Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 18:20 WIB

Murtado Macan Kemayoran: Cerita Rakyat Legendaris Betawi, Cikal Bakal Julukan Persija Jakarta

Author

Ilustrasi Murtado Macan Kemayoran (x.com/@TabloidBOLA via poskota.com)

JAKARTA - Pernahkah kamu berteriak lantang mendukung Persija Jakarta di stadion dengan sebutan "Macan Kemayoran"? 

Julukan gagah ini bukan sekadar hiasan kata atau merek dagang semata, melainkan warisan berharga dari sosok nyata yang pernah hidup dan berjuang di tanah Jakarta.

Jauh sebelum hiruk-pikuk sepak bola modern mewarnai ibu kota, ada seorang pendekar yang namanya membuat gemetar para penjajah dan perampok, namun begitu dicintai oleh rakyat kecil.

Dialah Murtado, sang Macan Kemayoran yang asli. Mari kita telusuri jejak keberaniannya yang kini menjadi nyawa bagi semangat sepak bola Jakarta.

Siapa Sosok Asli Murtado Sang Macan Kemayoran?

Murtado bukanlah tokoh fiktif yang lahir dari dongeng pengantar tidur. Ia adalah seorang pemuda yang tumbuh besar di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, pada masa penjajahan kolonial Belanda.

Baca juga: 5 Stasiun Kereta Api Terbaik di Jakarta Pilihan Warganet, Fasilitasnya Juara!

Lahir dari keluarga yang taat, Murtado dididik dengan sangat disiplin oleh ayahnya. Ia tidak hanya ditempa dengan ilmu agama yang kuat, tetapi juga dibekali dengan keahlian bela diri pencak silat yang mumpuni.

Meskipun memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata dan ilmu bela diri yang tinggi, Murtado dikenal sebagai pribadi yang sangat santun.

Ia memegang teguh filosofi ilmu padi, di mana semakin berisi maka ia akan semakin merunduk.

Alih-alih menjadi jagoan pasar yang gemar memeras pedagang, Murtado justru mendedikasikan hidupnya untuk melindungi kaum yang lemah. 

Sikap rendah hati inilah yang membuatnya disegani oleh kawan maupun lawan di seluruh penjuru Batavia saat itu.

Keberanian Melawan Tirani dan Kejahatan di Batavia

Situasi Kemayoran pada masa itu sangatlah mencekam. Rakyat hidup di bawah bayang-bayang ketakutan bukan hanya karena penjajah Belanda, tetapi juga akibat ulah gerombolan perampok yang dipimpin oleh seorang bandit bernama Warsa.

Gerombolan ini terkenal sadis dan tidak segan melukai warga demi merampas harta benda mereka.

Ketidakadilan semakin terasa karena aparat keamanan setempat yang dipimpin oleh Bek Lihun, seorang mandor bentukan Belanda, ternyata tidak memiliki nyali untuk menghadapi kekejaman Warsa.

Bek Lihun yang kewalahan dan takut kehilangan jabatannya akhirnya memutar otak.

Ia sadar bahwa satu-satunya orang yang memiliki kemampuan setara untuk menghentikan teror Warsa hanyalah Murtado.

Dengan rasa malu namun terdesak, Bek Lihun meminta bantuan sang pemuda santun tersebut untuk turun tangan menyelamatkan wajah hukum di Kemayoran dan mengembalikan rasa aman bagi penduduk.

Mendengar penderitaan rakyat yang terus-menerus diganggu, darah muda Murtado mendidih.

Ia menyanggupi permintaan tersebut bukan demi Bek Lihun atau pemerintah Belanda, melainkan demi ketenteraman tetangganya.

Baca juga: Sejarah dan Asal-Usul Gondangdia: Eks Kawasan Elite Belanda yang Kini Jadi Tempat Nongkrong Hits di Jakpus!

Puncak dari konflik ini terjadi ketika Murtado melacak keberadaan Warsa dan komplotannya hingga ke daerah Karawang.

Di sanalah terjadi pertempuran sengit yang melegenda. Warsa yang terkenal licin dan kejam mengerahkan segala kemampuannya untuk menjatuhkan Murtado.

Namun, berkat ketenangan dan keahlian silat yang matang, Murtado berhasil mematahkan setiap serangan Warsa. Sang bandit akhirnya takluk di tangan Murtado.

Tidak hanya mengalahkan pemimpin perampok tersebut, Murtado juga berhasil mengamankan kembali barang-barang hasil rampokan untuk dikembalikan kepada penduduk Kemayoran yang berhak.

Menolak Jabatan Demi Tetap Menjadi Rakyat Biasa

Kabar kemenangan Murtado segera sampai ke telinga para pejabat Belanda.

Mereka sangat terkesan dengan keberanian dan kemampuan Murtado dalam menumpas kejahatan yang bahkan tidak bisa diselesaikan oleh mandor mereka sendiri. 

Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah kolonial menawarkan posisi bergengsi kepada Murtado untuk menggantikan Bek Lihun dan menjadi pemimpin keamanan di wilayah Kemayoran.

Namun, di sinilah letak kebesaran hati seorang Murtado. Ia menolak mentah-mentah tawaran menggiurkan tersebut.

Baginya, berjuang membela kebenaran tidak memerlukan pangkat atau jabatan mentereng dari penjajah.

Ia memilih untuk tetap menjadi rakyat biasa, hidup berdampingan dengan masyarakat, dan menjaga kampungnya tanpa perlu menjadi kaki tangan kolonial.

Sikap non-kooperatif namun ksatria inilah yang semakin mengukuhkan namanya sebagai legenda abadi.

Warisan Semangat yang Mengalir dalam Identitas Persija Jakarta

Kisah heroik Murtado inilah yang menjadi cikal bakal mengapa julukan "Macan Kemayoran" disematkan kepada klub kebanggaan ibu kota, Persija Jakarta.

Julukan tersebut bukan sekadar simbol hewan yang garang, melainkan representasi dari nilai-nilai yang diwariskan oleh Murtado, yakni keberanian, ketangguhan, pembelaan terhadap kehormatan, dan dedikasi untuk kota tercinta.

Hingga hari ini, setiap kali Persija berlaga dan para suporter meneriakkan julukan tersebut, sesungguhnya mereka sedang menghidupkan kembali semangat juang Murtado.

Baca juga: Beasiswa Masa Depan Jakarta: Solusi Bantuan Biaya Kuliah dari BAZNAS untuk Mahasiswa DKI Jakarta

Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan digunakan untuk menindas, melainkan untuk menjaga marwah dan kehormatan.

Semangat pantang menyerah inilah yang diharapkan terus menyala di dada para pemain saat merumput di lapangan hijau.

Jika kamu merasa bangga dengan sejarah dan warisan budaya Betawi yang satu ini, jangan ragu untuk membagikan artikel ini kepada teman-temanmu sesama pecinta sepak bola dan sejarah Jakarta.

Mari kita jaga agar semangat sang Macan Kemayoran tidak pernah padam!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU