Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 20:12 WIB

Asal-Usul Nama Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu: Benarkah untuk Menghapus Memori Kelam Masa Lalu?

Author

Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu (Ancol.com)

JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bahwa di balik pasir putih dan deburan ombak yang menenangkan di salah satu resor terpopuler Kepulauan Seribu, tersimpan sebuah sejarah kelam yang mungkin membuat bulu kuduk merinding?

Saat ini, kita mengenalnya sebagai tempat yang indah dan romantis, namun ratusan tahun lalu, pulau ini adalah tempat terakhir yang ingin dikunjungi oleh siapa pun.

Transformasi nama dan fungsi pulau ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan sebuah upaya besar untuk mengubur masa lalu yang penuh dengan penderitaan dan isolasi.

Mari kita telusuri jejak sejarah bagaimana "Pulau Sakit" bermetamorfosis menjadi "Pulau Bidadari" yang mempesona.

Jejak Sejarah Kelam sebagai Pulau Sakit dan Benteng Pertahanan

Jauh sebelum wisatawan datang untuk berfoto ria atau menikmati staycation, pulau ini memiliki reputasi yang sangat menakutkan pada abad ke-17.

Baca juga: Bosan Suasana Kerja Gitu-Gitu Aja? Berikut 5 Rekomendasi Coworking Space di Jakarta yang Bikin Mood Kamu Enjoy Seharian!

Pada masa kolonial Belanda atau era VOC, pulau ini dikenal dengan nama Pulau Purmerend.

Namun, penduduk lokal dan masyarakat Batavia kala itu lebih mengenalnya dengan sebutan yang membuat gentar, yaitu Pulau Sakit.

Penamaan ini bukan tanpa alasan yang kuat. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda memfungsikan pulau ini sebagai tempat karantina khusus bagi penderita penyakit kusta atau lepra.

Mereka yang terjangkit penyakit menular ini diasingkan jauh dari pusat kota Batavia agar tidak menulari penduduk lainnya.

Selain berfungsi sebagai rumah sakit alam yang terisolasi, Pulau Purmerend juga memegang peranan vital dalam strategi militer Belanda.

Di pulau inilah didirikan benteng pertahanan yang kokoh serta menara pengawas yang dikenal sebagai Benteng Martello.

Keberadaan benteng ini difungsikan untuk menunjang aktivitas militer di pulau tetangganya, Pulau Onrust, yang merupakan galangan kapal sibuk milik VOC.

Jadi, selama berabad-abad, citra yang melekat pada pulau ini hanyalah tentang penyakit, penderitaan, dan kesiagaan militer yang kaku.

Tidak ada sedikit pun gambaran tentang keindahan atau rekreasi yang terlintas di benak orang-orang pada zaman tersebut ketika mendengar nama pulau ini.

Transformasi Menjadi Destinasi Wisata pada Era 70-an

Angin perubahan mulai berhembus memasuki pertengahan abad ke-20, tepatnya sekitar awal tahun 1970-an.

Seiring dengan rencana pemerintah untuk mengembangkan potensi pariwisata di Kepulauan Seribu, pengelolaan pulau ini kemudian diserahkan kepada pihak swasta, yakni PT Seabreez. 

Pengelola baru ini menyadari bahwa untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara, mereka tidak bisa menjual sejarah kelam dan nama yang berkonotasi negatif.

Mustahil rasanya mengajak orang berlibur ke tempat yang bernama "Pulau Sakit". Oleh karena itu, diperlukan sebuah perombakan identitas secara total untuk mengubah wajah pulau ini.

Baca juga: Murtado Macan Kemayoran: Cerita Rakyat Legendaris Betawi, Cikal Bakal Julukan Persija Jakarta

Mengapa Nama "Bidadari" Jadi Pilihan?

Proses rebranding atau pergantian nama pun dilakukan. Nama "Pulau Bidadari" akhirnya dipilih untuk menggantikan nama Pulau Sakit atau Purmerend.

Pemilihan nama ini memiliki filosofi yang cukup mendalam dan strategis. 

Kata "Bidadari" diambil untuk menggambarkan keindahan alam pulau tersebut yang memukau layaknya sosok bidadari dari kayangan.

Nama ini diharapkan mampu menghapus stigma dan citra menyeramkan sebagai bekas tempat pembuangan penderita kusta yang telah melekat selama ratusan tahun.

Selain itu, inspirasi nama ini juga datang dari tren penamaan pulau-pulau wisata di sekitarnya yang menggunakan nama-nama cantik dan memikat, seperti Pulau Putri dan Pulau Nirwana.

Dengan menyelaraskan nama menjadi Pulau Bidadari, pengelola ingin menciptakan kesan bahwa pulau ini adalah bagian dari deretan surga tropis yang menawarkan kedamaian dan kecantikan, bukan lagi kesakitan. Strategi ini terbukti sangat ampuh.

Perlahan tapi pasti, ingatan masyarakat tentang Pulau Sakit mulai memudar, tergantikan oleh citra baru sebagai resor wisata yang eksklusif dan menawan.

Kondisi Terkini Pulau Bidadari 

Kini, usaha untuk mengubah nasib pulau tersebut telah membuahkan hasil yang manis.

Pulau Bidadari telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi unggulan di Kepulauan Seribu yang paling mudah diakses dari Marina Ancol. 

Meskipun namanya telah berubah total menjadi sangat indah, jejak sejarahnya tidak serta merta dihancurkan.

Justru, sisa-sisa peninggalan masa lalu seperti reruntuhan Benteng Martello kini menjadi daya tarik wisata sejarah yang eksotis, bersanding harmonis dengan fasilitas resor modern.

Kamu kini bisa menikmati liburan dengan perpaduan unik antara wisata alam dan wisata sejarah.

Berjalan di antara reruntuhan benteng tua sambil menikmati angin laut memberikan sensasi perjalanan waktu yang tidak bisa kamu temukan di pulau wisata lainnya.

Sejarah kelam masa lalu telah berhasil dibasuh, menyisakan cerita yang menarik untuk didengar sambil menikmati matahari terbenam.

Baca juga: 5 Stasiun Kereta Api Terbaik di Jakarta Pilihan Warganet, Fasilitasnya Juara!

Jadi, apakah kamu sudah siap untuk melihat langsung sisa benteng VOC dan menikmati keindahan pulau yang dulunya ditakuti ini?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU