JAKARTA– Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan langkah-langkah antisipatif setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan partikel mikroplastik dalam air hujan di ibu kota. Partikel ini diduga berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, serta sisa pembakaran sampah plastik secara terbuka.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menekankan pentingnya tindakan berbasis data ilmiah untuk menghadapi polusi yang semakin kompleks.
“Kami telah bekerja sama dengan BRIN dan berbagai pihak terkait untuk memantau mikroplastik, termasuk di perairan Teluk Jakarta dan sungai-sungai utama,” ujarnya di Balai Kota Jakarta.
Asep menjelaskan, berbagai upaya pengendalian lingkungan terus dilakukan, seperti pengawasan industri, uji emisi kendaraan, kampanye pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, edukasi publik terkait pemilahan sampah, serta penerapan Pergub Nomor 142 Tahun 2019 mengenai kantong belanja ramah lingkungan.
Pemprov juga akan melanjutkan riset bersama BRIN, perguruan tinggi, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memantau kualitas air hujan dan menganalisis dampak mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat. Profesor BRIN, Muhammad Reza Cordova, menyampaikan bahwa penelitian menunjukkan mikroplastik terdeteksi dalam air hujan Jakarta dengan konsentrasi rata-rata 3–40 partikel per meter persegi per hari.
Partikel ini berasal dari berbagai aktivitas manusia, seperti penggunaan pakaian berbahan sintetis dan pembakaran sampah terbuka, yang juga melepaskan zat berbahaya ke udara.
Mikroplastik memiliki kemampuan menyerap zat lain, termasuk logam berat dan mikroorganisme, sehingga menjadi perhatian serius bagi kualitas udara. Fungsional Madya BMKG, Dwi Atmoko, menambahkan bahwa mikroplastik termasuk aerosol, yang bisa berpindah mengikuti arah angin dan pola cuaca, dan dapat jatuh ke permukaan melalui deposisi kering maupun basah.
Karena itu, penanganan mikroplastik harus dilakukan secara lintas wilayah dan sektor. Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono, mengingatkan bahwa partikel mikroplastik dapat menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan dan pencernaan, bahkan menembus aliran darah jika berukuran sangat kecil. Ia mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah, memperbaiki sirkulasi udara, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Sementara itu, Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta, Rian Sarsono, menekankan perlunya langkah kesiapsiagaan masyarakat berdasarkan temuan ilmiah. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga akan dioptimalkan tidak hanya untuk mitigasi banjir, tetapi juga membantu menurunkan polutan di udara, termasuk mikroplastik, melalui hujan sebagai mekanisme alami.
Baca juga: Pemprov DKI Pastikan Dana Rp14,6 Triliun Tersedia untuk Pembayaran Akhir Tahun
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta