JAKARTA- Penurunan ini terjadi karena pasar sedang bersikap wait and see terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Berdasarkan konsensus, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 5,25 persen, usai sempat diturunkan sebesar 25 basis poin pada Juli lalu.
Meski inflasi sempat naik hingga 2,37 persen secara tahunan pada Juli, angkanya masih berada dalam target BI di kisaran 1,5–3,5 persen.
Hal ini memberi ruang bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga di masa mendatang jika kondisi tetap stabil.
Dari luar negeri, investor turut mencermati langkah bank sentral China yang kemungkinan tetap mempertahankan Loan Prime Rate masing-masing di 3 persen (1 tahun) dan 3,5 persen (5 tahun), guna mendukung pemulihan ekonomi mereka.
Di sisi lain, data inflasi Inggris untuk Juli 2025 diprediksi naik menjadi 3,7 persen secara tahunan, tertinggi sejak Januari 2024, yang turut mempengaruhi sentimen global.
Pada perdagangan hari ini, IHSG sempat dibuka menguat, tapi perlahan melemah hingga sesi kedua.
Berdasarkan data BEI, sektor industri mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 1,81 persen, sementara sektor infrastruktur mengalami penurunan terdalam sebesar 0,41 persen.
Di pasar saham, BEER, KBLV, MAYA, CSIS, dan ASLC menjadi top gainers, sedangkan INPP, AMMS, ZYRX, AREA, dan ARTA masuk daftar top losers.
Total transaksi hari ini mencapai Rp18,55 triliun dari 40 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 2,17 juta kali.
Di bursa Asia, mayoritas indeks juga bergerak melemah. Nikkei turun 0,33 persen, Shanghai turun tipis 0,02 persen, dan Hang Seng melemah 0,21 persen. Sementara itu, indeks Straits Times menguat 0,69 persen.
Baca juga: Perpusnas Kirim 5 Wakil ke Panggung Dunia, Bicara Literasi di Kazakhstan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA