Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 24 SEPTEMBER 2025 • 18:14 WIB

Warna-warni Seni Religi di Pulau Pramuka: Semangat, Suara, dan Silaturahmi

Warna-warni Seni Religi di Pulau Pramuka: Semangat, Suara, dan SilaturahmiLomba Seni Nuansa Religi (Anita Karyati)

JAKARTA— Hari itu, langit Pulau Pramuka cerah. Angin laut membawa suara riuh alat musik dan lantunan salawat dari panggung sederhana di Plaza Kabupaten. Bukan festival besar-besaran, tapi atmosfernya lebih dari cukup untuk bikin merinding.

Sebanyak 243 peserta dari 23 grup seni religi tampil satu per satu. Mereka datang dari enam kelurahan yang tersebar di Kepulauan Seribu, membawa semangat dan kebanggaan kampungnya masing-masing.

Di antara sorak sorai penonton, Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, berdiri dan membuka acara dengan senyum lebar.

Ia gak banyak berpidato hanya menyampaikan harapan sederhana: agar seni religi tetap hidup dan terus tumbuh di tengah masyarakat kepulauan.

"Tahun kemarin kita juara Qasidah di tingkat provinsi, itu bukti kita bisa. Tahun ini semoga lebih semangat, lebih percaya diri," ucapnya, sambil sesekali melirik ke arah peserta yang tampak gugup menunggu giliran tampil.

Buat sanggar-sanggar yang ikut, ini lebih dari sekadar lomba. Ini ajang pembuktian — bahwa meski jauh dari pusat kota, kreativitas warga Kepulauan Seribu gak pernah padam.

Harry Dwirendra, Kepala Suku Dinas Kebudayaan setempat, bilang kalau lomba ini udah rutin tiap tahun. Bukan cuma ajang unjuk gigi, tapi juga ruang aman buat anak muda berlatih, tampil, dan belajar kerja sama. “Ada Hadroh, Marawis, sama Qasidah tahun ini. Totalnya 16 sanggar ikut.

Yang menang, nanti kita bawa ke tingkat provinsi,” jelas Harry, sambil mencatat nama-nama grup yang tampil. Di belakang panggung, ada Halimah. Usianya belum genap dua puluh. Ia dan grupnya dari sanggar Mutiara Al Munaroh lagi bersiap tampil mewakili Pulau Harapan.

Mukanya tegang tapi matanya nyala. “Deg-degan banget, tapi insya Allah kami kasih yang terbaik. Kalau belum rezeki menang, ya latihan lagi. Yang penting bisa tampil di sini aja udah senang banget,” katanya, sambil memperbaiki hijab rekan satu timnya.

Teriakan dukungan dari keluarga, guru, dan warga sekitar terus menggema. Mungkin gak semua peserta pulang bawa piala. Tapi semua pulang bawa cerita tentang kerja keras, tawa di sela latihan, dan kebanggaan tampil membawakan seni dari tanah sendiri.

Baca juga: Pengawasan Pangan di Enam Pasar Tradisional Jakarta Timur, Semua Aman

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Jakarta

BERITA TERBARU

Warna-warni Seni Religi di Pulau Pramuka: Semangat, Suara, dan Silaturahmi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!