JAKARTA- Matahari belum benar-benar tenggelam saat suara tepuk tangan memenuhi Anjungan Sarinah. Bukan karena konser besar, bukan pula karena selebriti.
Tapi karena seorang siswaFernando, namanya sedang membacakan puisi dengan Lantang danTanpa ragu yang berjudul Suara Kecil Harapan Bangsa.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, berdiri tak jauh dari panggung. Ia tersenyum, lalu bilang begini, “Inilah Jakarta yang saya bayangkan. Kota yang kasih ruang buat anak-anaknya berimajinasi.”
Hari itu, acara bertajuk Ruang Seni Siswa memang digelar untuk merayakan Hari Anak Nasional. Tapi maknanya lebih dalam dari sekadar perayaan.
Buat Pramono, ini langkah kecil menuju Jakarta yang lebih manusiawi. Dia cerita, pemerintah provinsi udah buka sejumlah taman kota selama 24 jam.
Biar warga, terutama anak muda, punya tempat untuk mengekspresikan diri. Bukan tempat tawuran. Bukan tempat buang waktu.
Tapi ruang terbuka yang bisa jadi panggung siapa saja.
“Nggak perlu mobil curhat,” katanya. “Cukup kasih tempat seperti ini, anak-anak pasti akan menyalurkan energinya ke hal positif.”
Dinas Pendidikan, lewat Kepala Dinas Nahdiana, ikut mendukung penuh.
Hari itu, lebih dari seribu pelajar tampil di berbagai taman dari Menteng, Langsat, sampai Tebet Eco Park. Ada musik, tari, pantomim, bahkan marching band.
Yang menarik, semuanya dilakukan tanpa setting mewah. Justru karena itu terasa tulus.
Jakarta seperti mengajak bicara: “Gue dengerin, kok. Gue kasih tempat buat lo bersuara.” Dan mungkin, itulah yang dibutuhkan kota ini sekarang. Bukan lagi beton dan gedung tinggi. Tapi ruang kecil yang memberi harapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA