JAKARTA- Koordinatoriat Wartawan Balaikota dan DPRD DKI Jakarta atau Balkoters kembali menggelar diskusi publik yang mengangkat tema besar: Transformasi Pasar Jakarta Menuju Kota Global. Acara yang berlangsung pada Rabu (24/9) ini mengupas peran strategis pasar dalam mendukung ekonomi kota dan daya saing Jakarta di level internasional.
Ketua Balkoters, Sammy Edward Watimena, menyampaikan bahwa pasar konvensional kini dihadapkan pada tantangan serius, terutama dengan pesatnya pertumbuhan e-commerce. Ia menyebut, keberadaan pasar bukan hanya soal jual beli, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas ekonomi dan budaya kota.
"Transformasi pasar menjadi krusial karena menyangkut satu dari lima dimensi utama kota global, yaitu aspek perekonomian dan bisnis," ujar Sammy. Acara menghadirkan narasumber kunci seperti Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta Suharini Eliawati, Dirut Perumda Pasar Jaya Agus Himawan, dan anggota DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga.
Transformasi Fisik & Digital Pasar Dirut Pasar Jaya, Agus Himawan, memaparkan bahwa dari 153 pasar di bawah pengelolaannya, 80 pasar kini sudah dalam kondisi baik. Sementara 34 pasar masih mengalami kerusakan dan sembilan lainnya tengah direnovasi. Sisanya berada dalam kondisi cukup baik. Menurut Agus, transformasi pasar tidak hanya sebatas renovasi fisik.
Pihaknya juga terus memperluas digitalisasi dan modernisasi layanan. Sepanjang tahun 2024, Pasar Jaya telah menerapkan sistem pembayaran biller payment provider (BPP) di 30 pasar dan QRIS di 57 pasar. Promosi digital kios juga dilakukan di beberapa titik, serta pembangunan sarana olahraga seperti lapangan bulutangkis dan futsal di 19 pasar.
Untuk 2025, sejumlah pasar ditargetkan untuk revitalisasi menggunakan dana penyertaan modal daerah (PMD), seperti Pasar Kombongan, Kwitang Dalam, Gandaria, hingga Petojo Enclek. Enam pasar lainnya direncanakan bekerja sama dengan mitra swasta dalam proses revitalisasi. Selain itu, Pasar Jaya juga menyiapkan pembangunan pengolahan sampah mandiri di Pasar Induk Kramat Jati dan tengah membahas konsep hunian terintegrasi (TOD) di kawasan Pasar Minggu, bekerja sama dengan Kementerian PUPR.
Pasar sebagai Destinasi Ekonomi & Wisata Suharini Eliawati menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong penguatan pasar konvensional agar mampu bersaing dengan pasar digital. Ia menekankan, nilai tambah dari pasar tradisional terletak pada interaksi sosial yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
"Proses tawar-menawar langsung antara penjual dan pembeli adalah kekuatan pasar konvensional. Ini jadi ciri khas yang justru perlu dirawat," ungkap Eli.
Pemprov DKI juga tengah menyiapkan konsep kawasan pasar sebagai destinasi wisata baru. Salah satu kawasan yang sedang dikembangkan adalah Pasar Baru, yang akan diintegrasikan dengan kawasan Lapangan Banteng, Pos Bloc, Gedung Kesenian Jakarta, Masjid Istiqlal, dan Gereja Katedral. "Kami ingin kawasan ini menjadi magnet baru bagi warga dan wisatawan. Pengembangan pasar tidak hanya fokus pada ekonomi, tapi juga menghidupkan kembali nilai sejarah dan budaya Jakarta," tandasnya.
Baca juga: Gairahkan Ekonomi, Gubernur Pramono Umumkan Pembebasan dan Pengurangan Pajak Daerah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta