Ilustrasi Murtado Macan Kemayoran (x.com/@TabloidBOLA via poskota.com)
JAKARTA - Pernahkah kamu berteriak lantang mendukung Persija Jakarta di stadion dengan sebutan "Macan Kemayoran"?
Julukan gagah ini bukan sekadar hiasan kata atau merek dagang semata, melainkan warisan berharga dari sosok nyata yang pernah hidup dan berjuang di tanah Jakarta.
Jauh sebelum hiruk-pikuk sepak bola modern mewarnai ibu kota, ada seorang pendekar yang namanya membuat gemetar para penjajah dan perampok, namun begitu dicintai oleh rakyat kecil.
Dialah Murtado, sang Macan Kemayoran yang asli. Mari kita telusuri jejak keberaniannya yang kini menjadi nyawa bagi semangat sepak bola Jakarta.
Murtado bukanlah tokoh fiktif yang lahir dari dongeng pengantar tidur. Ia adalah seorang pemuda yang tumbuh besar di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, pada masa penjajahan kolonial Belanda.
Baca juga: 5 Stasiun Kereta Api Terbaik di Jakarta Pilihan Warganet, Fasilitasnya Juara!
Lahir dari keluarga yang taat, Murtado dididik dengan sangat disiplin oleh ayahnya. Ia tidak hanya ditempa dengan ilmu agama yang kuat, tetapi juga dibekali dengan keahlian bela diri pencak silat yang mumpuni.
Meskipun memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata dan ilmu bela diri yang tinggi, Murtado dikenal sebagai pribadi yang sangat santun.
Ia memegang teguh filosofi ilmu padi, di mana semakin berisi maka ia akan semakin merunduk.
Alih-alih menjadi jagoan pasar yang gemar memeras pedagang, Murtado justru mendedikasikan hidupnya untuk melindungi kaum yang lemah.
Sikap rendah hati inilah yang membuatnya disegani oleh kawan maupun lawan di seluruh penjuru Batavia saat itu.
Situasi Kemayoran pada masa itu sangatlah mencekam. Rakyat hidup di bawah bayang-bayang ketakutan bukan hanya karena penjajah Belanda, tetapi juga akibat ulah gerombolan perampok yang dipimpin oleh seorang bandit bernama Warsa.
Gerombolan ini terkenal sadis dan tidak segan melukai warga demi merampas harta benda mereka.
Ketidakadilan semakin terasa karena aparat keamanan setempat yang dipimpin oleh Bek Lihun, seorang mandor bentukan Belanda, ternyata tidak memiliki nyali untuk menghadapi kekejaman Warsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber