Kamis, 22 JANUARI 2026 • 10:54 WIB

Mengenal Bandara Kemayoran di Jakarta: Jejak Kejayaan Penerbangan Pertama RI yang Kini Terlupakan

Author

Ilustrasi Bandara Kemayoran dari dalam pesawat (alchetron.com)

JAKARTA - Jika kamu melintasi kawasan Jakarta Pusat, khususnya di sekitar area Pekan Raya Jakarta (PRJ), kamu mungkin tidak menyadari bahwa tanah yang sedang kamu pijak menyimpan sejarah besar bagi dunia penerbangan Indonesia.

Jauh sebelum Bandara Soekarno-Hatta menjadi gerbang utama nusantara, dan sebelum Halim Perdanakusuma sibuk melayani penerbangan militer dan VIP, Jakarta memiliki satu kebanggaan bernama Bandara Kemayoran.

Sebagai bandara internasional pertama di Indonesia, tempat ini pernah menjadi saksi bisu kejayaan dirgantara tanah air yang kini sisa-sisa kemegahannya mulai terlupakan oleh generasi muda.

Gerbang Dunia yang Pernah Disinggahi Maskapai Raksasa

Ilustrasi Bandara Kemayoran di Tahun 1940-an (Star Magazine)

Mungkin sulit bagi kamu untuk membayangkan bahwa di tengah padatnya pemukiman dan gedung bertingkat di Kemayoran saat ini, dahulu pernah mendarat pesawat-pesawat berbadan lebar dari berbagai penjuru dunia.

Sejak resmi beroperasi penuh pada tahun 1940, Bandara Kemayoran menjadi hub sibuk yang menghubungkan Indonesia dengan kota-kota besar di Eropa dan Asia. Reputasi bandara ini sangat mentereng pada masanya.

Baca juga: Mengenal Tari Vaganza: Ikon Baru Budaya Kepulauan Seribu yang Memikat Hati Wisatawan

Deretan maskapai legendaris dunia tercatat pernah membuka rute penerbangan dari dan ke bandara ini.

Kamu bisa membayangkan betapa sibuknya apron bandara saat itu yang diisi oleh burung besi milik Aeroflot dari Rusia, British Airways dari Inggris, hingga Japan Airlines yang membawa tamu dari Negeri Sakura.

Tidak ketinggalan, maskapai asal Belanda, KLM, dan maskapai Jerman, Lufthansa, juga menjadi pelanggan tetap landasan pacu Kemayoran.

Kehadiran maskapai-maskapai kelas kakap ini membuktikan betapa strategisnya posisi Jakarta di mata dunia internasional pada pertengahan abad ke-20.

Bandara ini bukan sekadar tempat transit, melainkan simbol modernitas Indonesia yang baru merdeka.

Abadi dalam Komik Legendaris Adventure of Tintin

Adventure of Tintin Flight 714 to Sydney (imdb.com)

Ketenaran Bandara Kemayoran tidak hanya tercatat dalam buku sejarah penerbangan, tetapi juga abadi dalam budaya populer dunia.

Bagi kamu penggemar komik petualangan, pasti sudah tidak asing dengan karakter wartawan berjambul, Tintin.

Dalam salah satu seri komiknya yang berjudul Flight 714 to Sydney atau Penerbangan 714 ke Sydney, sang kreator Herge secara spesifik menggambarkan Bandara Kemayoran sebagai tempat transit Tintin dan kawan-kawannya.

Dalam panel komik tersebut, Hergé menggambar dengan sangat detail suasana bandara, mulai dari menara Air Traffic Control (ATC) yang ikonik hingga papan nama "Kemajoran" yang khas.

Hal ini menjadi bukti otentik bahwa bandara ini memiliki reputasi global yang kuat hingga menarik perhatian seorang komikus Belgia.

Adegan pendaratan Tintin di Jakarta untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan ke Sydney menjadi kenangan manis bahwa infrastruktur Indonesia pernah menjadi bagian dari cerita yang dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Baca juga: Menyingkap Pesona Rumah Kebaya: Ikon Arsitektur Betawi yang Sarat Filosofi Keterbukaan

Dari Landasan Pacu Menjadi Jalan Raya

Jalan Haji Benyamin Sueb (upload.wikimedia.org)

Sayangnya, pertumbuhan kota Jakarta yang begitu pesat membuat posisi bandara di tengah kota menjadi tidak lagi ideal.

Faktor keselamatan penerbangan dan kebutuhan pengembangan tata kota memaksa pemerintah untuk memindahkan operasional penerbangan komersial ke Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng pada pertengahan tahun 1980-an.

Sejak saat itu, Bandara Kemayoran resmi berhenti beroperasi, namun jejak fisiknya tidak sepenuhnya hilang melainkan bertransformasi.

Jika kamu pernah melewati Jalan H. Benyamin Sueb yang sangat lebar dan lurus di kawasan Kemayoran, kamu sebenarnya sedang berkendara di atas bekas landasan pacu utama bandara tersebut.

Aspal yang dulunya menahan beban roda pesawat jet kini berganti menahan laju kendaraan bermotor warga Jakarta.

Transformasi dari runway menjadi jalan raya ini menjadikan Jalan Haji Benyamin Sueb sebagai salah satu jalan dengan struktur terlebar dan terkokoh di Jakarta.

Meskipun aktivitas penerbangan sudah lama mati, kamu masih bisa menemukan sisa-sisa kejayaan masa lalu di beberapa titik.

Bangunan yang paling mencolok dan masih berdiri kokoh hingga hari ini adalah menara ATC pertama di Asia Tenggara yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Baca juga: Cari Pelarian di Tengah Padatnya Kerjaan? 5 Tempat Hiburan Malam dengan Rating Tertinggi di Jakarta yang Bikin Kamu Seger Lagi!

Menara ini berdiri tegak di antara gedung-gedung apartemen modern, seolah menolak untuk dilupakan. 

Selain itu, ruang tunggu VIP yang dulunya sering disinggahi tamu negara juga masih tersisa dengan relief-relief artistik karya seniman Indonesia.

Mengunjungi kawasan ini bukan hanya jalan-jalan, melainkan sebuah perjalanan waktu untuk mengenang kembali gerbang pertama yang membuka Indonesia kepada dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU