JAKARTA – Ada satu kenangan yang masih kuat dalam ingatan Aji Santoso ketika berbicara soal almarhum IGK Manila: pagi-pagi buta, jam lima, pintu kamar digedor.
“Padahal kita latihan masih jam tujuh, tapi beliau udah bangunin semua pemain sejak subuh. Gak ada yang boleh telat, gak ada yang bisa malas-malasan,” kata Aji, mengenang peristiwa lebih dari tiga dekade lalu.
IGK Manila, yang kala itu menjabat sebagai manajer tim nasional Indonesia di ajang SEA Games 1991 di Manila, dikenal sebagai figur disiplin sangat khas dengan latar belakang militernya.
Tapi di balik sikap tegasnya, Aji melihat sosok yang rendah hati dan tulus mencintai sepak bola. “Beliau bukan cuma keras, tapi juga perhatian.
Kalau udah urusan timnas, totalitasnya gak main-main,” ujar pelatih Persela Lamongan itu. Meski beberapa tahun terakhir mereka jarang bertemu, Aji masih sempat mengirimkan video ucapan ulang tahun kepada Manila beberapa bulan sebelum kabar duka datang.
“Waktu itu saya di Malang, dan gak sempat ketemu langsung. Tapi sempat kirim video buat beliau,” kenangnya.
Indonesia saat itu berhasil meraih emas setelah mengalahkan Thailand prestasi yang baru bisa diulang lagi lebih dari 30 tahun kemudian, saat Indra Sjafri membawa tim Garuda Muda juara di SEA Games 2023 di Kamboja. Ironisnya, lawan yang dikalahkan waktu itu juga sama Thailand.
Baca juga: Dinas PPAPP DKI Buka Suara Soal Larangan Main Gim Roblox bagi Anak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA