Keluarga Besar Pramuka UNJ Ziarah di Pusara Husen Mutahar (Rizky Pujianto/UNJ)
JAKARTA - Pernahkah kamu merinding saat menyanyikan lagu "Syukur" atau merasa penuh semangat saat melantunkan "Hari Merdeka" di momen perayaan 17 Agustus?
Lagu-lagu legendaris yang menggetarkan jiwa nasionalisme tersebut adalah buah karya sosok luar biasa, H. Mutahar atau lengkapnya Sayyid Muhammad Husen Mutahar.
Untuk menghormati sekaligus mengapresiasi jasa besarnya bagi ibu pertiwi, pimpinan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama keluarga besar Pramuka UNJ dan DKI Jakarta baru saja menggelar ziarah serta doa bersama di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada Minggu (19/4/2026).
Kegiatan khidmat ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan tonggak awal yang menguatkan langkah pengusulan almarhum Husen Mutahar sebagai Pahlawan Nasional.
Kegiatan yang berlangsung penuh keharuan ini menjadi momentum krusial bagi berbagai elemen pendidikan dan kepemudaan untuk menegaskan komitmen kolektif mereka.
Baca juga: Gebrakan Cerdas UNJ Gandeng UKM Malaysia Demi Tembus Peringkat Kampus Top Kelas Dunia!
Rektor UNJ, Prof. Komarudin, yang turut hadir memimpin rombongan menyampaikan apresiasi mendalam kepada keluarga besar gerakan Pramuka UNJ.
Inisiatif untuk memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi Husen Mutahar dinilai sebagai langkah yang sangat tepat secara historis maupun moral.
“Saya mengapresiasi keluarga besar Pramuka UNJ yang menginisiasi mengusulkan almarhum sebagai Pahlawan Nasional sesuai peraturan yang ada. Kami juga memohon dukungan dari seluruh elemen Pramuka agar ikhtiar ini dapat terwujud,” tegas Prof. Komarudin.
Ia menekankan bahwa ziarah ini adalah simbol kesadaran historis untuk terus mengingat jasa-jasa almarhum bagi pembentukan karakter bangsa.
Jika kamu menelusuri sejarah, Husen Mutahar bukan hanya seorang komponis ulung.
Ia adalah tokoh penting di balik lahirnya Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dan figur teladan dalam gerakan kepramukaan di Indonesia.
Rektor UNJ mengingatkan kembali bahwa warisan beliau tetap hidup dalam ingatan kolektif kita.
Karya-karya monumental seperti lagu Syukur, Hari Merdeka, Dirgahayu Indonesia, hingga Hymne Pramuka terus menjadi medium efektif yang menyatukan bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Universitas Negeri Jakarta