Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan (Reza Pratama Putra/Berita Jakarta)
JAKARTA - Pernah kebayang nggak kalau tempat nongkrong favorit kamu di Jakarta Selatan dulunya adalah pasar burung yang super padat?
Kalau kamu sering main ke kawasan Blok M akhir-akhir ini pasti sudah nggak asing dengan Taman Bendera Pusaka.
Ruang terbuka hijau raksasa satu ini sekarang menjelma jadi spot paling hits buat warga ibu kota yang butuh pelarian udara segar.
Tapi, siapa sangka kalau taman estetik ini punya riwayat sejarah yang panjang serta proses transformasi penuh drama dari masa ke masa.
Artikel ini bakal ngebahas tuntas asal mula terbentuknya lahan ini sampai akhirnya berubah menjadi area hijau kekinian yang wajib banget kamu kunjungi bareng teman akhir pekan ini.
Jauh sebelum disatukan menjadi satu kawasan raksasa seperti sekarang, wilayah ini awalnya terdiri dari tiga taman terpisah yaitu Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Leuser.
Baca juga: Menelusuri Jejak Pekojan, Kampung Arab Pertama di Jakarta yang Menyimpan Sejarah Panjang
Ketiga lahan ini lahir dari desain tata kota Kebayoran Baru yang sejak awal dirancang khusus sebagai kota taman.
Pembangunan wilayah selatan ini mulai dikembangkan secara masif pasca Perang Dunia Kedua tepatnya saat perang kemerdekaan ketika Jakarta masih dikuasai oleh Belanda.
Konsep utamanya adalah menciptakan kota mandiri terencana yang terpisah dari Batavia kuno.
Pemerintah saat itu sengaja mendominasi tata ruangnya dengan ruang terbuka hijau yang berfungsi krusial sebagai kawasan resapan air demi mencegah banjir.
Perjalanan paling berliku dialami oleh Taman Ayodya yang pada zaman dahulu dikenal luas masyarakat sebagai Taman Barito.
Pada tahun 1970 Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin meresmikan tempat ini menjadi sentra pasar bunga dan ikan hias.
Lahan bagian depan taman dipenuhi kios pedagang yang secara otomatis menutup cantiknya pemandangan asri dari arah jalan raya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber