Selasa, 21 JULI 2026 • 18:25 WIB

Menolak Punah! Mengenang 5 Kuliner Khas Betawi yang Kian Langka dan Tergeser Modernisasi

Author

Selada Pengantin (Seni Budaya Betawi)

JAKARTA - Saat ini, sudut-sudut Jakarta ramai dihiasi oleh restoran modern dan berbagai kafe estetik.

Perkembangan ibu kota yang telah melaju pesat lambat laun mengikis ingatan kita terhadap akar budaya asli setempat, termasuk kuliner khas Betawi yang kian terpinggirkan.

Di tengah kepungan tren makanan kekinian yang datang silih berganti, jajaran hidangan tradisional kini justru semakin langka dan jarang dijumpai.

Padahal, setiap resepnya menyimpan nilai sejarah mendalam serta limpahan cita rasa rempah yang tinggi.

Dalam artikel ini, kamu akan diajak menelusuri sekaligus bernostalgia dengan lima kuliner legendaris Betawi yang patut kita jaga kelestariannya agar tetap lestari melintasi zaman.

Baca juga: Mengenal Kerak Telor: Kuliner Legendaris Betawi yang Penuh Filosofi dan Makna Mendalam

1. Dodol Betawi 

Pembuatan dodol Betawi terkenal sangat rumit serta memerlukan waktu hingga berjam-jam.

Meskipun bahan utamanya tergolong sederhana seperti ketan, gula merah, santan, dan kelapa parut, kombinasi tekstur kenyal dan rasa legitnya memberikan keistimewaan tersendiri saat disantap. 

Dulu, hidangan manis ini menjadi sajian wajib dalam perayaan Idul Fitri maupun pesta pernikahan masyarakat setempat.

Namun, akibat proses pengolahan yang menuntut stamina prima karena adonan harus diaduk tanpa henti di atas tungku kayu, jumlah perajin dodol tradisional sekarang mengalami penurunan yang sangat signifikan.

2. Kue Ape

Bagi kamu yang lahir di tahun sembilan puluhan, jajanan SD satu ini tentu sudah sangat familiar, bukan?

Ciri khas utama dari adonan tepung beras dan gula ini adalah aroma pandannya yang begitu harum. 

Kue ape menyuguhkan perpaduan tekstur yang unik, yaitu renyah di bagian pinggiran serta lembut pada bagian tengahnya yang menonjol dan berbentuk bundar pipih.

Walaupun menawarkan cita rasa yang manis sekaligus gurih, keberadaan pedagang gerobak kue ape kini kian langka dan makin sulit dijumpai setiap hari di pasar tradisional maupun area sekitar sekolah di Jakarta.

3. Roti Buaya

Roti buaya sebenarnya memiliki peran yang jauh lebih mendalam daripada sekadar panganan biasa, yakni sebagai simbol krusial dalam prosesi perkawinan adat Betawi.

Kudapan berukuran besar dengan rupa menyerupai buaya ini membawa makna filosofis tentang kemapanan materi sang pria serta kesetiaan yang tak lekang oleh waktu. 

Menggunakan bahan-bahan pokok yang serupa dengan roti manis pada umumnya, hidangan tradisional ini sengaja diolah agar memiliki karakteristik tekstur yang jauh lebih padat.

Meski nilai simbolisnya tetap dipertahankan secara turun-temurun dalam upacara sakral, roti ini terbilang sangat langka ditemukan di toko umum untuk konsumsi harian, hal inilah yang membuat keberadaannya kian bernilai eksklusif.

4. Asinan Betawi

Berbeda dari varian buah di daerah lain, asinan Betawi menyajikan kombinasi sayuran segar berkhasiat.

Baca juga: Mengenal Selada Pengantin: Salad Khas Betawi Simbol Keberkahan yang Bikin Nagih!

Di dalamnya terdapat campuran kol, sawi, tauge, serta tahu putih, lalu diberi taburan kacang tanah goreng dan diguyur saus kacang bercita rasa asam, pedas, sekaligus gurih. 

Keberadaan kerupuk mie kuning yang ikonik memberikan tekstur garing penambah selera.

Kendati menawarkan kesegaran alami serta nutrisi tinggi, kudapan tradisional ini kian terdesak oleh kepopuleran hidangan modern seperti salad barat dan makanan instan lainnya.

5. Selada Pengantin

Bagi sebagian besar generasi modern, kuliner bernama selada pengantin mungkin terdengar asing.

Dahulu kala, hidangan lezat ini tergolong istimewa karena hanya dihadirkan dalam pesta pernikahan kalangan elite

Betawi. Sajian ini memadukan kesegaran daun selada, mentimun, irisan kentang rebus, telur, serta renyahnya kepingan emping.

Cita rasanya kian memikat setelah diguyur saus bumbu kacang yang dikombinasikan dengan cabai, ebi, dan sedikit cuka.

Kini, kelestarian kuliner lokal ini benar-benar terancam karena menunya sudah sangat sulit dijumpai di berbagai tempat makan di Jakarta.

Arus modernisasi memang menjadi hal yang tidak terelakkan bagi kota besar seperti Jakarta. Meski begitu, kita memikul tanggung jawab mulia untuk senantiasa melestarikan warisan para leluhur. 

Jangan sampai kelezatan lima makanan legendaris di atas kelak hanya menjadi cerita sejarah dalam buku bacaan bagi anak cucu kita tanpa pernah mereka rasakan sendiri.

Oleh karena itu, jangan ragu untuk segera membeli jika kamu beruntung menjumpai pedagang kecil yang masih menjajakannya.

Kepedulian sederhana yang kamu lakukan akan berdampak besar dalam menjaga kekayaan kuliner ibu kota dari kepunahan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Fimela

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU