Tampak Luar Stasiun Gondangdia (Irvan Cahyo N/Wikipedia)
JAKARTA - "Cikini ke Gondangdia, ku jadi begini gara-gara dia." Siapa yang tidak familiar dengan penggalan lirik lagu yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu?
Lagu yang dipopulerkan Duo Anggrek pada tahun 2015 (viral di tahun 2023) ini memang sukses melambungkan kembali nama Gondangdia di kalangan anak muda.
Namun, tahukah kamu bahwa di balik popularitasnya sebagai lirik lagu atau nama stasiun kereta, kawasan ini menyimpan lapisan sejarah yang sangat tebal?
Gondangdia bukan hanya sebagai tempat transit, melainkan sebuah saksi bisu perkembangan kota Jakarta dari masa kolonial hingga metropolitan modern.
Bahkan, jauh sebelum menjadi tren di media sosial, kawasan ini sudah menjadi primadona bagi kaum elite di masa lalu.
Baca juga: Beasiswa Masa Depan Jakarta: Solusi Bantuan Biaya Kuliah dari BAZNAS untuk Mahasiswa DKI Jakarta
Ilustrasi Gondangdia di Zaman Belanda (senibudayabetawi.com)
Penamaan sebuah wilayah di Jakarta sering kali memiliki cerita yang simpang siur namun menarik untuk digali, tidak terkecuali dengan Gondangdia.
Hingga saat ini, belum ada satu versi tunggal yang mutlak mengenai dari mana nama ini berasal.
Namun, melansir senibudayabetawi.com, terdapat dua versi yang dipercaya oleh masyarakat dan sejarawan.
Versi pertama dan yang paling banyak diamini menyebutkan bahwa nama tersebut diambil dari nama sebuah pohon, yakni pohon gondang.
Konon, pada masa lampau kawasan ini masih berupa hutan dan rawa di mana pohon gondang tumbuh subur dan mendominasi lanskap wilayah tersebut.
Sementara itu, versi kedua menawarkan cerita yang sedikit berbeda dan mungkin terdengar lebih unik.
Beberapa sumber meyakini bahwa nama Gondangdia berasal dari sebutan untuk sejenis binatang air atau keong berukuran besar yang banyak ditemukan di sana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Senibudayabetawi.com