Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 09:11 WIB

Sejarah dan Asal-Usul Gondangdia: Eks Kawasan Elite Belanda yang Kini Jadi Tempat Nongkrong Hits di Jakpus!

Author

Tampak Luar Stasiun Gondangdia (Irvan Cahyo N/Wikipedia)

JAKARTA - "Cikini ke Gondangdia, ku jadi begini gara-gara dia." Siapa yang tidak familiar dengan penggalan lirik lagu yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu? 

Lagu yang dipopulerkan Duo Anggrek pada tahun 2015 (viral di tahun 2023) ini memang sukses melambungkan kembali nama Gondangdia di kalangan anak muda. 

Namun, tahukah kamu bahwa di balik popularitasnya sebagai lirik lagu atau nama stasiun kereta, kawasan ini menyimpan lapisan sejarah yang sangat tebal?

Gondangdia bukan hanya sebagai tempat transit, melainkan sebuah saksi bisu perkembangan kota Jakarta dari masa kolonial hingga metropolitan modern.

Bahkan, jauh sebelum menjadi tren di media sosial, kawasan ini sudah menjadi primadona bagi kaum elite di masa lalu.

Baca juga: Beasiswa Masa Depan Jakarta: Solusi Bantuan Biaya Kuliah dari BAZNAS untuk Mahasiswa DKI Jakarta

Menelusuri Jejak Nama Unik Gondangdia

Ilustrasi Gondangdia di Zaman Belanda (senibudayabetawi.com)

Penamaan sebuah wilayah di Jakarta sering kali memiliki cerita yang simpang siur namun menarik untuk digali, tidak terkecuali dengan Gondangdia.

Hingga saat ini, belum ada satu versi tunggal yang mutlak mengenai dari mana nama ini berasal.

Namun, melansir senibudayabetawi.com, terdapat dua versi yang dipercaya oleh masyarakat dan sejarawan.

Versi pertama dan yang paling banyak diamini menyebutkan bahwa nama tersebut diambil dari nama sebuah pohon, yakni pohon gondang. 

Konon, pada masa lampau kawasan ini masih berupa hutan dan rawa di mana pohon gondang tumbuh subur dan mendominasi lanskap wilayah tersebut.

Sementara itu, versi kedua menawarkan cerita yang sedikit berbeda dan mungkin terdengar lebih unik.

Beberapa sumber meyakini bahwa nama Gondangdia berasal dari sebutan untuk sejenis binatang air atau keong berukuran besar yang banyak ditemukan di sana.

Terlepas dari versi mana yang benar, kedua asal-usul ini menggambarkan bahwa sebelum menjadi hutan beton seperti sekarang, Gondangdia adalah kawasan alami yang rimbun dan basah.

Transformasi nama dari unsur alam menjadi sebuah toponimi wilayah menunjukkan betapa lekatnya hubungan masyarakat Betawi lawas dengan lingkungan di sekitar mereka.

Transformasi dari Markas Pengembang Belanda Menjadi Kawasan Elite

Memasuki era kolonial, wajah Gondangdia berubah total. Kawasan ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah pembangunan kawasan Menteng, yang dikenal sebagai kota taman pertama di Indonesia.

Jejak kolonialisme Belanda sangat terasa kental di sini, terutama dengan keberadaan kantor pengembang perumahan legendaris bernama N.V. de Bouwploeg.

Perusahaan inilah yang bertanggung jawab menyulap hutan dan kebun menjadi kawasan hunian mewah bagi warga Eropa dan kaum elite di Batavia.

Baca juga: Mengulik Potensi Jakarta Barat: "Hidden Gem" Ekonomi dan Wisata yang Wajib Kamu Tahu!

Pusat dari segala aktivitas pembangunan tersebut adalah sebuah gedung ikonik yang kini kita kenal sebagai bagian dari cagar budaya.

Gedung kantor N.V. de Bouwploeg dibangun dengan arsitektur Art Nouveau yang megah semasa pengembangan wilayah Menteng.

Namun, nasib gedung ini berputar seiring dengan pergolakan politik tanah air. Setelah Belanda angkat kaki dari Nusantara, fungsi gedung ini berubah drastis.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung yang dulunya mengurus properti orang kaya ini beralih fungsi menjadi markas besar Angkatan Laut Jepang.

Perjalanan gedung ini semakin dramatis ketika memasuki masa kemerdekaan, tepatnya di era pemerintahan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

Saat itu, gedung bekas De Bouwploeg tersebut dihibahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta dalam kondisi yang memprihatinkan.

Saking buruknya kondisi bangunan, sempat muncul wacana untuk menghancurkannya karena dianggap sudah tidak layak pakai.

Namun, takdir berkata lain. Rencana penghancuran itu batal berkat inisiasi dari Jenderal A.H. Nasution yang melihat potensi besar dari bangunan bersejarah tersebut.

Akhirnya, gedung tersebut diputuskan untuk diselamatkan, diperbaiki, dan dialihfungsikan menjadi tempat ibadah. Inilah cikal bakal berdirinya Masjid Cut Meutia yang kini berdiri megah.

Transformasi dari kantor pengembang real estat kolonial menjadi sebuah masjid adalah salah satu contoh paling unik dari adaptasi bangunan cagar budaya di Jakarta.

Kamu masih bisa melihat ciri khas arsitektur Belanda yang kental, seperti langit-langit tinggi dan ventilasi besar, meskipun fungsinya kini telah berubah total menjadi sarana keagamaan dan sosial.

Legenda Kuliner dan Pasar Gondangdia

Bicara soal Gondangdia tidak akan lengkap tanpa membahas sisi kuliner dan ekonominya. Sejak tempo dulu, kawasan ini sudah memiliki pusat perniagaan bernama Pasar Gondangdia.

Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli sayur-mayur, melainkan menjadi titik temu budaya dan kuliner. Di sinilah lahir salah satu legenda kuliner Jakarta, yaitu Gado-gado Boplo.

Banyak anak muda mungkin bertanya-tanya, dari mana asal kata "Boplo"? Ternyata, nama tersebut adalah pelafalan lidah lokal untuk kata "Bouwploeg".

Baca juga: Asal-Usul Nama 8 Kecamatan di Jakarta Barat: Dari Hutan Liar hingga Jejak Kolonial yang Mengejutkan

Karena lidah masyarakat pribumi saat itu sulit mengucapkan bahasa Belanda, nama perusahaan pengembang De Bouwploeg akhirnya terserap menjadi "Boplo".

Hingga kini, kuliner tersebut masih bertahan dan menjadi bukti nyata akulturasi budaya di kawasan Gondangdia.

Kawasan ini memang paket lengkap. Mulai dari sejarah arsitektur, transformasi fungsi bangunan yang dramatis, hingga warisan kuliner yang memanjakan lidah.

Jadi, saat kamu melintas di Stasiun Gondangdia atau mampir ke Masjid Cut Meutia, ingatlah bahwa kamu sedang berpijak di atas tanah yang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan paling bergengsi di Jakarta.

Jika kamu penasaran dengan sisa-sisa kemewahan Batavia tempo dulu, cobalah luangkan waktu akhir pekan ini untuk berjalan kaki menyusuri kawasan Gondangdia dan Menteng.

Jangan lupa untuk mencicipi kuliner legendarisnya agar pengalaman sejarahmu semakin terasa nyata!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Senibudayabetawi.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU