Ilustrasi Weltevreden Sekitar Tahun 1900an (Indonesiana by Tempo)
JAKARTA - Saat menelusuri jejak sejarah ibu kota, apakah kamu familiar dengan nama Weltevreden?
Pada zaman dahulu, kawasan bersejarah yang satu ini memegang peran krusial sebagai titik utama kehidupan sosial sekaligus pusat administrasi Hindia Belanda.
Nama Weltevreden sendiri diserap dari bahasa Belanda yang artinya “sepenuhnya puas”. Makna yang indah ini menjadi cerminan nyata dari suasana eksklusif dan nyaman di masa kejayaannya.
Jika ditinjau secara geografis, wilayah ini mencakup beberapa area yang kini kita kenal sebagai pusat perbelanjaan Pasar Baru, Lapangan Banteng, serta Jalan Veteran yang pada masa itu bernama Rijswijk.
Sejak akhir abad ke-18, Pemerintah Kolonial Belanda mengembangkannya secara bertahap. Hal ini dilakukan karena wilayah utara Kota Tua di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa dinilai terlalu padat dan tidak sehat.
Baca juga: Menolak Punah! Mengenang 5 Kuliner Khas Betawi yang Kian Langka dan Tergeser Modernisasi
Akibat sanitasi buruk dan ancaman wabah penyakit, penguasa Eropa mencari lokasi baru yang lebih bersih. Wilayah selatan Batavia dengan udara segar menjadi pilihan untuk pemukiman elit pejabat.
Weltevreden pun tumbuh pesat sebagai pusat administrasi. Infrastruktur dibangun besar-besaran di masa Gubernur Jenderal Daendels (1808–1811).
Ia memprakarsai gedung monumental seperti Istana Weltevreden (kini RSPAD Gatot Subroto), merintis Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan, serta membangun Waterlooplein yang sekarang bernama Lapangan Banteng.
Weltevreden tak hanya berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan, melainkan tumbuh menjadi pusat kehidupan sosial bagi kaum elit Belanda.
Kawasan ini pernah dihiasi oleh bangunan-bangunan bersejarah yang megah seperti Gedung Kesenian Jakarta, Gereja Immanuel, dan Hotel des Indes.
Sebagai akomodasi paling mewah, Hotel des Indes kerap menjadi tempat menginap bagi tamu-tamu kehormatan serta menjadi lokasi penting untuk berbagai pertemuan politik, walaupun kini seluruh bangunan fisiknya telah rata dengan tanah.
Daya tarik utama dari kawasan mewah ini terletak pada ketersediaan ruang terbuka hijau yang sangat luas, termasuk Lapangan Banteng yang dahulu digunakan sebagai tempat utama parade militer serta perayaan hari besar bagi masyarakat kolonial.
Warga Batavia juga kerap memanfaatkan taman-taman asri di sekitarnya sebagai lokasi favorit untuk berekreasi di akhir pekan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesiana By Tempo