
Dampak Ekonomi dan Keamanan Lingkungan yang Terintegrasi
Semangat gotong royong sangat terasa dalam pengelolaan hasil panen. Fadil mengungkapkan bahwa hasil panen perdana tersebut tidak dijual, melainkan dibagikan secara gratis kepada warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka.
Namun, untuk menjaga keberlanjutan program, poktan memiliki rencana strategis ke depan.
Pada panen-panen berikutnya, hasil ikan rencananya akan dijual, dan keuntungan yang diperoleh akan diputar kembali untuk menunjang biaya operasional kegiatan urban farming tersebut.
Hal ini menjadi model ekonomi sirkular skala mikro yang sangat efektif untuk kemandirian warga.
Selain fokus pada penguatan ketahanan pangan, aspek estetika dan keamanan juga tidak luput dari perhatian.
Gang 8 kini tidak lagi terlihat kumuh atau membosankan.
Dinding-dinding gang dihiasi oleh mural artistik hasil karya seniman profesional.
Gambar-gambar balon udara yang penuh warna, ilustrasi dasar laut yang misterius, serta pemandangan laut lengkap dengan kapal nelayan membuat suasana gang menjadi lebih hidup dan instagramable.
Sistem Keamanan Canggih Berbasis Komunitas
Transformasi fisik ini juga dibarengi dengan peningkatan sistem keamanan lingkungan yang mumpuni. Warga sadar bahwa aset berharga ini perlu dijaga bersama.
Oleh karena itu, lingkungan RT 08/04 telah dilengkapi dengan kamera pengawas atau CCTV di 16 titik strategis yang merupakan bantuan dari program CSR.
Tidak hanya merekam, sistem ini terintegrasi dengan pos keamanan yang memiliki satu layar LCD monitor untuk memantau aktivitas warga secara real-time.
Fasilitas keamanan semakin lengkap dengan tersedianya tiga unit pengeras suara dan dua tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi dini terhadap bahaya kebakaran.
Dengan fasilitas ini, warga yang melaksanakan jadwal ronda malam dapat melakukan pengawasan wilayah secara jauh lebih efektif dan responsif.
Lurah Malaka Jaya, Eko Purnomo Asih, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif warganya.
Ia menilai apa yang dilakukan oleh Poktan Bersama Tumbuh Maju adalah bukti nyata partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan kota.
Inovasi ini tidak hanya menghijaukan lingkungan, tetapi juga secara konkret mendukung program pemerintah dalam penguatan ketahanan pangan lokal.
Eko berharap keberhasilan Gang 8 ini dapat menjadi role model bagi wilayah lain di Jakarta Timur maupun DKI Jakarta secara luas, agar semakin banyak kawasan kumuh atau pasif yang berubah menjadi lahan produktif nan asri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta