Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu (Ancol.com)
JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bahwa di balik pasir putih dan deburan ombak yang menenangkan di salah satu resor terpopuler Kepulauan Seribu, tersimpan sebuah sejarah kelam yang mungkin membuat bulu kuduk merinding?
Saat ini, kita mengenalnya sebagai tempat yang indah dan romantis, namun ratusan tahun lalu, pulau ini adalah tempat terakhir yang ingin dikunjungi oleh siapa pun.
Transformasi nama dan fungsi pulau ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan sebuah upaya besar untuk mengubur masa lalu yang penuh dengan penderitaan dan isolasi.
Mari kita telusuri jejak sejarah bagaimana "Pulau Sakit" bermetamorfosis menjadi "Pulau Bidadari" yang mempesona.
Jauh sebelum wisatawan datang untuk berfoto ria atau menikmati staycation, pulau ini memiliki reputasi yang sangat menakutkan pada abad ke-17.
Pada masa kolonial Belanda atau era VOC, pulau ini dikenal dengan nama Pulau Purmerend.
Namun, penduduk lokal dan masyarakat Batavia kala itu lebih mengenalnya dengan sebutan yang membuat gentar, yaitu Pulau Sakit.
Penamaan ini bukan tanpa alasan yang kuat. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda memfungsikan pulau ini sebagai tempat karantina khusus bagi penderita penyakit kusta atau lepra.
Mereka yang terjangkit penyakit menular ini diasingkan jauh dari pusat kota Batavia agar tidak menulari penduduk lainnya.
Selain berfungsi sebagai rumah sakit alam yang terisolasi, Pulau Purmerend juga memegang peranan vital dalam strategi militer Belanda.
Di pulau inilah didirikan benteng pertahanan yang kokoh serta menara pengawas yang dikenal sebagai Benteng Martello.
Keberadaan benteng ini difungsikan untuk menunjang aktivitas militer di pulau tetangganya, Pulau Onrust, yang merupakan galangan kapal sibuk milik VOC.
Jadi, selama berabad-abad, citra yang melekat pada pulau ini hanyalah tentang penyakit, penderitaan, dan kesiagaan militer yang kaku.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber